Etnometodologi

Mengenal Etnometodologi

Bagi para teoritisi Etnometodologi, sosiologi tradisional memahami dunia sosial yang dikontruksinya dengan menyembunyikan atau bahkan menghilangkan praktik-praktik sehari-hari sebagai aspek paling esensial dari rujukan sumber penegetahuan sosial (etnometode). Maka dari itulah, para etnometodogi menganggap bahwa para sosiolog itu membuat  pelukisan dan abstraksi-abstraksi atas realitas yang semakin menyesatkan dari realitas sehari-hari.

Maka untuk mebalikkan kritik awal kaum etnometodolog, para sosiolog tradisional beranggapan bahwa etnometodologi merupakan konsep ilmu yang berfokus pada hal-hal sepele dan mengabaikan isu-isu dan fenomena-fenomena penting di masyarakat. Tentu semua pakar sosiologi akan mempertahankan pendirianya masing-masing, termasuk penyangkalan para etnometodolog terhadap tuduhan yang dilontarkan pada dirinya, tuduhan bahwa etnometodologi lahir dan tumbuh dalam keterbatasan. 

Tetap dalam pendiriannya, etnometodologi menawarkan rangakaian prosedur yang logis atau metode dimana masyarakat berangkat untuk memahami dan bertindak untuk mengenal diri dan lingkungan mereka. Dari pendirian itulah, etnometodologi menyebutkan bahwa isu-isu sosial yang amat penting untuk dikaji adalah kehidupan sehari-hari yang menjadi realitas sosial orang awam.

Etnometodologi tidak berfokus pada aktor atau individu tetapi pada anggota. Anggota yang menjadi fokus perhatiannya bukan susunan unit-unit didalam keanggotaan tersebut, namun, kegiatan-kegiatan atau praktik-praktik cerdik yang mereka gunakan untuk menghasilkan hal yang menurut mereka menjadi faktor penentu kestabilan struktur, baik itu struktur bersekala kecil atau besar.

Namun menurut saya dalam perdebatan kedua belah pihak itu, antara sosiolog tradisional yang dianggap telah menempatkan aktor sebagai orang-orang yang dungu, dan penganut-penganut etnometodologis, terdapat secuil miss komunikasi keilmuan diantara mereka berdua. Para penganut etnomenotodologi tidak melihat keilmuannya dalam cakupan mikrokospik sosiologi, karena etnometodologi seperti yang diungkapakan diatas, yang menjadi praktik-praktik cerdik dalam golongan, baik sekala kecil ataupun besar.

Misskomunikasi terjadi karena para penganut etnometodologi berkecenderungan menempatkan makna dalam pemikiran filsafat bahwa dirinya layak menganalisis level makro dari analisis praktik-praktik anggota itu dalam sekala besar struktur. Hanya saja, mereka cenderung mengabaikan kenyataan bahwa  relitas skala makro (struktur) mempunyai kompleksitas praktik-praktik dalam ruang atau latar yang berbeda-beda dan tidak bisa dianalisis sekaligus. bila mereka mencoba menganalisis struktur sekala besar, dan berusaha menegaskan dirinya merupakan integritas mikro dan makro, maka saya yakin akan mendapat kesusahpayahan yang mendalam dalam mengusahakannya.

Para sosiolog pada umumnya mensegmentasikan level mikro-makro itu atas keilmuan dan batas-batas prosedur akal seorang pengamat dalam menganalisis fenomena-fenomena realitas sosial, seperti teropong yang memperkecil dan memperbasar penglihatan terhadap objek masyarakat yang merupakan sumber utama lahirnya ilmu-ilmu sosiologi, dan bukan konsep penempatan dirinya(etnometodologi) pada struktur makro atau mikro.

Disitulah letak kesalahan fatal etnometodologi yang tidak menyadari dirinya. Meskipun benar ungkapan mereka bahwa etnometodologi bisa menganalisia sekala makro struktur sosial memakai pendekatannya, namun dalam analisis masyarakatnya, tidak bisa dipungkiri mereka harus memulainya dari skala terkecil praktik-praktik itu, karena seperti yang saya bilang, praktik dalam masyarakat itu mempunyai dasar-dasar kompleksitasnya sendiri. Tak mungkin kiranya menganalisis struktur negara, hanya dengan menekankan pada pembicaraan-pembicaraan presiden terhadap rakyatnya, meskipun itu jangkupannya struktur besar, namun demikian itu merupakan sekala kecil kajian sosiologi, jangkupannya hanya sebatas hermeneutik autor (presiden) pitado(teks tersirat atau konteks) dan audien(masyarakat).

Namun, di lain sisi,saya setuju dengan apa yang diusahakan etnometodologi selama ini, perlunya analisis atas praktik-praktik dalam keanggotaan yang cenderung tidak menjadi perhatian para pakar sosiologi yang sibuk dengan analisia level makro itu. Saya percaya dengan dua varietas analisis institusi dan analisis percakapan itu menentukan keseimbangan kesehari-harian unit-unit dan praktik-praktiknya didalam keanggotaan, karena tak bisa dipungkiri pula bahwa yang namanya kebiasaan dalam kehidupan itu seiring berjalannya waktu menanamkan implus-implus design cultural kepada unit-unitnya, dan menjadikan tindakan mereka berdasarkan kebiasaan tersebut menjadi sesuatu yang nyaman dan menenangkan bagi kehidupan. Apabilah terlihat kejanggalan praktik-pratik yang tidak sesuai dengan kebiasaan yang seimbang itu, maka dengan cepatlah mereka menanyakan dan mempertimbangkan kejanggalan praktik-pratik itu.

Maka dari itu, terdapat kompleksitas ruang diamana praktik-praktik didalamnya berjalan, yang satu sama lain berbeda-beda. Ruang keluarga menawarkan praktik cerdik yang berbeda dari pada ruang kost-kostan. Seperti yang dijadikan contoh oleh Garfinkel, institusi kampus menawarkan praktik tersendiri, sedemikian institusi rumah sakit juga menawarkan praktik-praktik berbeda. Maka dari itu penempatan kalimat percakapan dalam ruang-ruang tersebut semestinya berbeda-beda, karena percakan dan manipulasi percakapan menurut saya mengikuti situasi dan kondisi lingkungan untuk bisa seimbang dan diterima.

Memang apa yang saya tuliskan diatas tersebut tidak sama dengan apa yang dimaksud oleh Garfinkel dan pengikut-pengikutnya. Maka saya sendiri dalam belajar tidak pernah membatasi diri untuk menyebut suatu bahasan dalam keilmuan yang kadang memiliki makna pemahaman yang sama, dengan pendekatan, penyebutan dan prespektif yang berbeda. Perdebatan antara struktur mengendalikan superstruktur atau superstruktur mengendalikan strukture misalnya, itu sama saja kita bicara sebelah kanan atau kiri, karena kedua-duanya sama-sama benar, maka selayaknya kita tak perlu mengambil pusing perdebadan tersebut. maka dari itu, saya sepakat dengan konsep sosiologi reflektif “tanpa bicara perdebatan dan persilangan argumen dalam dunia sosiologis, keilmuan sosial harus tahu siapa dirinya dan apa yang sedang dilakukannya”.

Hendaknya sekarang kita keluar dari dramatisasi keritik-kritik dan kegelisahan sekaligus kejenuhan keilmuan sosial yang penulis jabarkan diatas. Lebih baiknya kita kembali ke-blueprint etnometodologi yang dimaksud Garfinkel dan pengikutnya, seperti apa yang telah terbukukan.

Diversifikasi Etnometodologi

Etnometodologi “diciptakan” oleh Garfinkel pada permulaan 1940-an akhir, tetapi pertama kali disitematiskan dengan penerbitan karyanya, Studies in Etnometodologi, pada 1967. Selama bertahun-tahun, etnometodologi tumbuh meluas dalam sejumlah arah yang berbeda-beda, nampaknya karena pertumbuannya yang begitu pesat itu terjadi setelah launching Study in Etnometodology. Zimmerman menyimpulkan bahwa sudah ada beberapa varietas etnometodologi yang meliputi “sejumlah garis-garis penelitian yang kurang lebih khas dan kadang-kadang tidak cocok”.

Sepuluh taun kemudian, Paul Atkinson menemukan gejala kohesi didalam etnometodologi dan berargumen bahwa beberapa etnometodologi telah menyimpang jauh dari premis-premis yang mendasari pendekatannya. Maka spirit perjuangan teori etnometodologi itu, telah mengalami sejumlah “kesulitan” seperti yang saya ungkap pada kolom pendapat saya sebelumnya mengenai “ketidaktauhan diri yang merupakan kesalahan fatal etnometodologi”, kesulitan itu dirasa semakin meningkat hingga sekarang ini.

Seperti yang saya bilang diatas, bahwa setudi etnometodologi memiliki kompleksitas dimensi praktik-praktik cerdas dalam ruang yang berbeda-beda, maka dirasa kedepannya akan banyak muncul varitas-varitas lainnya mengenai etnometodologi dan fenomene-fenomena sosial yang ia pijaki, dengan munculnya varietas-varietas tersebut, otomatis “kesulitan-kesulitan” dalam teori tersebut bertambah pula.

Dua Varietas yang Menonjol

Dalam buku George Ritzer yang membahas etnometodologi, Ia mengungkapkan adanya dua varietas yang menonjol dalam etnometodologi yaitu, Studi atas Latar Belakang dan Analisis Percakapan.

Studi atas Latar Belakang, ialah studi-studi etnometodologis mengenai latar belakang kelembagaan, seperti studi-studi etnometodologi awal yang dilakukan Garfinkel dan para koleganya, yang membentuk situasi yang berbeda di rumah dari kebiasaanya, dengan membawa latar dan praktik anak kos-kosan.

“......Bagi para etnometodolog, batasan eksternal demikian tidak memadai untuk menjelaskan apa yang benar-benar berlangsung di dalam lembaga-lembaga tersebut. Orang-orang tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal itu; lebih tepatnya, mereka menggunakannya untuk menyempurnakan tugas mereka dan menciptakan lembaga tempat mereka berada. Orang menggunakan prosedur-prosedur praktik mereka bukan hanya untuk membuat kehidupan sehari-hari mereka tetapi juga untuk memproduksi secara besar-besaran produk-produk lembaga mereka.”

Dalam bukunya, George Ritzer mencontohkan, kepolisian menentukan tersangka kriminalitas bukan hanya mengikuti deretan-deretan peraturan yang didefinisikan dengan jelas dan akan dipatuhi, tetapi lebih tepatnya kepolisian menggunakan deretan akal sehat dan prosedur-proedur logis (etnometode) untuk menentukan tersangka kriminalitas tersebut.

Analisis Percakapan, merupakan varietas kedua etnometodologi yang menegaskan bahwa tujuan analisi percakapan adalah “mewujutkan pegertian yang rinci atas struktur-struktur fundamental interaksi percakapan”, karena percakapan merupakan hal yang tertata secara internal dan berurutan, fokus analisis percakapan adalah pembatas-pembatas yang menentukan internal bagi percakapan itu sendiri dan bukan kekuatan-kekuatan eksternal yang membatasi percakan.

Zimmerman merincikan beberapa prinsip cara kerja dasar analisis percakapan. Pertama, analisis percakapan memerlukan himpunan dan analisis data yang sangat rinci mengenai percakapan-percakapan. Data itu tidak hanya menyangkup kata-kata, tetapi juga “keragu-raguan, penyelaan, pengulangan dari awal, kebisuan, penghelaan napas dari hidung, mendehem, bersin, tertawa, kebisingan mirip tawa, persajakan, intonasi, body langguage ketika berbicara, dan semacamnya.

Kedua, rincian paling baik dari suatu percakapan pun harus dianggap sebagai suatu pencapaian yang rapi. Aspek-aspek kecil demikian dari suatu percakapan tidak ditata hanya oleh para etnometodolog; hal itu “pertama-tama ditata oleh kegiatan-kegiatan metodis para aktor sosial itu sendiri”

Ketiga, interaksi pada umumnya dan percakapan pada khususnya mempunyai sifat-sifat stabil yang rapi yang merupakan prestasi-prestasi para aktor tersebut. Dalam melihat percakapan, dapat dipisakan dari proses kognitif para aktor dan tempat percakapan itu terjadi.

Keempat, rangkaian interaksi percakapan diatur berdasarkan giliran demi giliran atau berbasis lokal, diantara percakapan “yang dibentuk-konteks” dan “yang membentuk konteks”. Yang akan menjadi kausalitas percakapan dalam suatu latar, melalui hermeneutik dialektis percakapan antara autor(pengucap dan penyampai pertama) yang menyampaikan teks secara lisan(konteks) yang akan dielaborasi oleh audien(prespektif) dan menentukan sebuah susunan kausalitas percakapan, perkataan pertama atau membentuk-konteks giliran awal menjadi bagian dari konteks untuk giliran masa depan(selanjutnya). (NB: Mengandung makna pemahaman metode Vestehen dan kausalitas  Weber hanya saja memakai pendekatan “interaksi percakapan”).

Eksperimen-eksperimen Pelanggaran

Eksperimen pelanggaran dilakukan semata-mata agar mendapatkan penerangan mengenai bagaimana dan metode-metode apa yang digunakam orang untuk menyusun keseimbangan realitas sosial, ketika kita melawan apa yang menjadi kebiasaan, kenyaman dan seuatu tatanan seimbang masyarakat, maka seketika itulah sebuah tatanan menuntutkan kita untuk berprilaku semestinya, maka dari itu sebuah studi experimen pelanggapan dilakukan Garfinkel untuk menegetahui seberapa jauh orang-orang itu menjaga keseimbangan dan praktik-praktik cerdik yang melatar belakanginya.

Gerfinkel pada karyanya yang lebih awal memakai sebuah contoh permainan tic-tac-toe, aturan yang baik adalah menempatkan tanda O atau X itu didalam sel, namun ketika ada seorang yang sengaja mengubah aturannya, dengan menempatkan sebuah simbol tepat digaris sel, maka pemain lainnya pasti akan menegurnya, dan itu akan menimbulkan berbagai expresi dan interaksi yang berlainan dari praktik-praktik biasanya yang cenderung seimbang dalam peraturan yang benar. Dan tindakan penrekontruksian ulang permainan tic-tac-toe yang dilakukan pemain kedua dengan menegur pemain pertama yang melanggar, akan dipelajari oleh para etnometodologi untuk melihat bagaimana dunia kehidupan sehari-hari dalam permainan tic-tac-toe direkontruksi.

Pada eksperimen keduanya yang di lakukan Garfinkel dan mahasiswanya dengan menyuruh mahasiswanya bertingkah selayaknya anak kos di rumanya masing-masing, maka pelanggaran atas sebuah kebiasaan itu akan menimbulkan praktik-praktik yang menegur si mahasiswa itu, karena tidak bertingkah laku sebagaimana biasanya dia bertingkah laku, maka fenomena itu akan menjadi sebuah isu menarik bagi kaum etnometidologi untuk meneliti interaksi dan percakan yang timbul dari praktik-praktik cerdas tersebut. bisa jadi, peneguran atas ketidakbiasaan mahasiswa itu bertingkah laku dirumahnya sendiri bernada sindiran, empati, atau olok-olok.

Apakah kamu kesurupan?

Kena angin apa kamu tadi di jalan?

Ada apa dengan kamu?

Selain para anggota keluarga itu melontarkan pertanayaan-pertanyaan itu, mereka juga berusaha menjelaskan kepada dirinya sendiri apa maksudnya tindakan yang dilakukan mahsiswa itu, apa yang terjadi dibalik tingkah lakunya itu?, apakah dia ada masalah?, apa yang menjadi penyebab dia sangat aneh hari ini?. karena itulah pertanyaan-pertanyaan yang cobah dijawab oleh anggota-anggota keluarga itu mengenai prilaku mahasiswa itu adalah usaha untuk mengembalikan tatanan keluarga tersebut ke bentuk biasanya yang setabil dan nyaman.

 

Ach. Roeslan Riefaie
Penulis: Ach. Roeslan Riefaie
Tentang Saya
Peneliti Universitas Airlangga, Penggiat diskusi terbuka magister sosiologi UNAIR, Fokus kajian pada generalisasi teori sosial ke dalam realitas dan ilmu sosial berparadigma profetik khususnya.
Tulisan Lainnya