Gender dan Seksualitas

Gender Equality - Sumber. Pixabay ImageGender Equality - Sumber. Pixabay ImagePersoalan gender hingga saat ini menjadi salah satu wacana utama yang hampir tidak pernah absen ketika membicarakan isu-isu kemanusiaan. Wacana tentang hak-hak perempuan menjadi salah satu arus penting dunia bersamaan dengan meningkatnya penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia. Isu tentang gender selalu muncul dalam setiap bidang kehidupan: politik, budaya, agama dan ekonomi.

Sejarah hubungan laki-laki dan perempuan cenderung menempatkan perempuan dalam posisi subordinat laki-laki. Bahkan pada masa sejarah tertentu, seperti masa sebelum kenabian Muhammad di tanah Arab yang biasa dikenal dengan zaman jahiliyah, perempuan tidak dihargai sebagai manusia tetapi lebih sebagai barang atau benda yang bisa diwariskan atau diperjualbelikan. Bahkan, mengubur hidup-hidup seorang bayi perempuan yang baru lahir bukan merupakan hal yang dianggap salah. Pada masa itu, melahirkan anak perempuan dipandang sebagai hal yang membebani keluarga, sebaliknya melahirkan anak laki-laki dipandang sebagai kemulyaan bagi keluarga. Ini terjadi karena laki-laki diposisikan secara sosial lebih tinggi dari perempuan. Di tengah situasi sosial politik dimana banyak terjadi peperangan antar suku, anak laki-laki adalah aset yang sangat berharga untuk menambah kekuatan pasukan perang.

Hingga saat ini pun, perempuan belum sepenuhnya mendapatkan posisi yang sejajar dengan laki-laki. Dalam bidang politik misalnya, representasi perempuan dalam lembaga-lembaga negara seperti DPR/MPR masih jauh dari ideal. Kiprah perempuan pada sektor publik, walaupun sudah jauh meningkat, masih sering memunculkan persoalan-persoalan yang berakar pada masih kentalnya budaya patriarki.

Perkembangan kapitalisme dunia hiburan juga masih sangat jelas menempatkan perempuan tak jauh-jauh dari citranya sebagai obyek seksual. Human Trafficking yang menjadikan perempuan sebagai barang dagangan sampai hari ini masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Iklan-iklan di media massa, baik elektronik maupun cetak, memang sekilas menjadikan perempuan sebagai aktor penting, tapi jika diamati lebih jauh sebetulnya posisi perempuan tidak banyak berubah. Perempuan tampil di media massa sebagai tubuh biologis yang memiliki daya tarik seksual sehingga iklan-iklan itu selalu menampilkan sosok perempuan yang langsing, seksi dan berpakaian minim.

Mendefinisikan Seks dan Gender

Gender dan seks adalah dua konsep yang berbeda. Seks menunjuk pada jenis kelamin yang didasarkan pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara biologis. Perbedaan seks atau jenis kelamin didasarkan pada perbedaan alat-alat dan fungsi-fungsi reproduksi antara laki-laki dan perempuan. Secara biologis, perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, vagina, payudara dan alat biologis lainnya yang memungkinkan perempuan untuk melaksanakan fungsi-fungsi melahirkan, haid dan menyusui. Sementara laki-laki memiliki alat-alat reproduksi seperti penis dan testis

Alat-alat reproduksi ini melekat dalam diri tiap individu laki-laki dan perempuan sejak dari lahir dan fungsinya tidak dapat dipertukarkan. Alat-alat ini bersifat permanen, tidak berubah dan merupakan kodrat.

Sedang gender dapat dimaknai sebagai jenis kelamin yang didasarkan pada pembagian peran yang disematkan pada laki-laki dan perempuan secara sosial. Atau singkatnya, gender adalah jenis kelamin sosial sebagai lawan dari jenis kelamin biologis (seks). Pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan gender diciptakan dan dilestarikan dalam kehidupan sosial. Contoh perbedaan gender adalah persepsi sebagian masyarakat yang menempatkan perempuan berperan di sektor domestik dan laki-laki di sektor publik.

Jika laki-laki dan perempuan mengembangkan perilaku yang berbeda, masyarakat mengasumsikan perbedaan itu terjadi akibat adanya perbedaan seks (jenis kelamin). Laki-laki, secara kodrati, diyakini memiliki sifat dan perilaku yang lebih agresif daripada perempuan, sementara perempuan dipandang memiliki sifat yang lebih pasif. Jika pandangan ini dipercaya sebagai benar, maka laki-laki dan perempuan di semua masyarakat mestinya akan mengembangkan perilaku yang sama. Cara berpikir seperti ini dikenal sebagai biological determinism-suatu pandangan yang meyakini bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan diakibatkan oleh karakteristik biologis yang berasal dari keturunan.[1]

Teori biological determinism ini tidak didukung oleh bukti-bukti yang memadai. Perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan tidak dapat secara langsung dihubungkan melalui hubungan kausal dengan karakteristik biologis. Meskipun biologi bisa saja menciptakan kecenderungan perilaku yang didasarkan pada seks, kecenderungan seperti ini tidak cukup kuat untuk melawan pengaruh sosial dan kultural yang berkembang di masyarakat.

Sejak awal kelahirannya, laki-laki dan perempuan telah mendapatkan perlakuan yang berbeda, baik dari orang tua dan keluarganya ataupun dari lingkungan sosialnya. Anak perempuan diarahkan untuk mengerjakan permainan-permainan yang secara sosial dipandang domain perempuan seperti boneka, masak-memasak, dan permainan-permainan lain yang berkaitan dengan fungsi perempuan di sektor domestik. Sementara anak laki-laki diarahkan untuk memainkan permainan-permainan yang dipandang merupakan domain laki-laki, seperti mobil-mobilan, panco dan permainan lain yang menegaskan sifat agresif laki-laki sebagai pihak yang secara sosial dipandang bertanggung jawab di sektor publik.

Gender Stereotyping

Gender stereotyping menunjuk pada generalisasi yang berlebihan atas perbedaan jenis kelamin yang tidak didukung dengan data-data yang memadai. Bahwa perempuan rata-rata memiliki postur yang lebih pendek dari pada laki-laki adalah fakta biologis. Akan tetapi apakah perempuan secara natural lebih emosional dari pada laki-laki tidaklah sepenuhnya jelas. Ini adalah salah satu model generalisasi yang tidak benar melihat kenyataan bahwa ketika membesarkan anak-anak, masyarakat lebih banyak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menunjukkan sisi perasaannya daripada laki-laki. Masyarakat juga menuntut para ibu—bukan bapak-bapak—untuk lebih menunjukkan afeksinya pada anak-anak mereka.

Rosie the Riveter: Perempuan Amerika pada PD IIRosie the Riveter: Perempuan Amerika pada PD IIContoh lain di mana masyarakat sering membuat generalisasi yang berlebihan adalah pengucilan perempuan dari pekerjaan yang menuntut kekuatan fisik. Disebut sebagai stereotype karena dalam beberapa kasus lain, seperti ketika terjadi peperangan (masa Perang Dunia II) dan laki-laki pergi berperang, perempuan ternyata dapat menggantikan tugas-tugas dan pekerjaan yang ditinggal oleh laki-laki.[2]

Stereotype ini dilestarikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Anak-anak mengetahui dan menginternalisasi stereotype gender dari orang dewasa. Pewarisan stereotype ini dilakukan melalui agen-agen sosialisasi seperti orang tua, guru, teman sepermainan, tokoh agama, dan media.

Gender dan Stratifikasi Sosial

Sebetulnya, laki-laki dan perempuan adalah kategori sosial yang bersifat horizontal (diferensiasi), akan tetapi ketika masuk sebagai bagian dari proses sosial, apa yang semula seharusnya diferensiasi, oleh masyarakat dapat diperlakukan sebagai stratifikasi.

Sejarah panjang perjalanan umat manusia menunjukkan bahwa perempuan hampir selalu memainkan peran di belakang laki-laki. Secara general, laki-laki memiliki kekuatan fisik dan sosial serta status yang lebih tinggi daripada perempuan, terutama di dunia publik. Laki-laki cenderung diberi kesempatan yang lebih besar untuk memegang sektor publik, menciptakan hukum dan peraturan, serta mendefinisikan masyarakat, bahkan juga mengendalikan perempuan. Dominasi laki-laki dalam masyarakat inilah yang biasa disebut dengan patriarki.[3]

Pendefinisian atas dunia ini banyak didominasi oleh laki-laki karena laki-laki lah yang lebih banyak berbicara di depan masyarakat seperti melalui ceramah, tulisan atau otoritas formal dan informal. Standard nilai dalam masyarakat lebih banyak ditentukan oleh definisi laki-laki atas apa yang dipandang baik dan apa yang dipandang buruk.

Situasi ini sering kali menyebabkan terjadinya ketidakadilan perlakuan terhadap perempuan. Misalnya, dalam masyarakat tertentu, perempuan yang pulang larut malam akan dipandang dengan negatif sebagai perempuan yang tidak baik. Hal ini tidak terjadi bila laki-laki yang melakukan hal yang sama. Bisa saja hal ini dipandang sebagai cara masyarakat untuk melindungi kaum perempuan yang dipandang rawan jika keluar terlalu malam. Yang jarang disadari adalah bahwa sebetulnya persoalannya bukan pada perempuan tapi pada sistem sosial yang menciptakan rasa tidak aman bagi perempuan. Dan tentu saja yang rasa tidak aman itu muncul karena laki-laki sering kali memandang perempuan sebagai obyek kekerasan seksual atau kekerasan fisik lain.

Dalam banyak lapangan kehidupan, seperti pendidikan dan politik, masyarakat tak jarang memperlakukan perempuan berdasarkan prasangka dan diskriminasi gender yang didasarkan pada asumsi bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya daripada perempuan. Persepsi inilah yang biasa dikenal dengan sexism.

Sexism tak jarang menyebabkan perempuan berusaha menghindari keinginan untuk meraih kesuksesan publik yang selama ini dipandang sebagai domain maskulin. Ini bisa saja terjadi karena perempuan tidak mau disebut kurang feminin atau tidak memiliki sifat keibuan. Sexism juga tak jarang memunculkan perasaan inferior perempuan terhadap laki-laki.[4]

Catatan

[1] Shepard dan Greene, Sociology and You, (tt: tp, ttt), 310-311.

[2] Steve Bruce dan Steven Yearley, The Sage Dictionary of Sociology, (London: Sage Publications, 2006), 121.

[3] George D. Zgourides dan Christie S. Zgourides, Cliffs Quick Review: Sociology, (Chicago: IDG Books Worldwide, Inc., 2000), 118.

[4] Ibid., 119.


DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email rumahsos.id[at]gmail[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Ingin berkontribusi?

Hobby nulis? Punya info menarik soal jurnal, ebook, atau apapun yang berkaitan dengan sosiologi? Share donk di sini, daripada ditimbun, ntar basi :D. Baca CARA & PEDOMAN MENULIS.

Cari Artikel di Sini