Kebudayaan dan Pikiran Manusia

Bagi Plato, berpikir adalah aktifitas berbicara dengan diri sendiri. Dalam benak filosof seperti Plato, aktifitas berpikir merupakan aktifitas yang bersifat soliter, kontemplatif dan privat. Ketika seorang individu sedang berpikir, Ia sedang dalam kondisi memisahkan diri dari dunia sosialnya. Aktifitas berpikir adalah aktifitas yang memungkinkan individu membangun tembok pemisah antara dirinya dengan lingkungan di luarnya. Gagasan seperti ini mendominasi peta wacana selama berabad-abad. Baru pada akhir abad ke-20, gagasan ini mendapat tantangan.[1]

Aktifitas berpikir meliputi proses sensasi dan atensi. Sensasi menunjuk pada deteksi atas informasi. Atensi menunjuk pada perhatian pada informasi yang masuk (sensasi). Pada sensasi, informasi yang masuk dalam pikiran bisa saja berasal dari luar, baik abstrak atau material, seperti kata-kata orang lain dan barang-barang yang ada di sekitar kita. Proses deteksi dan atensi bukan saja merupakan proses mekanik otak biologis tetapi juga sekaligus merupakan proses sosiokultural. Keputusan pikiran untuk mengabaikan, menolak atau merespon informasi bisa saja berasal dari norma-norma sosial yang tertanam dalam diri individu.[2]

Gagasan Herbert Mead tentang diri (self) dengan amat jelas memperlihatkan bahwa sebetulnya aktifitas berpikir itu sebetulnya bukanlah aktifitas yang benar-benar soliter. Individu bisa saja berada dalam satu ruangan tertutup, tetapi pikiran-pikiran individu selama dalam ruangan tersebut adalah bersifat sosial. Aktifitas berpikir, dalam konteks ini, sebetulnya terdiri dari percakapan antara dimensi ”I” dan dimensi “Me”.

I adalah dimensi diri yang bersifat spontan, impulsive, dan mewakili aktor yang kreatif. Me adalah bagian dari diri yang berusaha menyesuaikan, merefleksikan dan melakukan tindakan sebagai reaksi terhadap orang lain. I dan Me adalah proses percakapan dengan diri kita sendiri. Kita memiliki keinginan-keinginan subyektif yang diwakili oleh I, sementara Me mewakili pertimbangan-pertimbangan dan perkiraan tentang reaksi orang lain atas tindakan dan keinginan kita.[3] Pada Me-lah kita mempertimbangkan kesepakatan bersama masyarakat yang berupa nilai-nilai, norma dan kebiasaan-kebiasaan yang telah tersosialisasikan pada kita melalui interaksi sosial.

Me tak lain adalah miniatur masyarakat yang ada dalam pikiran kita. Jadi proses berpikir yang melibatkan aspek I  dan Me, sebetulnya adalah miniatur interaksi sosial antara diri kita dan masyarakat di sekitar kita. Pikiran-pikiran kita tak lain adalah gambaran dari kehidupan riil di tengah masyarakat.

Model aktifitas berpikir seperti inilah yang menjadi tempat bagi proses penciptaan, pelestarian dan perubahan kebudayaan. Produk-produk budaya bisa saja bersifat material-obyektif, ada di luar pikiran individu, tetapi pada saat yang sama produk-produk itu hanya akan memiliki arti ketika berada dalam pikiran manusia.

Dalam konteks inilah, budaya dimaknai secara sosiologis. Sosiologi melihat budaya bukan dalam perwujudan materialnya tetapi pemaknaannya dalam interaksi antar individu. Pemaknaan ini terjadi secara kognitif. Artinya, sosiologi mempelajari budaya sebagai sesuatu yang ada dalam dimensi subyektif pikiran manusia, atau singkatnya Culture In Mind.

 

Catatan Kaki

*) Beberapa bagian dari tulisan ini pernah saya tulis juga dalam Muchammad Ismail dkk, Pengantar Sosiologi, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2013), 27-42

[1] Karen A.Cerulo, “Establishing a Sociology of Culture and Cognition”, Karen A. Cerulo (Ed.), Culture and Mind, Toward a Sociology of Culture and Cognition, (New York and London: Roudledge, 2002), 1

[2] Ibid., 1.

[3] Kathy S. Stolley, The Basics Of Sociology, (London: Greenwood Press, 2005),  63-64.