Hyperrealitas Jean Baudrilliard dalam Meme Klepon Yang Tidak Islami

Klepon "tidak islami"Klepon "tidak islami"Sebelum membahas Hyperrealitas, tentunya kita harus berkenalan terlebih dahulu kepada sang pencetus konsep ini. Yaitu Jean Baudrilliard, beliau merupakan filsuf kontemporer pada abad 20 yang pada 27 Juli 1929 di Reims, Perancis dan meninggal pada Usia 77 tahun tepatnya pada tanggal 06 Maret 2007. Dasar pikiran Baudrilliard ketika mencetuskan konsep Hyperrealitas karena ia merupakan seorang filosof yang menganut paham kritisisme sehingga ia beranggapan yang terjadi di era modern saat ini adalah lunturnya realitas atau kebenaran yang asli dan menghasilkan suatu kebenaran semu, ilusi kebenaran atau yang dalam hal ini disebut sebagai hiperreailtas oleh baudrilliard.

Influencer dan Followers: Patron Klien Era 4.0

Influencer - Sumber. PiqselsInfluencer - Sumber. PiqselsBelakangan ini, publik dunia maya digegerkan oleh tayangan video di saluran media sosial milik seorang musisi yang memiliki banyak pengikut. Video tersebut memperlihatkan wawancara antara si musisi dengan seorang yang mengklaim telah menemukan obat COVID-19. Buntutnya, si musisi beserta narasumber yang mengklaim dirinya dokter dan profesor itu di-upload … eh … dilaporkan ke pihak berwajib dengan tuduhan penyebaran hoax.

Pola Asuh Overprotektif Menyebabkan Ketidakpercayaan Diri Anak Terhadap Dunia Luar

Sikap dan tindakan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh proses belajar sosialnya di waktu kecil. Proses ini oleh Peter L. Berger disebut sebagai internalisasi. Sejak kecil anak yang terbiasa dengan bantuan tangan dari orang tua, terbiasa mendapatkan penjagaan yang begitu ketat dari orang tuanya atau yang dapat kita sebut dengan adanya pola asuh overprtectif, Maka disaat ada suatu masalah sang anak akan merasa tidak percaya diri dalam menghadapi masalah sendiri, ia cenderung akan melibatkan dan meminta tolong kepada orang tuanya.

Berislam di Tengah Pandemi Covid-19

Masker - Sumber. PngwingMasker - Sumber. PngwingKeberagamaan sebagian masyarakat kita kerap menjadi problem tersendiri di tengah upaya terus-menerus untuk menghentikan atau mengurangi laju penyebaran pandemi covid-19. Sebagian pemeluk agama bahkan meyakini bahwa virus covid-19 ini memilih-milih korban berdasar agamanya. Sebagian lain bersikap pasrah sepenuhnya pada kehendak Tuhan tanpa mengindahkan protokol kesehatan sebagai upaya preventif agar tidak ikut tertular.

Menghapus Stigma Desa-Kota: Masyarakat Kota yang Soliter Menggapai Solider

Masyarakat kota dan desa sama sama memiliki asa untuk hidup tentram dan sejahtera, untuk mengupayakan kesejahteraan, di dalam kedua kelompok masyarakat tersebut terdapat takaran yang sedikit berbeda yaitu masyarakat kota condong merasa sejahtera jika ia memiliki harta benda yang dapat di gunakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya serta memiliki banyak uang, demikian membuat mereka merasa ada serta dengan demikian pula mereka merasa cukup sejahtera.

Agama dan Kemiskinan: Sistem Filantropi Sebagai Solusi Pengentasan Kemiskinan

Ilustrasi Filantropi - Sumber. zakat.or.idIlustrasi Filantropi - Sumber. zakat.or.idKetika mendengar kalimat perkotaan yang terlintas dalam benak dan pikiran kita adalah suatu tempat yang sangat maju dan modern dibandingkan pedesaan, namun apabila dilihat dari sisi sosial masyarakat di perkotaan lebih cenderung bersifat individualis ketimbang masyarakat pedesaan, tak jarang hal tersebutlah yang mengakibatkan angka kemiskinan di perkotaan lebih banyak daripada di pedesaan.

Tingginya arus urbanisasi yang dilakukan pada setiap tahunnya menyebabkan banyak area kumuh (slums) dan pemukiman liar (squatter) di perkotaan karena banyak yang menganggap bahwa kehidupan di kota lebih baik daripada di desa. Namun hal tersebut malah menjadikan perbedaan status sosial yang tinggi karena sering kali warga yang tinggal di area kumuh masuk dalam kategori masyarakat miskin kota.

Merebaknya Komodifikasi Agama di tengah Masyarakat Perkotaan

Selain berfungsi sebagai jalan penuntun ummat manusia, agama juga sebagai penuntun penganutnya untuk mencapai ketenangan hidup dan kebahagiaan di dunia maupun kehidupan darul baka. Agama menurut C. Geertz merupakan (1) a system of symbols, (2)  yang punya fungsi psikologikal, (3) kultural, (4) sosial, (5) sehingga moods dan motivations itu nampak seolah-olah realistik (Marzali:2016) .

Namun di era modern ini masyarakat Indonesia khususnya masyarakat perkotaan sudah mulai akrab dengan munculnya produk-produk yang bermuatan komodifikasi agama, yang banyak mendominasi dan bisa bersaing dengan pasar global. Artinya, agama yang awalnya berfungsi sebagai cara bertingkah laku, sebagai sistem kepercayaan atau sebagai emosi yang khusus (J. H. Leuba), kini mempunyai pelebaran atau pergeseran fungsi.

Tradisi Nyadran Sebagai Perekat Hubungan Antar Agama

Ilustrasi Tradisi Snyadran - Sumber. gunungkidulkab.go.idIlustrasi Tradisi Snyadran - Sumber. gunungkidulkab.go.idAda yang unik dari tradisi nyadran di dusun Krecek. Di dusun ini, upacara nyadran dilakukan secara bersama-sama oleh tiga agama sekaligus: Islam, Kristen dan Buddha. Nyadran sendiri adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kata Nyadran sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Sraddha yang berarti keyakinan. Rangkaian tradisi Nyadran biasanya berupa bersih-bersih makam, tabur bunga, dan puncaknya adalah kenduri atau selamatan di makam leluhur.

Diskriminasi Hak Belajar Saat Pandemi Covid-19

Belajar dari RumahBelajar dari RumahBerbagai masalah muncul akibat dari penyebaran virus corona seperti masalah kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial, pariwisata bahkan dalam ranah keagamaan. Dalam dunia pendidikan, pandemi covid menyebabkan munculnya problem underrepresentation bagi kaum miskin yang merupakan kelas minoritas dalam perekonomian.

Tradisi Nyekar: Memisahkan yang Sakral dari Urusan Duniawi

Tradisi Nyekar - Sumber. WikimediaTradisi Nyekar - Sumber. WikimediaIndonesia termasuk dalam negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Tentunya masyarakat Indonesia antusias dalam menyambut bulan Ramadhan dengan berbagai cara, bentuk maupun tradisi. Ramadhan atau disebut juga dengan istilah bulan puasa merupakan bulan yang ditunggu-tunggu bagi umat Muslim. Karena pada bulan ini, masyarakat percaya bahwa semua amalan baiknya akan dilipat gandakan pahalanya dan diampuni dosanya oleh Allah SWT apabila menunaikan ibadah puasa dengan penuh selama satu bulan dan dengan hati yang ikhlas. Antusias masyarakat dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan tentunya berbagai macam. Mulai dari mempersiapkan mental fisik secara pribadi dan juga lingkungan sekitar masyarakat.

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Disclaimer

Silahkan membaca kebijakan disclaimer Rumah Sosiologi di SINI

Cari Artikel di Sini