Menelisik Pemikiran Anthony Giddens tentang Manusia Sebagai Agen Berkesadaran

Anthony Giddens - Sumber: WikipediaAnthony Giddens - Sumber: WikipediaAnthony Giddens barangkali menjadi salah satu pemikir termasyur abad ini, terutama dalam bidang ilmu sosiologi. Sumbangsih pemikirannya sangat fundamental terutama dalam menjembatani persoalan paradigma dalam ilmu sosial, mungkin kita sudah cukup familiar dengan istilah sosiologi makro dan sosiologi mikro beserta konsekuensi metodisnya, dua paradigma besar ini menghegemoni perkembangan sosiologi dalam beberapa dekade terakhir. Dua paradigma ini juga yang mengilhami Giddens dalam perjalanan intelektualnya, melalui magnum opusnya, teori strukturasi, ia melakukan kritik habis-habisan terhadap dua paradigma tadi. Sederhananya, teori ini mengatakan bahwa tidak semestinya kita melakukan pemisahan antara struktur dan agen dalam mengkaji suatu realitas sosial. Keduanya merupakan dualitas tak terpisahkan dalam membentuk dunia sosial, maka yang seharusnya kita lihat adalah praktik sosial yang terbentuk sebagai konsekuensi dari dualitas struktur dan agen ini.

Kira-kira begitulah garis besarnya, tentang bagaimana Giddens dalam memposisikan dirinya dalam melihat kehidupan sosial. Namun, tulisan ini bukan untuk membedah teori strukturasi secara keseluruhan, sebab begitu kompleks dan luasnya cakupan teori tersebut, kemungkinan tidak cukup memadai untuk mewakili maksud Giddens dalam tulisan pendek ini. Oleh karena itu, tulisan ini akan lebih fokus dalam membahas sisi manusia sebagai agen dalam kehidupan keseharian dan relasinya dengan struktur yang menopangnya. Pertama, untuk memahami pandangan Giddens tentang manusia (agen), kita perlu memahami bahwa tindakan sosial individu diarahkan oleh “aturan main” yang ia bentuk sendiri. Artinya, aturan main seperti nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat terbentuk oleh aktivitas manusia itu sendiri, yang kemudian juga menopang setiap tindakan sosial individu. Disinilah titik temu antara individu dan struktur, berbeda dengan pandangan struktural fungsional yang melihat struktur sebagai sebuah komponen eksternal yang mengatur tindakan individu. Giddens melihat struktur sebagai produk kebudayaan yang tercipta dari upaya manusia itu sendiri dan menjadi landasan nilai bagi kehidupannya. Struktur ini secara terus menerus direproduksi seiring dengan kebutuhan manusia tentang sistem kehidupan yang relevan bagi mereka.

Lalu, jika memang demikian, artinya struktur dibentuk oleh kesepakatan sosial yang mewakili suara mayoritas. Pertanyaanya, apakah manusia harus selalu tunduk pada struktur yang mewakili suara mayoritas tersebut?. Menurut Giddens, setiap manusia adalah agen, seiring dengan kesadaran yang dimilikinya. Setiap agen memiliki tanggung jawab dan kesempatan yang sama dalam membentuk kehidupan sosial, lebih-lebih dalam melakukan perubahan sosial. Perubahan sosial merupakan upaya untuk merubah nilai dan kebiasaan yang telah terjalin dalam kehidupan masyarakat, sehingga membentuk suatu nilai dan kebiasaan baru. Kesadaran adalah elemen terpenting dalam hal ini, Giddens menjelaskan bahwa manusia sebagai agen sosial setidaknya membawa tiga bentuk kesadaran dalam tindakan sosialnya, yakni kesadaran diskursif, kesadaran praktis, dan motivasi tak sadar. Kesadaran diskursif merupakan bentuk kesadaran yang mampu diekstraksikan secara verbal oleh seseorang, seperti berdiskusi, orasi, ataupun berpidato. Kesadaran praktis adalah bentuk kesadaran yang dimanifestasikan kedalam bentuk tindakan langsung oleh sesorang, seperti menyapu, memasak, dan membuang sampah pada tempatnya. Sedangkan motivasi tak sadar merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang menciptakan suatu tindakan tanpa didasari oleh suatu bentuk kesadaran tertentu.

Aktivis lingkungan barangkali bisa kita jadikan sebagai contoh nyata untuk menvisualisasikan sosok agen ini, aktivis lingkungan memiliki kesadaran mengenai pentingnya menjaga alam ditengah krisis ekologi yang disebabkan oleh eksploitasi alam berlebihan. Kesadaran ini kemudian mereka ekstraksikan kedalam bentuk kesadaran diskursif seperti kritik pada pemerintah, kampanye peduli lingkungan, dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan pada masyarakat, tujuan dari aktivitas ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat. Selain itu, mereka juga memanifestasikan dalam bentuk kesadaran praktis, seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan pengawasan terhadap eksploitasi alam, hingga serangkaian kegiatan penanaman pohon. Motivasi tak sadar mungkin dapat kita lihat dari sikap masyarakat yang kemungkinan menjaga lingkungan bukan berdasar kesadaran atas krisis ekologi seperti yang dipahami oleh para aktivis tadi, melainkan atas dasar motivasi untuk menjaga ketercukupan sumber daya mereka, meski begitu setidaknya masyarakat ini memberikan sumbangsih dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Kemudian, relasi antara aktivis lingkungan sebagai agen dengan struktur yang menopang aktivitas mereka juga tidak dapat dikesampingkan. Struktur ini berpengaruh, baik mendukung maupun menghambat atau membatasi setiap aktivitas tersebut, karena hubungannya dengan sumber daya yang mereka miliki. Struktur ini menjadi elemen penting, sebut saja untuk melakukan kampanye peduli lingkungan, maka ketersediaan sumber daya seperti media, SDM, hingga modal material menentukan keberhasilan atas terlaksananya kegiatan ini, lebih-lebih kehadiran rules berupa nilai-nilai yang dianut masyarakat juga menjadi pertimbangan atas kesuksesan kegiatan tersebut. Begitupun dalam kegiatan penanaman pohon, ketersediaan bibit sebagai modal tentu juga sangat berpengaruh atas terlaksananya kegiatan, ketersediaan bibit yang banyak akan mendukung kesuksesan kegiatan ini. Sebaliknya, keterbatasan bibit akan sangat menghambat kesuksesan kegiatan tersebut. Kondisi demikian setidaknya mampu memberikan gambaran mengenai relasi dialektis antara manusia dengan struktur yang dimaksud oleh Giddens dalam kerangka konseptualnya.

Dari Giddens kita belajar, bahwa manusia adalah makhluk berkesadaran yang tidak sepantasnya hanya melihat realitas secara pasif, melainkan harus mampu merefleksikan setiap kenyataan sosial dalam kehidupannya. Dengan begitu, kehidupan sosial tidak berjalan secara statis yang dibentuk oleh suara mayoritas saja, melainkan dinamis mengikuti perkembangan kebutuhan-kebutuhan individu terhadap kehidupan sosial itu sendiri. Selain itu, mempertimbangkan relasi manusia dengan struktur juga menyingkap kesadaran kita bahwa kita bukanlah manusia yang sepenuhnya otonom, segala sesuatu yang hendak kita lakukan perlu mempertimbangkan konteknya dengan struktur yang menopang, terutama rule dan sumber daya yang kita miliki. Kita perlu makan untuk beraktivitas, perlu cukup membaca untuk mulai menulis, juga perlu rumah yang nyaman untuk tidur nyenyak. Sebab, menurut Merleau-Ponty, kita dan lingkungan fenomenal adalah kesatuan yang tak dapat dilepaskan dengan konteks kebertubuhan kita.

Sumber

Giddens, A. (2010). Teori Strukturasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Puzairy
Penulis: Puzairy
Tentang Saya
"Manusia biasa. Pernah kuliah di Universitas Jember."

 

Find me on 
 ig24 szee__
Tulisan Lainnya

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email rumahsos.id[at]gmail[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Ingin berkontribusi?

Hobby nulis? Punya info menarik soal jurnal, ebook, atau apapun yang berkaitan dengan sosiologi? Share donk di sini, daripada ditimbun, ntar basi :D. Baca CARA & PEDOMAN MENULIS.

Cari Artikel di Sini