DeJokowisasi dan Hiperrealitas

Presiden Jokowi memberikan keterangan pers terkait UU Cipta Kerja - Youtube SetPtres - Suara.ComPresiden Jokowi memberikan keterangan pers terkait UU Cipta Kerja - Youtube SetPtres - Suara.Com

Satu hal yang menarik ketika mengamati persoalan aksi protes dan penolakan masyarakat terhadap UU Ketenagakerjaan yang beberapa waktu lalu di sahkan, yakni berbagai bentuk protes dan penolakan yang menjadi konsekuensi logisnya. UU Ketenagakerjaan mendapatkan banyak penolakan karena dianggap berpotensi merugikan masyarakat kecil, sedangkan media sosial menjadi salah satu ruang dalam penyampaian protes dan penolakan ini secara masif, berbagai narasi diangkat dan direduksi menjadi wacana perlawanan masyarakat atas disahkannya UU ini.

DeJokowisasi merupakan salah satu dari sekian banyak narasi yang menurutku menarik untuk dibicarakan. Istilah ini pertama kali diangkat oleh Akhmad Sahal, seorang intelektual muda NU yang sejak lama dikenal sebagai pendukung Jokowi. Dalam twitternya, dia mengatakan “makin banyak pendukung Jokowi, termasuk saya, yang merasa Jokowi luntur keJokowiannya, Jokowi sedang mengalami proses deJokowisasi” (Aditya & Hernawan, 2020). Istilah ini merujuk pada suatu kondisi atau perasaan yang dirasakan oleh para pendukung Jokowi yang menganggap bahwa Jokowi saat ini telah berlawanan arus dengan Jokowi dulu yang mereka lihat lewat media.

Jika dikaji lebih dalam, istilah ini melahirkan imajinasi mengenai dua bentuk subjektivitas “Jokowi”. Disatu sisi, “Jokowi” adalah subjek yang memiliki kebebasan bertindak atas pengalaman dari kesadarannya sebagai seorang manusia. Sedangkan disisi lain, “Jokowi” merujuk pada subjektivitas baru yang diasosiasikan dengan kesederhanaan dan keberpihakannya pada rakyat kecil yang dicitrakan oleh media.

Kekecewaan dari para pendukung Jokowi mulai terlihat pasca di sahkannya UU Ketenagakerjaan tersebut, hal ini dirasakan oleh beberapa orang sebab ketidaksesuaian antara citra ideal Jokowi di Media Sosial dengan realitas kebijakan Jokowi saat ini. Selanjutnya, media sosial memainkan peran dalam membentuk hiperealitas, tepatnya saat Image menutupi realitas, seperti halnya citra dan realitas yang ditampilkan Jokowi.  Menurut Wirman dan Sari (2020), pada tahap lanjut, hiperelitas menyebabkan era simulasi, dimana Image atau citra menggantikan realitas (Wirman & Sari, 2020).

Hal ini yang kemudian terjadi pada pembentukan citra seorang Jokowi di media sosial, dimana sosok ideal seorang Jokowi di media sosial telah menjadi pakem yang harus ada pada kehidupan realitas. Akhirnya, Jokowi akan dikatakan sebagai seorang Jokowi jika dia berada pada posisi citra idealnya yakni seorang pemimpin yang merakyat dan berpihak pada rakyat. Asumsi besarnya, deJokowisasi adalah proses penghancuran subjektivitas baru seorang “Jokowi” yang dicitrakan oleh media sosial.

Rujukan

Aditya, R., & Hernawan. (2020, Oktober 10). Merasa Jokowi Berubah, Gus Sahal Singgung Adanya Proses DeJokowisasi. Retrieved from Suara.com: https://www.suara.com/news/2020/10/10/160049/merasa-jokowi-berubah-gus-sahal-singgung-adanya-proses-dejokowisasi?page=all

Wirman, W., & Sari, g. G. (2020). Hiperialitas Media Pada Pemilihan Umum Indonesia Tahun 2019. Communicology : Jurnal Ilmu Komunikasi, 87.

puzairy
Penulis: puzairy
Tentang Saya

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email admin[at]rumahsosiologi[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER