Menggugat Filsafat Modern (Perkenalan Amat Singkat dengan Gagasan Postmodern)

Dekonstrukcja-LEGO Philosophy - Sumber. Flickr ImageDekonstrukcja-LEGO Philosophy - Sumber. Flickr Image

Perjalanan ilmu sosial kerap diwarnai perdebatan-perdebatan sengit, bukan hanya tentang klaim-klaim teoretisnya, tetapi juga pada metode keilmuan yang dikembangkannya. Di Jerman misalnya, perdebatan soal metode ilmu sosial pernah beberapa kali mengemuka sebagai wacana publik yang panas dan melibatkan para ilmuwan sosial terkemuka pada saat itu, seperti Windleband, Dilthey, dan Max Weber. Perdebatan-perdebatan yang dikenal dengan istilah methodenstreit tersebut tampaknya masih belum mampu membawa ilmu sosial beranjak dari alam pikir positivistik, sampai akhirnya muncul perdebatan yang oleh publik Jerman dikenal dengan positivismunsstreit (perdebatan tentang positivisme) yang melibatkan Karl Popper dan Hans Albert di satu pihak, berhadapan dengan Adorno dan Habermas di pihak lain (Hardiman 2009:29–32).

Walaupun positivismunsstreit tak menghasilkan kata sepakat, tapi saat itu positivisme yang mendasari perkembangan teori-teori sosial modern mendapat serangan yang sangat sengit untuk pertama kalinya. Melalui perdebatan ini, publik ilmuwan sosial akhirnya memiliki alternatif lain di luar positivisme yang kala itu sangat hegemonik, bahkan hingga kini. Berbagai kritik terhadap positivisme yang dikemukakan Adorno dan Habermas dalam perdebatan itu kemudian dikenal sebagai cikal bakal perkembangan teori kritis (Franckfurt School).

Gelombang serangan berikutnya yang bahkan boleh dibilang sangat mematikan—walaupun tak pernah dapat “membunuh”—terhadap positivisme  dan modernitas datang dari para filosof yang kerap dikategorikan sebagai kaum posmodernis. Berbeda dengan kritik Habermas yang lebih dimaksudkan sebagai upaya melanjutkan proyek modernitas yang belum selesai atau menyelamatkan warisan pencerahan melawan mereka yang menggerogotinya (Magnis-Suseno 2004:4–5), gagasan-gagasan posmodernis boleh dibilang hendak menelanjangi modernitas sampai ke akar filosofisnya yang paling dalam.

Perkembangan modernisme diawali dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern dan teknologi yang muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi gereja pada abad pertengahan. Karenanya, karakteristik utama ilmu pengetahuan modern adalah cara berpikir rasional dan empiris. Bagi ilmu pengetahuan modern, tidak ada kebenaran selain yang berasal dari fakta empiris yang dapat dianalisis melalui rasionalitas kalkulatif (Hardiman 2009). Ilmu pengetahuan modern kemudian jatuh dalam saintisme. Karakter empiris, kalkulatif dan rasional inilah yang menandai perkembangan filsafat modern. Model kebenaran seperti ini ditolak oleh kaum postmodern. Bagi kaum posmo, apa yang disebut sebagai realitas empiris itu tak dapat dilepaskan dari permainan bahasa/teks. Bahasa mampu membentuk realitas, sehingga permainan bahasa akan dengan sendirinya memporak-porandakan pandangan orang tentang realitas.

Posmodernisme menolak klaim-klaim filsafat modern. Jika filsafat modern meyakini adanya kebenaran obyektif dan oleh karenanya final dalam teori-teorinya tentang masyarakat, maka para filosof posmodern justru sebaliknya. Derrida misalnya meyakini bahwa tidak pernah ada kebenaran final, karena kebenaran selalu beroperasi melalui bahasa dan bahasa hanya akan memiliki makna ketika dilihat dalam rentang makna-makna lain yang berbeda. Oleh sebab itu kebanaran akan terus mengalami penundaan karena aspek pembeda tidak pernah ada batasan. Inilah yang disebut oleh Derrida sebagai differance yang maknanya tidak ditemukan dalam kamus. Bagi Derrida, differance berarti membedakan dan menunda, untuk menjelaskan karakter kebenaran yang tidak pernah mencapai final karena selalu tertunda akibat tidak terbatasnya makna-makna kata lain sebagai faktor pembedanya (Al-Fayyadl 2005:85–88; Wattimena 2009).

Filsafat modern juga amat kuat diwarnai dengan logika oposisi biner yang membuat garis batas secara tegas atas dua hal yang bertentangan. Dalam logika ini, dua hal yang bertentangan tidak dapat berada di tempat yang sama dalam waktu yang bersamaan. Kita tidak dapat benar dan salah sekaligus. Logika ini ditolak oleh teori-teori postmodern.  Bagi teori-teori postmodern, apa yang semula bertentangan tak selalu benar-benar bertentangan. Besar dan kecil tidak mesti bertentangan. Pemaknaan atasnya sangat tergantung pada faktor pembeda. Besar akan menjadi kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar. Melalui permainan bahasa seperti ini, postmodern kerap menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai benar dan salah kerap menyembunyikan kepentingan manusia sebagai pencipta teks.

Demikianlah, melalui filsafat ilmu sosial, kita dapat memahami secara lebih kritis apa yang disebut sebagai realitas dan kebenaran. Gagasan-gagasan posmodernisme tentang apa itu realitas dan kebenaran telah membawa kemungkinan-kemungkinan baru yang sangat berguna bagi kemanusiaan. Filsafat modern yang meyakini adanya kebenaran tunggal sebagai konsekuensi cara berpikir obyektif dan bebas nilai mengandung potensi merusak bagi kemanusiaan karena hendak menunggalkan kebenaran. Posmodernisme menggugat ide penunggalan kebenaran ini sampai ke akar-akarnya untuk kemudian memberikan dasar-dasar bagi pluralisme yang akan sangat besar pengaruhnya bagi masa depan peradaban manusia.

Bacaan Lebih Lanjut

Al-Fayyadl, Muhammad. 2005. Derrida. Yogyakarta: LKiS.

Hardiman, Francisco Budi. 2009. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Penerbit Kanisius.

Magnis-Suseno, Franz. 2004. “75 Tahun Jurgen Habermas.” Majalan Basis, November.

Wattimena, Reza A. A. 2009. “Derrida dan Dekonstruksi « Rumah Filsafat.” Rumah Filsafat. Diambil 13 Desember 2012 (http://rumahfilsafat.com/2009/11/29/derrida-dan-dekonstruksi/).