Membaca Budaya Populer: Film “They Live” dan Representasi Kritik Ideologi

They Live - Sumber. efichaliko.comThey Live - Sumber. efichaliko.com

Tulisan ini membedah bagaimana kritik ideologi dapat direpresentasikan secara baik melalui sebuah film dari Negeri Paman Sam berjudul They Live yang pertama kali dirilis pada tahun 1988. Film ini mengisahkan George Nada yang berjuang untuk melepaskan dirinya (dan mungkin juga seluruh umat manusia) dari dominasi alien berwujud manusia yang telah menginvasi bumi. Hal yang paling menarik dari film ini sejatinya terletak pada bagaimana George Nada berhasil mengungkap serangkaian dominasi yang dilakukan secara halus oleh para alien tersebut.

Pengentasan Kemiskinan

kemiskinan2kemiskinan2Fenomena kemiskinan bukan merupakan isu baru melainkan isu abadi sepanjang zaman, kasus yang selalu menarik untuk dikaji, terlebih lagi fenomena kemiskinan masih menjadi momok di tengah tengah masyarakat, tak hanya itu fenomena kemiskinan dalam berbagai tampilan telah memberikan dampak yang cukup begitu besar tak hanya berdampak pada individu, keluarga, sosial tetapi juga memberikan dampak juga pada negara, berbagai upaya untuk menanggulangi fenomena kemiskinan sudah banyak di upayakan oleh pemerintah serta para jajarannya, selain itu sangat keterlaluan jika masih ada fenomena kemiskinan di tengah-tengah kita di negara kita negara Indonesia kenapa karena Indonesia itu sebenarnya negara yang kaya negara yang kaya akan sumber daya alamnya, sumber daya manusianya, fenomena kemiskinan juga merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya negara serta pemerintah tapi juga masyarakatnya harus ikut serta dalam upaya pengentasan fenomena kemiskinan.

Agama Kota

Sebagaimana karakteristik masyarakat urban, relijiusitas di kalangan kaum urban juga manampakkan ciri khas perkotaan, seperti orientasi pada sisi pratktis dan efisien seperti terlihat pada fenomena belajar agama melalui media sosial. Selain itu, persoalan literasi keagamaan juga kerap menjadi problem tersendiri bagi masyarakat kota. 

Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan

Masalah kemiskinan terus menjadi problema di berbagai Negara berkembang. Indonesia salah satu Negara berkembang yang selalu mempunyai persoalan kemiskinan yang hingga saat ini tidak kunjung selesai. Kemiskinan telah menjadi permasalahan yang cukup besar  dimana jutaan anak di Indonesia tidak dapat menempuh pendidikan yang berkualitas. Namun kemiskinan juga memiliki berbagai fungsi dalam struktur social masyarakat. Kemiskinan merupakan realitas social yang memiliki fungsi ekonomi, social budaya, politik dan lingkungan.

Kemiskinan dan Krisis Keagamaan Masyarakat Pinggiran Kota

Berbicara menyoal permasalahan kota pasti tidak akan ada habisnya. Dari sisi ekonomi, lingkungan sampai pada lini terdalam yakni menyangkut sosial kemasyarakatan. Persoalan kemiskinan di kota tak ubahnya sebuah bumerang bagi kota itu sendiri. Anggapan orang bahwa kota adalah tujuan utama mencapai sebuah kesuksesan itu tidak seratus persen dibenarkan. Pada realitasnya justru berbanding terbalik. Orang yang tidak memiliki cukup keterampilan, akan terpinggirkan begitu saja. Bahkan ada istilah “hidup di kota  keras”. Istilah-istilah semacam ini memang terasa bagi mereka yang tidak tahan akan permasalahan kota yang rumit.

Masyarakat Perkotaan dalam Pemikiran Emile Durkheim dan Karl Marx

Masyarakat merupakan suatu elemen yang penting dalam tatanan sosial. Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya. Sedangkan menurut karl marx masyarakat sebagai struktur yang terdapat ketegangan akibat pertentangan antar kelas sosial karena pembagian tugas atau nilai-nilai ekonomi yang tidak merata di dalamnya. Pada dasarnya masyarakat adalah satu kesatuan yang saling hidup Bersama di wilayah atau tempat yang sama dalam waktu yang lama. Namun seiring berkembangnya zaman terbentuklah masyarakat maju Masyarakat maju ini telah mengalami perkembangan dan kemajuan teknologi dan informasi. Sehingga mengalami perkembangan dan perubahan yang datang dalam kehidupan. Hubungan antar masyarakat didasarkan pada kepentingan pribadi dan kebutuhan masing-masing individu. Masyarakat perkotaan sering diidentikkan dengan masyarakat maju atau modern.

Teori Solidaritas Emile Durkheim Pada Era Digital

Digital Solidarity - Dok. Pixy.orgDigital Solidarity - Dok. Pixy.org

Perkembangan teknologi digital nyatanya tidak begitu saja melunturkan solidaritas mekanik yang terbangun diantara netizen. Tentu saja, hubungan saling tergantung diantara netizen membuat solidaritas organik juga tumbuh subur. Artikel ini memotret berkembangnya solidaritas mekanik dan organik di kalangan content creator yang makin berkembang di era digital ini.

Komodifikasi Agama dalam Kehidupan Masyarakat

religion for salereligion for saleSecara praktiknya, proses komodifikasi agama berdampak pada transformasi nilai guna agama. Agama yang digunakan sebagai pedoman hidup kini menjadi nilai tukar yang dijual di pasaran. Gejala komodifikasi agama seperti ini terlihat jelas, misalnya, pada maraknya tayangan-tayangan ceramah di televisi yang lebih berorientasi pada rating daripada kualitas. Juga pada fenomena wisata reliji, pengobatan islami atau biro travel haji dan umroh.

Problematika Hubungan NU dan Muhammadiyah

NU-MuhammadiyahNU-MuhammadiyahSelain berbagai kontribusi positif yang sudah dihasilkan, hubungan antara NU dan Muhammadiyah di Indonesia tak jarang diwarnai dengan sikap saling curiga atau bahkan konflik. Beberapa analis bahkan mensinyalir bahwa kedua organisasi tersebut memandang satu sama lain bukan sebagai komplementari, yang masing-masing terbentuk untuk saling melengkapi, tetapi sebagai pesaing dalam banyak bidang kehidupan.

Agama Sebagai Gerakan Sosial

Agama Sebagai Gerakan SosialAgama Sebagai Gerakan SosialAgama/wahyu, pada hakekatnya, selalu membawa serta prinsip-prinsip perubahan kepada arah yang lebih baik. Dalam perspektif mobilisasi sumber daya, kita akan menemukan bahwa agama berupaya melakukan perubahan dengan memobilisasi sumber daya di antaranya berupa legitimasi (moral), pengetahuan umum dan tradisi (culture), keahlian, pengalaman dan kepemimpinan, dan organisasi sosial. Wahyu Tuhan dapat menjadi instrumen untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan atau pembebasan terhadap isu-isu kemiskinan dan ketidakadilan.

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Ingin berkontribusi?

Hobby nulis? Punya info menarik soal jurnal, ebook, atau apapun yang berkaitan dengan sosiologi? Share donk di sini, daripada ditimbun, ntar basi :D. Baca CARA & PEDOMAN MENULIS.

Cari Artikel di Sini