Senja Bersama Cinta

Buku Sosiologi CintaBuku Sosiologi CintaBagi seniman CINTA adalah puncak moralitas
Bagi Sufi CINTA adalah suluk
Bagi Pejuang CINTA adalah revolusi
Bagi Rumi CINTA adalah Tuhan

Pendapat diatas menggambarkan bagaimana rumitnya menguraikan tentang esensi dan makna cinta. Membicarakan cinta ibarat menyelam ke dalam laut yang sangat dalam, serta mengarungi samudra yang tidak bertepi, atau seperti orang yang masuk ke dalam hutan kemudian tersesat yang kemungkinan sulit untuk ia temukan jalan pulang. Cinta adalah kata yang tidak akan mampu dan diurai secara menyeluruh, karena ia adalah inti bagi semua kehidupan. Cinta adalah gejala yang bersifat purbakala dan semua orang memiliki serta merasakan sengatannya. Sejarah cinta adalah sejarah tentang proses pencarian “diri individu” ke dalam “diri orang lain” yang melebur dalam “cinta”. Cinta adalah proses peleburan diri dengan orang yang kita cintai tanpa syarat dan ketentuan. Pencarian cinta adalah proses menemukan “kepingan hati” kita ke dalam “kepingan hati sang orang lain” dalam kalimat “saling mencintai”.

Ketika Agama Menjadi Alat Politik: Sebuah Telaah Fenomenologis

Confrontation - Sumber. Flickr ImageConfrontation - Sumber. Flickr ImagePerjumpaan agama dan politik kerap memunculkan banyak persoalan bagi kemanusiaan. Hal ini dikarenakan, melalui agama manusia hendak mengabsolutkan kekuasaan politiknya, dan sebaliknya, melalui politik manusia hendak mengabsolutkan kebenaran agamanya.

Jika dirunut, sikap semacam ini berkaitan dengan cara pandang modernisme yang hendak mengabsolutkan kebenaran tunggal. Melalui positivisme, ilmu-ilmu modern hendak menegaskan bahwa kebenaran itu bersifat obyektif dan oleh karenanya tunggal. Nalar positivis ini kemudian terbukti mendarah daging dalam cara berpikir manusia modern, termasuk dalam melihat ajaran agama. Bagi sebagian orang, adalah mungkin untuk sampai pada kebenaran absolut dalam agama, dan oleh karenanya maka pandangan keagamaan apapun yang berbeda akan dianggap sebagai pandangan yang melenceng dari kebenaran.

Menggugat Filsafat Modern (Perkenalan Amat Singkat dengan Gagasan Postmodern)

Dekonstrukcja-LEGO Philosophy - Sumber. Flickr ImageDekonstrukcja-LEGO Philosophy - Sumber. Flickr Image

Perjalanan ilmu sosial kerap diwarnai perdebatan-perdebatan sengit, bukan hanya tentang klaim-klaim teoretisnya, tetapi juga pada metode keilmuan yang dikembangkannya. Di Jerman misalnya, perdebatan soal metode ilmu sosial pernah beberapa kali mengemuka sebagai wacana publik yang panas dan melibatkan para ilmuwan sosial terkemuka pada saat itu, seperti Windleband, Dilthey, dan Max Weber. Perdebatan-perdebatan yang dikenal dengan istilah methodenstreit tersebut tampaknya masih belum mampu membawa ilmu sosial beranjak dari alam pikir positivistik, sampai akhirnya muncul perdebatan yang oleh publik Jerman dikenal dengan positivismunsstreit (perdebatan tentang positivisme) yang melibatkan Karl Popper dan Hans Albert di satu pihak, berhadapan dengan Adorno dan Habermas di pihak lain (Hardiman 2009:29–32).

Walaupun positivismunsstreit tak menghasilkan kata sepakat, tapi saat itu positivisme yang mendasari perkembangan teori-teori sosial modern mendapat serangan yang sangat sengit untuk pertama kalinya. Melalui perdebatan ini, publik ilmuwan sosial akhirnya memiliki alternatif lain di luar positivisme yang kala itu sangat hegemonik, bahkan hingga kini. Berbagai kritik terhadap positivisme yang dikemukakan Adorno dan Habermas dalam perdebatan itu kemudian dikenal sebagai cikal bakal perkembangan teori kritis (Franckfurt School).

Pilpres 2019, Filter Bubble dan Demokrasi Yang Terancam

Dua Pasangan Calon dalam Pilpres 2019Dua Pasangan Calon dalam Pilpres 2019Dulu saya berkata jika Jika Anda ingin memerdekakan masyarakat, yang Anda butuhkan hanya internet. Sekarang, saya percaya, untuk memerdekakan masyarakat, kita harus lebih dahulu memerdekakan internet, begitu pengakuan Wael Ghanim, salah satu inisiator Arab Spring, mengungkapkan kekecewaannya atas apa yang terjadi pada rakyat Mesir pasca revolusi yang dimulai sejak akhir 2010 lalu.

Setelah euforia revolusi berakhir, Mesir justru memasuki situasi politik yang berujung pada polarisasi tajam. Media sosial diyakini memiliki konstribusi besar memperparah keadaan dengan memfasilitasi beredarnya informasi palsu, rumor, ruang gema (echo chamber) dan kampanye kebencian. Media sosial menjadi kancah peperangan penuh kejahilan, kebohongan, dan kebencian (Ghonim 2015).

Para Pengikut Gerakan Massa: Menimbang Gagasan Eric Hoffer

Peserta Aksi Bela Islam 313 - Dok. Wikipedia IndonesiaPeserta Aksi Bela Islam 313 - Dok. Wikipedia IndonesiaEverything flows and nothing stays”, ujar Heraclitus, filosof Yunani Abad ke-5 SM (Microsoft 2005). Begitulah kira-kira hukum yang berlaku secara universal di dunia ini. Perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Perubahan sama pastinya dengan kematian. Segala aspek kehidupan manusia tidak pernah bisa mengelak dari hukum perubahan ini.

Sebagian besar perubahan berjalan secara alamiah atau terlihat alamiah, sementara perubahan lain harus dipaksakan agar dapat terwujud menjadi kenyataan. Hal ini karena suatu perubahan selalu bersifat sistemik, berimplikasi pada perubahan lain (Macionis 2008, 633), sehingga sebuah gerak berubah tak jarang menghendaki adanya perubahan tidak saja pada aspek-aspek kultural tapi juga struktural. Oleh sebab itu, bagi mereka yang tengah menikmati kemapanan—baik secara politik, ekonomi maupun kultural—perubahan adalah juga berarti ancaman bagi kekuasaan mereka. Sementara bagi kelompok/kelas yang tak ikut menikmati kemapanan, perubahan adalah jalan untuk mengubah nasib. Bagi kelompok ini, harapan untuk mengubah nasib dan keadaan adalah daya hidup yang mampu menggerakkan mereka untuk ikut serta dalam gerakan-gerakan sosial.

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru: