Pengikut Manhaj Salaf di Tengah Gempuran Modernitas (Bag-1)

Pendahuluan

Berdasarkan sudut pandang kebahasaan, kata “agama” berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”.[1] Adapun agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa terkecuali.[2] Dalam setiap agama terdapat aspek konservatif yang memberikan rasa kesucian terhadap tradisi dan keberlangsungannya. Istilah konservatisme dapat dimaknai bahwa agama memiliki kekuatan untuk menolak perubahan dan cenderung ingin mempertahankan status quo–kondisi yang sudah mapan.[3] Karena faktor ini, agama seringkali bersikap menahan diri terhadap unsur perubahan yang mungkin dianggap memprofankan. Sebab lain, ialah karena agama sudah mewujud dalam simbol-simbol dan idiom-idiom suci yang disakralkan, yang secara apriori menolak perubahan.

Agama dalam Kacamata Generasi Z

Generasi Z merupakan generasi yang lahir dengan rentang waktu 1996-2012. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi ini lebih beruntung. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membawa generasi ini memiliki banyak kesempatan serta pilihan untuk mengakses interenet 3-5 jam perhari atau bahkan lebih. Dari main game, akses internet, dan mencari informasi di media. Lewat media sosial mereka tak hanya memiliki teman di dunia nyata tetapi juga di dunia maya, teman generasi ini tak hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri. Nah dengan banyaknnya teman dan juga kemudahan komunikasi akankah generasi ini menjadi generasi yang terbuka?.

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru: