Sosialisasi dan Pembentukan Diri

Sosialisasi merupakan proses yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Tidak mungkin membayangkan masyarakat manusia tanpa proses sosialisasi. Letak penting proses sosialisasi adalah fungsinya sebagai media belajar bagi masyarakat untuk memahami dan membentuk dunianya. Tanpa sosialisasi, manusia lebih mirip sebuah benda daripada seorang pribadi yang utuh. Melalui sosialisasi, manusia belajar berkomunikasi satu sama lain dan menyampaikan makna-makna.

Manusia tidaklah terlahir dengan membawa perbekalan pengetahuan bersamanya. Ia lahir dalam kondisi tidak tahu apa-apa. Orang-orang terdekatnya kemudian mengenalkan makna kata-kata kepadanya sehingga dia mulai belajar memahami apa yang ada di sekitarnya melalui makna kata-kata. Ia juga belajar mengenal nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat melalui keluarga dan lingkungan pergaulan. Proses inilah yang disebut dengan sosialisasi.

 Apa itu Sosialisasi?

Kata sosialisasi menunjuk pada proses asimilasi seorang individu ke dalam kelompok-kelompok sosial. Sosiologi memakai istilah sosialisasi untuk menjelaskan proses manusia mengalami hidupnya dalam dunia sosial yang melalui proses ini manusia mengembangkan potensi-potensi kemanusiaannya dan mempelajari kebudayaan. Proses ini dijalani seumur hidup manusia (Macionis 2008:116).

Sosialisasi merupakan proses belajar untuk menjadi anggota dari sebuah masyarakat yang dengannya kita menjadi makhluk sosial. Menjadi makhluk sosial adalah proses yang berlangsung seumur hidup yang dilakukan melalui interaksi bersama orang lain dan berpartisipasi dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Sosialisasi merupakan proses yang dengannya manusia memperoleh identitas sosial dan perannya dalam kehidupan masyarakat (Scott 2006:164).

Tidak seperti binatang yang perilakunya lebih banyak atau seluruhnya ditentukan secara biologis, manusia membutuhkan pengalaman hidup dalam dunia sosial untuk mempelajari kebudayaannya sendiri dan untuk dapat bertahan hidup. Pada dunia binatang, perilaku, sifat dan kecenderungan-kecenderungannya sudah ditentukan sejak awal baginya secara instingtif. Binatang buas seperti harimau sejak awal telah memiliki insting sebagai pemangsa daging. Insting ini memang diasah dalam proses belajar dari lahir, tapi insting ini sangat mendasar sehingga hampir mustahil kita membayangkan terjadinya perubahan, misalnya perubahan pola makan harimau dari hewan karnivora yang memakan daging berubah menjadi herbivora yang memakan tumbuhan. Perubahan seperti ini nyaris mustahil karena perilaku dan kebiasaan-kebiasaan hewan mengarah dengan sangat kuat kepada instingnya. Dengan kata lain, dunia hewan sudah jadi dan disediakan untuknya sejak dari awal tanpa perlu menciptakan dan mengembangkannya.

Ini sangat berbeda dengan manusia. Dunia manusia tidak pernah jadi dan selesai. Manusia selalu belajar memahami dunianya, melestarikannya dan kemudian merubahnya sesuai dengan kebutuhan manusia. Proses belajar, melestarikan dan merubah dunia ini hampir-hampir dalam tingkat yang tanpa batas. Perubahan apapun dapat dilakukan oleh manusia ketika menusia merasa perlu melakukan perubahan. Manusialah yang membangun dunianya sendiri. Dia harus menyiapkan tempatnya sendiri untuk dapat hidup secara layak di dunia ini. Proses manusia, dalam kehidupan sosial, untuk memahami, melestarikan dan merubah dunianya inilah yang kita sebut sebagai proses sosialisasi.

Pengalaman sosial manusia dalam proses sosialisasi adalah juga fondasi bagi pembentukan kepribadiannya. Kepribadian manusia menunjuk pada cara bertindak, berpikir dan merasakan yang telah terpola secara konsisten pada diri seseorang. Kita membangun kepribadian kita dengan cara menginternalisasi hal-hal yang kita temukan di luar diri kita.

 

Perkembangan Manusia: Nature Vs Nurture

Manusia selalu membutuhkan dan bergantung pada orang lain untuk dapat memelihara dan merawatnya. Ini sangat berguna bukan hanya bagi perkembangan fisiknya tapi juga kepribadiannya. Kesadaran dan pengetahuan seperi ini tidak muncul sejak awal. Dulu, banyak orang percaya bahwa manusia dilahirkan dengan seperangkat insting dan perilaku yang sudah ditentukan sebelumnya.

 

Perspektif Ilmu-ilmu Biologis: Peran Nature

Teori Darwin tentang evolusi yang dikemukakan pada tahun 1859 mendorong orang untuk berpikir bahwa perilaku menusia bersifat instingtif yang kita miliki secara alamiah (nature). Ide seperti ini membawa pada klaim bahwa ada orang-orang yang memiliki kecenderungan instingtif untuk menjadi seorang kriminal. Atau dengan kata lain, dia dilahirkan sebagai seorang kriminal. Pandangan seperti ini juga mengklaim bahwa perempuan memang memiliki kecenderungan natural untuk menjadi emosional, sementara laki-laki memiliki kecenderungan natural untuk menjadi lebih rasional. Pandangan seperti ini bahkan memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam keyakinan keagamaan. Dalam dunia Islam misalnya, perbedaan peran gender antara laki-laki dan perempuan tak jarang dipandang sebagai masalah kodrat, sudah ditentukan oleh Tuhan secara biologis. Sebagian muslim percaya bahwa wanita, karena kodratnya, tidak boleh menjadi pemimpin.

Kita juga seringkali memahami berbedaan umat manusia secara salah. Manusia di seluruh dunia mengembangkan perilaku yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain. Akan tetapi perbedaan ini tak jarang dipahami sebagai perbedaan biologis daripada kultural. Sikap semacam ini dalam sejarah terbukti berbahaya (Macionis 2008:116). Munculnya Darwinisme sosial yang menganggap bahwa ada kelompok-kelompok manusia yang tingkat evolusi biologisnya lebih rendah daripada yang lain adalah akibat langsung dari pandangan seperti ini. Darwinisme sosial memiliki kecenderungan untuk meyakini bahwa etnis dan ras tertentu telah mengalami proses evolusi biologis yang lebih maju daripada yang lain. Inilah yang menyebabkan terjadinya kolonialisasi dan perbudakan di dunia. Kelompok ras yang merasa lebih tinggi dari yang lain (kulit putih) merasa memiliki hak untuk menguasai ras yang dipandang lebih rendah (kulit hitam) dan menjadikannya sebagai budak. Bahkan, dalam sejarah Amerika, orang kulit hitam pernah dipandang sekedar sebagai “setengah manusia”.

 

Perspektif Ilmu-ilmu Sosial: Peran Nurture

Pada abad ke-20, penjelasan biologis atas perilaku manusia mendapat gugatan serius. John B. Watson, seorang ahli psikologi, mengemukakan teori behaviorisme. Teori ini mengemukakan bahwa perilaku manusia tidaklah bersifat instingtif tapi diperoleh melalui proses belajar. Oleh karena itu, manusia di seluruh dunia adalah sama (sama-sama manusia yang sejajar). Yang membuat mereka berbeda adalah budaya yang dikembangkan, yang mana satu tempat berbeda dengan tempat lain. Dengan kata lain, bagi Watson, perilaku manusia itu bukan nature tapi nurture.

Pandangan ini tentu saja tidak kemudian menafikan peran nature di dalam perkembangan manusia. Nature tetap memainkan peran penting. Terdapat pengakuan bahwa ciri-ciri tertentu dalam diri manusia diwarisi secara biologis seperti kecerdasan otak dan beberapa bagian dari kepribadian. Hanya saja, perkembangan manusia bukan cuma ditentukan oleh warisan-warisan biologis ini tapi lebih banyak ditentukan oleh bagaimana ia membangun dan mengembangkan warisan-warisan biologis ini secara sosial (Macionis 2008:116).

 

Sosialisasi Primer dan Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi primer dihubungkan dengan fondasi yang dibangun pada masa kecil dimana seorang anak mulai mempelajari pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk dapat menjadi bagian dari masyarakat. Proses ini dilakukan melalui bermacam-macam kegiatan seperti bermain, meniru (imitasi) dan mengamati. Proses ini terutama sekali melibatkan agen-agen utama sosialisasi seperti orang tua, perawat (pengasuh) dan saudara kandung.

Selama fase sosialisasi primer ini, identitas utama seorang individu terbentuk secara sosial. Identitas utama itu contohnya adalah gender, agama dan etnis (Scott 2006:164). Pada masa kecillah, seorang anak diarahkan untuk mengembangkan perilaku yang sesuai dengan identitas dan peran gender yang diinginkan secara sosial. Anak perempuan akan mendapat mainan-mainan yang dipandang wilayah perempuan seperti boneka, sementara anak laki-laki lebih banyak diajarkan permainan yang sifatnya lebih fisikal seperti bermain panco. Sosialisasi waktu kecil juga yang memberikan dasar-dasar keyakinan dan perilaku keagamaan melalui aktifitas-aktifitas keagamaan seperti mengaji di musholla atau TPQ (Tempat Pendidikan al-Quran). Identitas etnis juga dibangun sejak dari kecil dengan cara pengenalan pada karakter dan perilaku budaya yang khas etnis dimana dia hidup.

Sosialisasi Sekunder menunjuk pada pengalaman kompleks dan berlangsung seumur hidup untuk menjadi anggota dari masyarakat atau kelompok kultural tertentu. Dalam proses ini, individu mempelajari keterampilan-keterampilan, pengetahuan dan peran-peran yang sangat luas dan kompleks. Sosialisasi sekunder adalah proses memahami berbagai macam warisan dan karakter kebudayaan yang kita temui selama hidup kita.

Contoh dari sosialisasi sekunder adalah pendidikan. Sekolah, misalnya, adalah tempat dimana individu memperoleh pendidikan formal untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat menjadi bagian dari masyarakat tertentu. Pada sosialisasi di lembaga pendidikan, guru memainkan peran sentral sebagai agen utama sosialisasi. Lembaga pendidikan juga dapat menjadi tempat untuk mempelajari budaya secara lebih informal melalui pergaulan dengan teman-teman sepermainan. Bersama dengan temen-temen sepermainan inilah, individu mempelajari peren-peran, berusaha memahami nilai-nilai dan belajar membangun identitas.

 

Proses yang berlangsung secara sosial dan terus menerus

Sosialisasi adalah proses yang tidak pernah berhenti dan selalu dalam proses menjadi. Individu terus memperbarui definisinya atas dunia dan definisinya atas identitas serta peran yang harus dimainkannya sendiri dalam masyarakat. Proses memperbarui ini berlangsung selalu dalam kaitannya dengan dunia sosial, bukan proses yang terisolasi dan soliter. Individu bisa jadi memerlukan waktu untuk melakukan perenungan atas identitas dan perannya sendiri dalam situasi yang seakan sendirian (di dalam kamar misalnya), akan tetapi sesungguhnya, ketika melakukan ini, individu tidak bisa dianggap benar-benar sendirian. Ia akan selalu merenungkan dan memikirkan ulang identitas dan peran-perannya dalam kaitannya dengan hubungan dengan orang lain. Ini karena individu dikatakan memiliki identitas dan peran spesifik selalu dalam kaitan dan perbandingannya dengan identitas dan peran orang lain.

Bagi orang yang melakukan konversi agama, misalnya, memutuskan untuk pindah agama bisa jadi merupakan proses yang berlangsung lama dan hanya dia yang mengetahui perjalanan spiritualnya. Pertimbangan seseorang untuk melakukan konversi agama tidak hanya pada hubungannya dengan Tuhan tapi juga dengan persepsi masyarakat tentang identitas keagamaan yang ia anut. Orang akan juga mempertimbangkan reaksi masyarakat, keluarga dan orang-orang terdekatnya ketika memutuskan untuk pindah agama. Jadi, walaupun perenungannya dilakukan secara pribadi, tanpa melibatkan orang lain secara fisik, sebetulnya tindakannya bersifat sosial.

Setiap hari individu dihadapkan pada pilihan-pilihan, baik itu menyangkut hal-hal yang sangat mendasar seperti keyakinan keagamaan ataupun hal-hal yang biasa dan kurang penting seperti memilih menu pencuci mulut setelah makan. Ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan itu, individu harus menentukan keputusannya untuk mengambil atau melakukan salah satu dari pilihan-pilihan yang tersedia.

Menentukan pilihan, walaupun seakan bersifat personal, adalah juga tindakan sosial. Pilihan-pilihan itu akan sangat dipengaruhi oleh warisan nilai-nilai kultural yang disosialisasikan kepadanya selama hidup. Bahkan, pilihan-pilihan yang tersedia untuknya pun sebetulnya sudah ditentukan secara sosial. Masyarakat memberikan alternatif-alternatif pilihan yang boleh dan halal dipilih pada anggotanya. Bagi masyarakat, apa yang dipandang tabu dan tidak halal itu bukanlah pilihan. Masyarakat juga akan cenderung menyediakan pilihan-pilihan yang memang tidak akan merusak sistem bersama yang telah dibangun masyarakat karena setiap masyarakat memiliki kecenderungan untuk melindungi nilai-nilai bersama yang diyakini sebagai kebenaran.

Sebagai manusia, kita menghabiskan sebagian besar waktu kita dengan berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Isolasi dari interaksi dengan orang lain bisa menjadi hal yang berbahaya. Melalui interaksi, kita mempelajari ekspektasi-ekspektasi masyarakat dan menerapkannya sebagai ekspektasi kita sendiri (Stolley 2005:61).

Keberhasilan suatu proses sosialisasi terletak pada kesesuaian antara ekspektasi-ekspektasi masyarakat dan ekspektasi yang terdapat dalam diri individu. Salah satu contoh yang sangat menonjol adalah keberhasilan sosialisasi tentang ibadah haji dalam masyarakat kita. Jika kita tanya pada seorang muslim, apakah ia ingin menjalankan ibadah haji, muslim manapun akan dengan hati menjawab iya. Tentu saja ini tidak dapat digeneralisasi. Hanya saja dari realitas yang kita saksikan, jelas menunjukkan bahwa sosialisasi tentang haji ini tingkat keberhasilannya luar biasa. Bahkan, saat Indonesia terkena serangan krisis moneter, jumlah jamaah haji dari Indonesia tetap meningkat. Cita-cita untuk menjalankan ibadah haji yang dimiliki oleh umat Islam, walaupun seakan cita-cita pribadi dan subyektif, sebetulnya adalah cerminan cita-cita publik. Ketika terdapat kesesuaian antara cita-cita publik dan cita-cita pribadi maka saat itu kita bisa mengatakan bahwa sosialisasi mengalami keberhasilan.

 

I dan Me

George Herbert Mead mengembangkan konsep diri (self) yang sangat penting untuk memahami proses sosialisasi. Bagi Mead, kita tidak terlahir dengan sebuah “diri” yang sudah jadi. Kita mengembangkan “diri” melalui pengalaman dan interaksi sosial.

Konsep “diri” ini terdiri dari dua fase: “I” dan “Me”. I adalah dimensi diri yang bersifat spontan, impulsive, dan mewakili aktor yang kreatif. Me adalah bagian dari diri yang berusaha menyesuaikan, merefleksikan dan melakukan tindakan sebagai reaksi terhadap orang lain. I dan Me adalah proses percakapan dengan diri kita sendiri. Kita memiliki keinginan-keinginan subyektif yang diwakili oleh I, sementara Me mewakili pertimbangan-pertimbangan dan perkiraan tentang reaksi orang lain atas tindakan dan keinginan kita (Stolley 2005:63–64). Pada Me-lah kita mempertimbangkan kesepakatan bersama masyarakat yang berupa nilai-nilai, norma dan kebiasaan-kebiasaan yang telah tersosialisasikan pada kita melalui interaksi sosial.

Me tak lain adalah miniatur masyarakat yang ada dalam pikiran kita. Keberhasilan suatu sosialisasi tergantung pada kemampuan masyarakat membentuk dan menguasai aspek Me dalam diri individu-individu yang menjadi anggota masyarakat. Me mewakili dimensi konservatif dari individu. Sementara I mewakili dimensi kreatif dan bebas dari individu. I-lah yang menghendaki perubahan-perubahan, sementara Me menghendaki status quo. Jadi, sebetulnya proses yang terjadi dalam diri melalui I dan Me sebetulnya adalah proses yang berlangsung dalam setiap kebudayaan, yaitu proses mewariskan, mempertahankan dan merubah kebudayaan.

Bagi teoritisi interaksionisme simbolik, sosialisasi merupakan proses yang dinamis yang memungkinkan manusia mengembangkan kemampuan berpikir dan mengembangkan cara hidupnya sendiri. Sosialisasi bukanlah proses satu arah dimana aktor menerima informasi, tetapi merupakan proses dinamis dimana aktor menyusun dan menyesuaikan informasi itu dengan kebutuhan mereka sendiri (Ritzer dan Goodman 2004:290).

 *) Tulisan ini diambil dari salah satu bab (Sosialisasi) yang saya tulis di buku kumpulan tulisan Muchammad Ismail dkk, Pengantar Sosiologi, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2013).

Daftar Pustaka

Macionis, John J. 2008. Sociology. 12 ed. New Jersey: Pearson Education International.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Scott, John. 2006. Sociology: The Key Concepts. New York: Roudledge.

Stolley, Kathy S. 2005. The Basics Of Sociology. London: Greenwood Press.