Apakah Pandemi Mengubah Solidaritas Sosial Menjadi Solidaritas Digital?

Downloading Solidarity - Original Image by Gerd AltmannDownloading Solidarity - Original Image by Gerd AltmannSaya adalah mahasiswa yang baru mengenal teori Emile Durkheim, dan cukup menyukai pemikirannya. Salah satunya di buku The Division of Labour in Society (1893), Durkheim menjelaskan bahwa unsur baku dalam masyarakat adalah faktor solidaritas. Lantas, ia membaginya menjadi solidaritas mekanik dan organik. Solidaritas organik digambarkan dengan pembagian kerja yang lebih variatif dibanding solidaritas mekanik.

Sayangnya, relevansi mengenai solidaritas sosial harus dilabrak oleh realitas baru pandemi COVID-19. Solidaritas mekanik, organik, atau apalah itu, sama saja saat ini. Selama orang-orang memiliki smartphone, internet, dan media sosial, solidaritas pun akan terbentuk di dunia digital.

Bagaimana Memahami Konsep Fungsi-Disfungsi Merton? (Bag-1)

Salah satu konsep penting yang dikemukakan Robert K. Merton adalah konsep fungsi dan disfungsi beserta turunannya (manifes dan laten). Konsep ini kemudian menempati posisi cukup sentral dalam teori fungsionalisme struktural. Hanya saja, di Indonesia konsep ini seringkali disalahpahami. Sebabnya simple: kesalahan pemilihan kata dalam pengalihbahasaan dari Inggris ke Indonesia.1)

Etnometodologi

Mengenal Etnometodologi

Bagi para teoritisi Etnometodologi, sosiologi tradisional memahami dunia sosial yang dikontruksinya dengan menyembunyikan atau bahkan menghilangkan praktik-praktik sehari-hari sebagai aspek paling esensial dari rujukan sumber penegetahuan sosial (etnometode). Maka dari itulah, para etnometodogi menganggap bahwa para sosiolog itu membuat  pelukisan dan abstraksi-abstraksi atas realitas yang semakin menyesatkan dari realitas sehari-hari.

Hidup Berdialektika Menurut Peter L Berger

Peter L. Berger - Sumber. WikipediaPeter L. Berger - Sumber. WikipediaOrganisme berubah dan berkembang, bentuk dan perilakunya tidak konstan, mereka berubah sebagai respons terhadap lingkungan. Jenis-jenis pada satu waktu berlimpah dan dominan digantikan oleh jenis-jenis baru yang pada gilirannya menjadi dominan, dan seterusnya. Masyarakat adalah produk manusia, dan manusia adalah produk masyarakat. Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi,  sebagaimana kenyataan obyektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (Berger, 1990). Maka sejatinya manusia itu adalah hasil dari lingkungannya, dan begitupun sebaliknya.

Ilmu Sosial Profetik - Paradigma Islam

Ngaji buku bareng. Edisi kali ini baca buku Kuntowijoyo, Paradigma Islam, bab 18: "Perlunya Ilmu Sosial Profetik"

 

Karakteristik Masyarakat Perkotaan: Perspektif Durkheim, Marx dan Weber

Urban Life Style - Sumber. PxhereUrban Life Style - Sumber. PxhereMasyarakat merupakan salah satu komponen yang sangat urgent dalam berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Masyarakat, berdasarkan peradabannya, dibagi menjadi tiga yaitu masyarakat primitif, desa dan masyarakat kota. Hal ini juga dapat ditilik melalui berbagai aspek yang lain, karena jika ditinjau dari karakteristik awal, perbedaan antara masyarakat primitif (primitive society), masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community) saling bertolak belakang. Tapi bagaimana jika ditarik pada era kontemporer saat ini, apakah hal tersebut berlaku atau masih bias dalam pandangan?

Memahami Agama: Perspektif Durkheim, Weber dan Marx

Pada zaman modern ini, hampir tiap masalah yang terjadi selalu dikaitkan dengan agama. Memang benar, sebagian masalah terkait dengan agama. Tapi apabila masalah tersebut berkaitan dengan agama, apakah masyarakat akan mengerti apa akar masalahnya? Sebagian orang terkadang belum mengerti mengenai agama dan hanya berlandaskan keyakinan dan kebenaran tafsiran yang diyakini untuk menyelesaikan problematika. Nyatanya, dalam suatu penyelesaian masalah tidak hanya satu jalan keluar melainkan ada banyak.

Menggugat Filsafat Modern (Perkenalan Amat Singkat dengan Gagasan Postmodern)

Dekonstrukcja-LEGO Philosophy - Sumber. Flickr ImageDekonstrukcja-LEGO Philosophy - Sumber. Flickr Image

Perjalanan ilmu sosial kerap diwarnai perdebatan-perdebatan sengit, bukan hanya tentang klaim-klaim teoretisnya, tetapi juga pada metode keilmuan yang dikembangkannya. Di Jerman misalnya, perdebatan soal metode ilmu sosial pernah beberapa kali mengemuka sebagai wacana publik yang panas dan melibatkan para ilmuwan sosial terkemuka pada saat itu, seperti Windleband, Dilthey, dan Max Weber. Perdebatan-perdebatan yang dikenal dengan istilah methodenstreit tersebut tampaknya masih belum mampu membawa ilmu sosial beranjak dari alam pikir positivistik, sampai akhirnya muncul perdebatan yang oleh publik Jerman dikenal dengan positivismunsstreit (perdebatan tentang positivisme) yang melibatkan Karl Popper dan Hans Albert di satu pihak, berhadapan dengan Adorno dan Habermas di pihak lain (Hardiman 2009:29–32).

Walaupun positivismunsstreit tak menghasilkan kata sepakat, tapi saat itu positivisme yang mendasari perkembangan teori-teori sosial modern mendapat serangan yang sangat sengit untuk pertama kalinya. Melalui perdebatan ini, publik ilmuwan sosial akhirnya memiliki alternatif lain di luar positivisme yang kala itu sangat hegemonik, bahkan hingga kini. Berbagai kritik terhadap positivisme yang dikemukakan Adorno dan Habermas dalam perdebatan itu kemudian dikenal sebagai cikal bakal perkembangan teori kritis (Franckfurt School).

Para Pengikut Gerakan Massa: Menimbang Gagasan Eric Hoffer

Peserta Aksi Bela Islam 313 - Dok. Wikipedia IndonesiaPeserta Aksi Bela Islam 313 - Dok. Wikipedia IndonesiaEverything flows and nothing stays”, ujar Heraclitus, filosof Yunani Abad ke-5 SM (Microsoft 2005). Begitulah kira-kira hukum yang berlaku secara universal di dunia ini. Perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Perubahan sama pastinya dengan kematian. Segala aspek kehidupan manusia tidak pernah bisa mengelak dari hukum perubahan ini.

Sebagian besar perubahan berjalan secara alamiah atau terlihat alamiah, sementara perubahan lain harus dipaksakan agar dapat terwujud menjadi kenyataan. Hal ini karena suatu perubahan selalu bersifat sistemik, berimplikasi pada perubahan lain (Macionis 2008, 633), sehingga sebuah gerak berubah tak jarang menghendaki adanya perubahan tidak saja pada aspek-aspek kultural tapi juga struktural. Oleh sebab itu, bagi mereka yang tengah menikmati kemapanan—baik secara politik, ekonomi maupun kultural—perubahan adalah juga berarti ancaman bagi kekuasaan mereka. Sementara bagi kelompok/kelas yang tak ikut menikmati kemapanan, perubahan adalah jalan untuk mengubah nasib. Bagi kelompok ini, harapan untuk mengubah nasib dan keadaan adalah daya hidup yang mampu menggerakkan mereka untuk ikut serta dalam gerakan-gerakan sosial.

Pemberian Label, Salah Satu Penyebab Seseorang Melakukan Penyimpangan

Teori Labelling yang dikemukakan oleh Edwin M. Lemert menyatakan bahwa seseorang yang diberi cap sebagai seorang penyimpang (deviant) akan cenderung melanjutkan perilaku menyimpang tersebut. Salah satu penyebab berlanjutnya tindakan penyimpangan di masyarakat adalah adanya pemberian label. Pemberian label membuat seseorang merasa bahwa dirinya merupakan orang yang buruk atau setidaknya dinilai buruk oleh masyarakat. Hal ini menurunkan semangat bahkan menghilangkan motivasi seseorang untuk menjadi orang yang lebih bisa diterima di masyarakat.  

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Disclaimer

Silahkan membaca kebijakan disclaimer Rumah Sosiologi di SINI

Cari Artikel di Sini