Rakyat Jelata dalam Genggaman Kota yang Meraksasa

Kita tidak bisa menukilkan, bahwa perkembangan kota yang meraksasa dan infrastruktur yang memadai merupakan jawaban kita mengenai konsep kesejahteraan yang kita deskripsikan selama ini, namun kita tidak bisa menafikan pula bahwa pada setiap kesejahteraan yang terukir dalam keberlangsungan sejarah, dibaliknya tersusun beribu-ribu tetesan air mata dan darah yang seharusnya patut kita pertimbangkan. Hal itu tidak hanya berhenti pada perjuangaan Indonesia untuk menggapai kemerdekaan, melalui butir-butir darah pejuang yang menetes ketanah, namun pengorabanan semacam itu juga patut kita pertanyakan dalam proses beranjaknya Indonesia menjadi negara yang bisa di katakan “maju”, di mana tangis-tangis kemiskinan masih mengisi pelosok-pelosok negeri ini.

Benak saya hanya bisa sedikit membayangkan secara samar-samar, di mana pertumbuhan kota Megapolitan dengan metafora kehidupan yang menyertainya, akan menghilangkan konsep “kesederhanaan” dalam diri kita, tentu orientasi ekonomi akan mengubah wajah kehidupan ini, di mana struktur kapitalis dan kepentingan materi tersebut memaksakan kita untuk lebih condong ke kehidupan yang lebih hedonis. Seperti yang diungkap Lewis Munford dalam fase keempat “megapolis” yang berkembang dari fase ketiga “metropolis”, manusia dicirikan berperilaku hanya berorientasi pada materi, buruknya sistem birokrasi dan kecondongan ke arah standarisasi produk.

Rakyat kecil, kawulo yang jelata, tidak pernah mempertanyakan ke mana pemerintah membawah corak infrastruktur negara ini, dan kalaupun mereka mempertanyakannya, mereka juga tak bisa apa-apa, Asalkan tak ada kemunafikan dari petinggi-petinggi Negara, tak tahu dan tak mempertanyakannya pun tak jadi masalah. karena itu semua sudah masuk dalam denyut nadir penderitaan dan perhitungan mereka, mengenai pilihan rasional di atas kerasionalan kehidupan mereka sendiri.  

Istilah “daya beli masyarakat menurun” misalnya, terdapat dua permasalahan di dalamnya, yaitu memang masyarakat tak mampu untuk beli, ataukah karena peran pasar online yang meraja rela. Kita akan menanggalkan persoalan itu dan mencoba melihat realitas. pasalnya, memang sebagian golongan lebih memilih mempermudah dirinya untuk membeli suatu produk melalui pasar online, namun bagi sebagian golongan, membatasi konsumsi merupakan jawaban jitu untuk mendapat kesejahteraan kehidupan dalam keluarganya.

Gaya hidup masyarakat menjelang bulan suci Ramadan dan memasuki hari raya misalnya, konsep kesederhanaan dalam puasa seolah berubah bentuk menjadi ajang pesta industrialisasi pasar yang begitu hedonis, namun bagi sebagian orang tak mampu, yang saya lihat di pingiran-pingiran kota dan desa-desa kecil yang sering kita sebut “duafa” itu, memilih kesederhanaan dalam berbuka puasa juga bukan kehendak mereka, jikalau mereka mempunyai uang yang lebih, sebagaimana orang yang ngabuburit dan pulang membawa sekeranjang makanan itu.

Atau dalam proses menjelang hari raya Idul Fitri misalnya, bagi sebagian orang hari raya itu merupakan suatu kemenangan yang memang menyenangkan, namun bagi sebagian orang hari raya itu juga kemenangan namun terkadang tidak menyenangkan, di mana jeratan ekomomi memaksakan hal lain kepada mereka.

Kita akan beranjak dari permasalahan kemiskinan dan beberapa kegilaan-kegilaan yang disebabkan kemiskinan (kriminalitas), karena dibalik kegilaan, terdapat sistem struktur yang lebih gila lagi yang melingkupinya, meskipun isu kemiskinan merupakan hal yang sangat sulit untuk di selesaikan di Indonesia dewasa ini, namun tak selayaknya juga kalau kita menyingkur dari permasalahan tersebut.

Permasalahan dalam kota megapolis bisa kita jabarkan dalam beberapa bagian, masalah pertama adalah masalah kependudukan dengan didukungnya mega urban pada setiap kota-kota besar. kedua adalah masalah infrastruktur kota karena kelembagaan dan regulasi yang buruk dalam kepemerintahan misalnya. masalah ketiga adalah masalah lingkungan, dengan semakin tidak teraturnya kehidupan masyarakat di kota-kota besar. masalah keempat adalah kebudayaan seperti dehumanisasi dan lemahnya liberasi atas kaum-kaum yang terlemahkan dan dilemahkan oleh sistem. dan masalah yang terakhir adalah masalah ekonomi yang semakin lama semakin mencolok dengan berlangsungnya kegiatan-kegiatan kapitalistik di kawasan tersebut.

Maka dari lima permasalahan yang peneliti segmentasikan di atas, ada beberapa peran yang kiranya perlu didistribusikan ke beberapa kelompok. Beberapa kelompok yang saya maksud adalah tiga kelompok yang mempunyai peranan identik terhadap perkembangan kota, yaitu, pemerintah, pengusaha (si pemilik modal), dan rakyat jelata. Pertama, pemerintah mempunyai peranan penting dalam infrastruktur kota agar bisa diterapkan secara efisien, karena bisa jadi faktor kepadatan penduduk dan memudarnya batas-batas administrasi kota, infrastruktur yang sebelumnya memadai, berubah menjadikan infrastruktur yang tidak memadai lagi, seperti infrastruktur jalan dan permasalahan kemacetan di kota-kota besar misalnya.

Penyediaan transportasi umum misalnya, untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar, bisa di katakan tak memberi wujud efisien, karena dapat dibilang daya minat masyarakat sendiri terhadap transportasi umum juga bisa di katakan rendah, karena ada beberapa hal yang kerap diperhitungkan orang dalam menggunakan transportasi umum, hal yang paling menonjol adalah ketidak nyamanan dan kekhawatiran pengguna transportasi, karena bisa dikatakan kriminalitas masih sering terjadi di dalamnya.

Kedua, Peranan si pemilik modal, yang menjadi pengusaha di wilayah kota-kota besar, dari segi kegiatan industri di kota tersebut, seperti berdirinya toko-toko dan perumahan-perumahan yang dikonstruksi secara karikatif. Dalam beberapa aspek memang keserakahan itu penting dalam laju kapitalisme kota, namun kita harus juga mempertimbangkan keserakahan kapitalis tersebut dalam aspek sosial dan budaya, di mana si pemilik modal itu seharusnya, tidak hanya mengembangkan usahanya secara karikatif, tapi selayaknya juga mereka bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat sekitar usaha mereka.

Karena beberapa hal yang menjadi pertimbangan orang pula, yaitu kesenjangan sosial yang semakin tinggi, antara si kaya dan si miskin. Dalam hal itu, kekayaan bisa dikatakan menjadi faktor utama kesenjangan tersebut, yang melemahkan sebagian golongan atas nasib. Memang benar hidup tak bisa bergantung pada nasib, namun kita juga tak bisa memandang sebelah mata dan menisbahkan bahwa kaya miskin itu hal yang sewajarnya dalam kehidupan, maka kita seharusnya bukan hanya mewacanakan sedekah atas si kaya yang dermawan kepada si miskin, tapi kita juga harus bisa mempertanyakan kebebasan si miskin tersebut, sebagaimana si dermawan itu.

Dan ketiga untuk rakyat sendiri, hal yang diutamakan dalam peranannya mengenai pembangunan kota adalah dalam aspek lingkungan di mana mereka tinggal, maka rakyat harus menjaga rumahnya sendiri sebagaimana ketidak mungkinan semut berperan untuk menjaga rumah lebah, maka kita harus menjaga lingkungan dalam wilayah yang menjadi tempat tinggal kita sendiri, menjaga kebersihan, kerukunan, dan lain sebagainya.

Kita bisa melihat lingkungan tersebut dari beberapa aspek, yaitu lingkungan biologis dan lingkungan sosial, merawat lingkungan agar tetap besih adalah aspek biologis, untuk meredam beberapa hal yang bisa jadi timbul akibat lingkungan yang kotor, termasuk banjir dan timbulnya berbagai macam penyakit. Namun ada hal yang lebih menarik dari itu, yaitu lingkungan dalam kesadaran kolektif (nilai dan norma) masyarakat atau kita sebut sebagai lingkungan sosial, maka lingkungan sosial juga selayaknya kita perhatikan, karena di satu sisi kita memang harus menjaga kebersihan lingkungan biologis, namun di lain sisi, kita juga seayaknya mempertanyakan lingkungan sosial yang sejahtera, meskipun hanya dalam skala kecil perkampungan dan gang-gang perkotaan.

Bila beberapa permasalahan di atas dapat kita bagikan pada masing-masing kelompok atau golongan dengan sangat presisi, seperti masalah kependudukan dan infrastruktur adalah tugas pemerintah, masalah ekonomi adalah tugas para pengusaha, dan lingkungan adalah tugas rakyat. maka tidak sedemikian halnya dengan permasalahan sosial dan budaya, permasalahan tersebut merupakan permasalahan yang sifatnya latensi, yaitu permasalahan yang kita atasi bersama dan kita rawat bersama.

Masing-masing kelompok mempunyai kepentingan yang berbeda-beda, namun permasalahan yang kiranya menjadi problema mendasar menurut saya dari berapa permasalahan yang sempat kita singgung di atas, adalah seperti yang diwacanakan Lewis Munford mengenai buruknya sistem birokrasi, di mana pemerintah dan pengusaha saling berjabat tangan, namun tidak pernah mempertimbangkan nasib-nasib kaum-kaum marginal yang tertindas oleh sistem. Dan kiranya apa yang saya khawatirkan tersebut, sedikit banyak terjadi dalam nuansa perpolitikan Indonesia dewasa ini, di sini bukan maksud saya untuk memberi “sabda” bahwa kekuasaan merupakan hal yang buruk, tanpa mempertimbangkan praktik-praktik yang berkenaan dengan kekuasaan tersebut.

Ach. Roeslan Riefaie
Penulis: Ach. Roeslan Riefaie
Tentang Saya
Peneliti Universitas Airlangga, Penggiat diskusi terbuka magister sosiologi UNAIR, Fokus kajian pada generalisasi teori sosial ke dalam realitas dan ilmu sosial berparadigma profetik khususnya.
Tulisan Lainnya

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email rumahsos.id[at]gmail[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Ingin berkontribusi?

Hobby nulis? Punya info menarik soal jurnal, ebook, atau apapun yang berkaitan dengan sosiologi? Share donk di sini, daripada ditimbun, ntar basi :D. Baca CARA & PEDOMAN MENULIS.

Cari Artikel di Sini