Politik Hibrid: Simulasi Politik Melalui Media Virtual

Saat ini politik berada dalam kegalauan ontologis.  Istilah Kegalauan Ontologis saya adopsi dari Yasraf A. Pilang, seorang akademisi sekaligus seniman yang konsen pada kajian-kajian Cultural Studies yang bernuansa postmo. Istilah tersebut mengacu kepada keterbauran atau hilangnya batas-batas antara "Ada Politik" dengan "Ada Citra". Batas-batas ontologis keduanya mengalami persilangan sehingga dua entitas tersebut kehilangan keaslian dan realitasnya. Dalam artian terjadi hibriditas (kontaminasi) Politik oleh entitas-entitas yang berada diluar dirinya.

McDonaldisasi Tubuh: Tubuh, Pasar, dan Politik

Saya akan memulai artikel ini dengan asumsi, bahwa, saat ini politik mengalami Hibriditas (kontaminasi/perkawinan) dengan berbagai entitas yang berada di luar dirinya, bahkan bukan dirinya, yang mengatarkan dunia politik menjadi dunia abu-abu, sebuah dunia tanpa kejelasan. Oleh karena itu, pada artikel ini kita akan mencoba menemukan relasi, tepatnya pembauran antara politik, tubuh, dan pasar (kapitalis).

Sepak Bola dalam Gengaman Revolusi Industri

Sepak bola dalam satu dekade terakhir telah perlahan berubah wajah dari yang dulu begitu humanis dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh manusia biasa (wasit), sekarang menjadi sebuah industri yang menuntut sebuah presisi dengan sedikit kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia dengan sokongan teknologinya. Sepak bola seakan menjadi manifestasi maskulinitas dalam revolusi industri 4.0 saat ini.

Rakyat Jelata dalam Genggaman Kota yang Meraksasa

Kita tidak bisa menukilkan, bahwa perkembangan kota yang meraksasa dan infrastruktur yang memadai merupakan jawaban kita mengenai konsep kesejahteraan yang kita deskripsikan selama ini, namun kita tidak bisa menafikan pula bahwa pada setiap kesejahteraan yang terukir dalam keberlangsungan sejarah, dibaliknya tersusun beribu-ribu tetesan air mata dan darah yang seharusnya patut kita pertimbangkan. Hal itu tidak hanya berhenti pada perjuangaan Indonesia untuk menggapai kemerdekaan, melalui butir-butir darah pejuang yang menetes ketanah, namun pengorabanan semacam itu juga patut kita pertanyakan dalam proses beranjaknya Indonesia menjadi negara yang bisa di katakan “maju”, di mana tangis-tangis kemiskinan masih mengisi pelosok-pelosok negeri ini.

Sepak Bola; Jalan Alternatif Menuju Surga

Riuh Piala Dunia 2018 di Rusia telah perlahan melenyap dengan berbagai suguhan aksi berkelas pemain di lapangan. Yap, piala dunia edisi ke-21 FIFA ini merupakan kali pertama yang dihelat di dua benua sekaligus. Saking luasnya Rusia yang membentang dari timur Eropa hingga Utara Asia, menjadikan piala dunia edisi ini sebagai termahal dalam sejarah penyelenggaraan piala dunia. Dalam informasi yang dihimpun penulis, biaya penyelenggaraan piala dunia edisi ke-21 ini mencapai USD 14 miliar atau setara Rp 199,3 triliun dengan kurs 1 USD = Rp 14.293. Apakah begitu mahal? Ah tidak, kita saja yang belum terbiasa melihat uang dengan nominal sebanyak itu.

Keberagamaan Positivistik

Tulisan ringan ini berangkat dari satu asumsi utama, bahwa positivisme bukan sekedar sebuah mazhab ilmu pengetahuan tapi sudah menjadi bagian dari kesadaran hidup manusia sehari-hari. Positivisme bahkan telah merambah kesadaran hidup manusia yang paling primordial: agama. Melalui logika kuantifikasi dan reifikasi, positivisme mewujud dalam beragam bentuk ekspresi keberagamaan.

Kompleksitas Persoalan Seksual Masyarakat Modern

Apa yang akan terjadi jika naluri seksual manusia dikawinkan dengan teknologi komputer? Absurditas makna seksual. Itu yang bakal terjadi, bahkan telah terjadi. Seksualitas menjadi sepotong realitas yang ditransformasikan melalui jaringan kabel, membentuk dunia maya. Kita mengenalnya dengan cyberspace dan realitas seksual maya yang ditawarkannya kita sebut dengan cybersex. Seks menjadi online, dapat diakses oleh siapapun tanpa mengenal batasan umur. Dahulu, hubungan seks hanya dapat dibayangkan terjadi melalui kontak fisik secara langsung. Keberadaan internet dengan cybersexnya menjadikan kontak fisik bukan lagi satu-satunya cara mengakses kenikmatan seksual. Internet memungkinkan perengkuhan kenikmatan seksual melalui dunia maya, sebuah kenyataan yang bernar-benar semu, virtual reality of sex.

Pengikut Manhaj Salaf di Tengah Gempuran Modernitas (Bag-3)

Proses Eksternalisasi, Obyektivasi dan Internalisasi Nilai-Nilai Keagamaan

Berger memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam tiga momen dialektis yang simultan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi serta masalah legitimasi yang berdimensi kognitif dan normatif, inilah yang dinamakan kenyataan sosial.[1] Eksternalisasi adalah kecurahan kedirian manusia secara terus-menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupaun mentalnya. Obyektivasi adalah disandangnya produk-produk aktivitas itu (baik fisis maupun mental), suatu realitas yang berhadapan dengan para produsernya semula, dalam bentuk  suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap dan lain dari para produser itu sendiri. Internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia obyektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subyektif. Melalui eksternalisasi, maka masyarakat merupakan produk manusia. Melalui obyektivasi, maka masyarakat menjadi realitas sui generis, unik. Melalui internalisasi, maka manusia merupakan produk masyarakat.[2]

Pengikut Manhaj Salaf di Tengah Gempuran Modernitas (Bag-2)

Islam dan Modernitas

Tanggapan kaum muslim terhadap modernisasi berbeda-beda. Modernisasi yang sekarang dibawa Barat adalah langkah mereka untuk menguasai Negara dan menyebarkan ideologinya. Bagi banyak orang, keunggulan Eropa harus diakui, dihadapi dan pelajaran-pelajaran harus diperhatikan demi kelangsungan hidup. Pengaruh dan daya pikat Barat yang terus-menerus merupakan bukti lebih sekulernya jalan yang dipilih oleh kebanyakan pemerintah dan kaum elite modern. Bahkan Negara-negara di mana Islam mempunyai peran penting dalam gerakan-gerakan nasionalis, gerakan baru yang berkuasa cenderung berorientasi pada sekuler.

Pengikut Manhaj Salaf di Tengah Gempuran Modernitas (Bag-1)

Pendahuluan

Berdasarkan sudut pandang kebahasaan, kata “agama” berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”.[1] Adapun agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa terkecuali.[2] Dalam setiap agama terdapat aspek konservatif yang memberikan rasa kesucian terhadap tradisi dan keberlangsungannya. Istilah konservatisme dapat dimaknai bahwa agama memiliki kekuatan untuk menolak perubahan dan cenderung ingin mempertahankan status quo–kondisi yang sudah mapan.[3] Karena faktor ini, agama seringkali bersikap menahan diri terhadap unsur perubahan yang mungkin dianggap memprofankan. Sebab lain, ialah karena agama sudah mewujud dalam simbol-simbol dan idiom-idiom suci yang disakralkan, yang secara apriori menolak perubahan.

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Disclaimer

Silahkan membaca kebijakan disclaimer Rumah Sosiologi di SINI

Cari Artikel di Sini