Masjid Al-Abror sebagai Representasi Terbentuknya Masyarakat Islam Di Desa Kauman Sidoarjo.

IMG 20201214 WA0028IMG 20201214 WA0028

Terdapat beberapa istilah untuk menyebut suatu masyarakat misal kategori sosial, golongan sosial, dan perkumpulan. Akan tetapi yang sering digunakan untuk menyebut masyarakat  adalah manusia. Adapun menurut berbagai definisi, masyarakat adalah sekumpulan individu yang terdiri atas berbagai kelompok yang tinggal di suatu wilayah atau tempat, serta memiliki pedoman kehidupan berupa hukum, norma untuk ditaati. Kata “masyarakat” berasal dari bahasa arab yaitu “Syaraka” yang memiliki arti ikut dalam berpartisipasi. Jika dalam bahsa inggris diaebut society, yang artinya sekumpulan individu yang memiliki sistem dan terdapat komunikasi didalmnya.

Dari penjelasan tersebut memiliki pemjelasan bahwa sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial mengakibatkan sebuah proses terbentuknya masyarakat. Di sisi lain terbentuknya suatu masyarakat akibat dari kecenderungan manusia melakukan interaksi dengan  manusia lainnya. Hal ini dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dan kebutuhan sosialnya. Terbentuknya masyarakat Islam di desa Kauman RT 5 RW, Gg. 1, Sidoarjo dapat saya kategorikan sebagai sebagai fenomena religius – sosial yang amat menarik untuk dipelajari. Saya menyadari bahwa sangat banyak yang perlu dipelajari dan tidak akan tuntas dipelajari hanya menggunakan pendekatan sosiologis saja. Maka dalam tulisan ini akan digunakan dua pendekatan yaitu secara sosiologis dan historis secara singkat.

Terbentuknya Peradaban Islam Di Sidoarjo

Masuknya sebuah peradaban Islam di Sidoarjo, menjadi salah satu hal yang menarik karena hal itu menyangkut perubahan batin yang mendasar dari individu atau masyarakat yang bersangkutan pada masa itu. Untuk mengawalinya kita ambil titik tengah, bagaimana situasi dapat mempengaruhi sehingga membangun sebuah realitas masyarakat yang baru, yaitu masyarakat Islam di Sidoarjo. Secara sosiologis terdapat dua faktor pendorong yaitu, disorganisasi masyarakat dan munculnya agama baru.

Disorganisasi masyarakat akan memunculkan perubahan sosial karena menciptakan nilai-nilai kultural yang baru, solidaritas kelompok yang baru, permasaalahn sosial serta permasalahan batin guna mencari jalan keluar dan alternatifnya orang masuk kepada agama yang baru. Sebagai contoh kita ambil peradaban masyarakat di kota Sidoarjo pada periodisasi sebelum adanya masjid Alabror pada tahun 1678, tahun berdirinya masjid Alabror, masjid tertua di kota Sidoarjo. Sebelum tahun 1678 peradaban masyarakat sidoarjo masih memeluk agama Hindu-Budha hal itu dapat di buktikan dengan adanya bangunan candi yang tersebar seluruh wilayah Sidoarjo, yang diperkirakan  bangunan candi tersebut sudah ada di masa kerajaan Majapahit. Sehingga dalam proses ini menciptakan sebuah keseluruhan perubahan yang menimbulkan disintegrasi dari struktur dan sistem peraturan masyarakat yang lama dan pecahnya rasa solidaritas dan akhirnya menimbulkan permasalahan sosial dan permasalahan  batin.

Munculnya agama baru “Islam” sebagai keunggulan di Kota sidoarjo. Dengan adanya permasalahan sosial dan permasalahan batin, kemunculan agama baru “Islam” menjadi nilai daya tarik tersendiri di dalam masyarakat Sidoarjo  pada masa itu. Sehingga memunculkan peristiwa perpindahan agama. Karena pada umumnya kehadiran agama baru memiliki suatu sistem nilai kebudayaan yang lebih unggul misalkan, ajaran agama yang memiliki nilai tinggi dan keunggulan pengetahuan pemeluk-pemelunya.

Masjid Alabror Sebagai Lambang Peradaban Masyarakat Islam.

Terdapat dua hal yang perlu kita ketahui yaitu seeuatu yang bersifat sakral yaitu sesuaatu yang hendak untuk dijelaskan, karena sejatinya agama merupakan sesuatu yang sakral yang tidak dapat dilihat dan di rasakan oleh panca indra, melalui pelambangan ini digunakan sebagai penjelasan bahwa keberadaan sesuatu objek “Masjid Albaror” adalah lambang dari sesuatu yang sakral itu karena sesuatu yang sakral itu tidak tidak berada di dalam ruang dan waktu, dengan adanya lambang ini ia dihadirkan dalam ruang dan waktu.

Masjid memiliki arti sebagai tempat beribadah, berkumpul atau bisa kita definisikan sebagai ruang publik, melalui pemahaman ini dapat diartikan bahwa masjid menjadi sumber peradaban masyarakat Islam.  di sisi lain masjid memiliki dua dimensi, dimensi secara sosial dan dimensi religi. Dimensi sosial masjid dapat digunakan untuk membangun suatu masyarakat berdasar pada ajaran agama Islam. Dimensi religi Masjid merupakan tempat beribadah atau berkomunikasi kepada sang pencipta.

Dalam kacamata historis keberadaan masjid Al-Abror di kota Sidoarjo bisa kita artikan bahwa keberadaan masjid ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa kejayaan Islam pernah berjaya pada masa itu. Menurut beberapa penelitian, terungkap bahwa Masjid Al Abror merupakan masjid tertua sekaligus sebagai tonggak peradaban masyarakat Islam di Sidoarjo. Khabibul Adjam (2017) dalam buku Sejarah pemindahan masjid agung Kabupaten Sidoarjo: tinjauan historis pemindahan masjid agung dari Masjid Al-Abror ke Masjid Jamik tahun 1895-2016 menyatakan bahwa Beberapa sumber sejarah menyebutkann, mulai masuknya penyebaran agama Islam di Sidoarjo berawal dari Masjid Al-Abror yang ada di kampung Kauman Jalan Gajahmada Sidaorjo, atau berada di belakang pertokoan Matahari Gajahmada. Banyak sejarah menarik yang mungkin orang belum diketahui banyak terkait Masjid Jamik Al-Abror ini. Seperti diungkapkan ketua takmir H. Zainun Chasan Alie, menurutnya masjid sudah beberapa kali renovasi. 

Dengan demikian kesimpulan terpenting peradaban masyarakat Islam di kota Sidoarjo tidak hanya menggunakan kekuatan supra empiris yang absolut (Tuhan). Akan tetapi manusia berusaha merasionalisasikan segala pengalamannya dalam bidang agama,melalui bentuk organisasi, dan institusi , ataupum sarana ibadah guna membentuk batasan – batasan mana iman, dan mana yang moral serta mana yang merupakan bagian ritual yang harus di taati oleh penganutnya.

Bahan bacaan :

Adjam, Khobibul. 2017. Sejarah pemindahan Masjid Agung Sidoarjo. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Adab dan Humaniora. UINSA.

Izzatul, Azimah. 2018. Studi Tentang Sembahyang Ronde di Klenteng Tjong Hok Kiong Sidokumpul Sidoarjo. Studi Agama. Ushuluddin dan Filsafat.UINSA

Nugroho, Rizki.2017. Pekerja Industri Gula di Sidoarjo 1870 – 1930”. Ilmu Sejarah. FIB. UNAIR.

Purwanti, Ninik.2011.Etnis Tionghoa di Surabaya Pada Masa Revolusi (1945-1949)”. Ilmu Sejarah. FIB. UNAIR.

Rochani, Elyas. 2009. Perekonomian Etnis Tionghoa di Surakarta Tahun 1959-1974. Pendidikan Sejarah. FKIP. Universitas Sebelas Maret.

Mariyatul, Noviani,“Bertahan Hidup Dalam Masa Yang Sulit: Kehidupan Sehari-haricmasyarakat Tionghoa Pada Masa Revolusi di Surabaya”, Jurnal Al-Qalam, Vol.25 No. 3 November: 553.

Pelu, Musa dan Purwananta, Hieronymus. 2020. ” Pasang Surut Relasi Tionghoa-Jawa di Surakarta, Studi Kasus Etnis Tionghoa di Kampung Balong”, dalam jurnal Patanjala, Vol. 12 No. 1 April : 22

Nafa Mega
Penulis: Nafa Mega
Tentang Saya
Menjadi kalimat lebih sederhana daripada menjadi kata, frasa ataupun klausa.

Find me on 
 ig24 megatyaraa
 tw24 Nafaisme
Tulisan Lainnya

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email admin[at]rumahsosiologi[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER