Sociology of Food: Perspektif Marx, Durkheim, dan Feminism

Para sosiolog memiliki cara pandang unik dan beragam dalam melihat realitas sosial, termasuk soal makanan.  Sebagaimana pembahasan kita sebelumnya (Baca: Sociology of Food: You Are What You Eat!), makanan bukan melulu soal rasa, tetapi terutama soal nilai-nilai sosio-kultural sebuah masyarakat. Marx menyebut commodiy fetishism sebagai bagian dari karakter masyarakat kapitalis. Melalui kacamata Durkheim, kita bisa melihat makanan sebagai sebuah totem. Semantara feminist perspective melihat makanan sebagai bagian dari proses gender segregation.

Karl Marx: Commodity Fetishism

Mungkin terasa sedikit canggung menghubungkan makanan dengan “fetish”, kata yang biasa dipakai untuk menunjuk obsesi seksual berlebihan pada bagian-bagian tubuh atau pakaian tertentu, seperti kaki atau pakaian dalam. Marx menggunakannya untuk menunjukkan bagaimana sebuah komoditas dalam masyarakat kapitalis mengalami proses fetishized; penekanan berlebihan terhadap produk atau komoditas itu sendiri, dengan mengabaikan aspek sosial lain, seperti hubungan sosial yang menyertai proses produksi sebuah komoditas. Marx menyebutnya dengan istilah commodity fetishism.

Commodity Fetishism mewakili sikap tak acuh kita atas persoalan-persoalan tak terlihat yang ada di balik semua hal di sekitar kita, selama mendatangkan keuntungan bagi kita. Perlakuan tak manusiawi terhadap hewan-hewan yang diternak untuk suplai kebutuhan restoran cepat saji di seluruh dunia tak pernah menjadi konsen pikiran kita.

Keasyikan kita menikmati cokelat yang meleleh di mulut kita membuat kita tak peduli bahwa boleh jadi cokelat di mulut kita itu diproduksi oleh pekerja anak dengan situasi dan lingkungan kerja yang jauh dari layak. Lebih dari 70% cokelat dunia diproduksi di Ghana dan Pantai Gading.(IRLF t.t.) Yang tak banyak orang tahu adalah bahwa di sana, cokelat—sebuah produk yang dipasarkan ke seluruh dunia dengan citra luxury—diproduksi dengan melibatkan tenaga kerja anak yang sebagiannya mengalami perbudakan. (Johnston, Cairns, dan Baumann 2016:37)

Selain mewakili sikap tak acuh kita, Commodity Fetishism juga meyakini independensi suatu produk dari dunia sosial. Barang-barang komoditi diyakini memiliki nilai intrinsik dalam diri mereka sendiri, bukannya ditentukan oleh kebutuhan sosial manusia (nilai-nilai subyektif kemanusiaan). Karena itu nilai-nilai intrinsik pada komoditas inilah yang menentukan hubungan sosial ekonomi. Para pelaku dalam relasi ekonomi bahkan meyakini mereka tidak memiliki kontrol atas fluktuasi harga pada sebuah komoditas.(Wikipedia 2018)

Dengan demikian, nilai-nilai subyektif dan kesadaran manusia tidak menjadi penentu dalam relasi ekonomi.  Nilai "obyektif" suatu komoditaslah penentunya. Relasi ekonomi dikendalikan dan “diperbudak” oleh obyek di luar diri manusia. Tentu saja, apa yang diyakini sebagai nilai obyektif suatu komoditas sebetulnya berasal dari nilai yang diberikan oleh manusia, hanya saja nilai-nilai ini kemudian mengalami proses obyektivasi sehingga seolah merupakan nilai intrinsik komoditas tersebut.

Durkheim: makanan sebagai identitas komunal

Perspektif Durkheim menawarkan cara pandang yang berbeda dalam melihat signifikansi sosial makanan. Perspektif Durkheimian melihat makanan sebagai sejenis totem yang menandai sebuah kohesi sosial. Totem menunjuk pada gagasan Durkheim tentang tumbuhan atau hewan yang diyakini sebagai sakral dan mampu menghasilkan ikatan dan rasa kebersamaan pada seluruh anggota masyarakat melalui ritual-ritual tertentu.(Johnston dkk. 2016:38)

Makanan juga memiliki fungsi yang tak jauh beda. Makanan dapat mewakili identitas kultural suatu komunitas, bahkan suatu bangsa. Melalui makanan, masyarakat merayakan dan menyelami identitas kulturnya melalui ritus-ritus keagamaan, atau sekedar menemani obrolan di warung-warung kopi. Makanan menjadi totem yang mampu memainkan fungsi integrasi sosial.

Sake, misalnya, menjadi salah satu identitas paling ikonik bangsa Jepang. Sake mewakili kebanggaan bangsa Jepang atas warisan sejarahnya. Sake memiliki kaitan yang sangat kuat dengan kepercayaan, ritus-ritus dan gaya hidup bangsa Jepang (Chang 2015).

Siapa yang tak kenal sate Madura. Sate menjadi salah satu simbol identitas orang Madura. Sate Madura dengan mudah kita temukan di seluruh penjuru nusantara. Aroma sate yang mengiringi kepulan asapnya mengembara ke seluruh pelosok negeri mengikuti kemanapun orang Madura merantau. Sate seakan mewakili jiwa Madura yang bebas dan mandiri.

Feminis perspective: foodwork sebagai identitas gender

Makanan yang tersaji di depan kita mewakili kerja banyak orang yang berperan dalam serangkaian proses produksinya yang biasa disebut sebagai foodwork. Foodwork melibatkan orang-orang yang digaji oleh industri makanan atau warung kopi pinggir jalan untuk menyiapkan makanan yang siap disantap oleh para penikmatnya. Tetapi, jarang dari kita menyadari bahwa ada jenis foodwork yang tidak pernah diperhitungkan sebagai kerja yang layak digaji; foodwork yang dilakukan dalam rumah tangga. Foodwork jenis ini lazimnya dilakukan oleh perempuan.

Aktifitas menyiapkan makanan dalam rumah tangga menegaskan pembagian peran gender yang berlangsung hampir sepanjang sejarah manusia. Foodwork jenis ini mewakili nilai-nilai kultural yang meyakini adanya ikatan kuat antara makanan, pengasuhan dan femininitas. Marjorie DeVault menegaskan “Dengan memberi makan anggota keluarga, seorang perempuan memproklamirkan diri sebagai perempuan”.(Johnston dkk. 2016:39)

 

Rujukan:

  • Chang, Aileen. 2015. “The Indispensable Guide to Sake and Japanese Culture” Diambil 12 Agustus 2018 (http://www.talkativeman.com/sake-and-japanese-culture/).
  • IRLF. t.t. “The chocolate industry has a century-long history of forced and child labor in the production of cocoa.” International Labor Rights Forum. Diambil 12 Agustus 2018 (https://laborrights.org/industries/cocoa).
  • Johnston, Josee, Kate Cairns, dan Shyon Baumann. 2016. Introducing Sociology Using the Stuff of Everyday Life. Routledge.
  • Wikipedia. 2018. “Commodity Fetishism.” Wikipedia: The Free Encyclopedia.