Agama Kota

Menurut Paul B. Horton, masyarakat didefinisikan sebagai kumpulan yang relatif mandiri, hidup berdampingan, tinggal di daerah tertentu, memiliki budaya yang sama, dan berinteraksi di antara para anggotanya. Soerjono Soekamto menambahkan bisa dikatakan masyarakat jika jumlahnya minimal dua orang. Dilihat dari dinamikanya, suatu masyarakat tidak selalu mulus, karena pasti ada masalah-masalah yang menghambat kemajuan menuju masyarakat yang aman dan sejahtera. Apalagi masyarakat perkotaan yang sebenarnya sangat heterogen.

Berbicara mengenai Urban Community atau lebih sering di kenal dengan masyarakat kota, pasti akan mengarah pada masyarakat heterogen yang di dalamnya terdapat identitas ras, etnis, agama serta budaya yang beragam. Di antara keberagaman tersebut, salah satu di antaranya adalah tentang agama. Secara sosiologis, agama bukan lahir secara tiba-tiba namun karena adanya suatu kepercayaan yang dianut masyarakat yang mempercayai adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya. .

“ Kesadaran keberagamaan seseorang ditentukan oleh realitas di mana dia hidup “, ungkapan tersebut sangat cocok bila di gunakan untuk melihat kehidupan masyarakat kota sekarang ini. Masyarakat kota dikenal dengan masyarakat yang penuh ambisi, individualis, dan terkadang keagamaannya sangat kurang bahkan terkadang tidak terlalu di pikirkan. Jika dibandingkan dengan masyarakat desa, pasti sangat jauh berbeda apalagi dalam segi agama, masyarakat desa kebanyakan menganggap agama sebagai way of life, dan bahkan agama menjadi dasar dari seluruh kegiatan keduniaan mereka.

Kebanyakan masyarakat kota beranggapan bahwa agama hanya urusan mengenai akhirat dan sebatas menjalankan ibadah saja. Mereka menganggap agama hanya sebagai kebutuhan sekunder yang kapan saja bisa di tinggalkan jika kebutuhan primer lebih penting dan menguntungkan. Dalam hal pendidikan, masyarakat kota cenderung menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah umum yang bonafid, tujuannya agar lebih mudah jika ingin melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Untuk urusan belajar membaca Al-Quran, terkadang orang tua tidak teralu memedulikan, yang terpenting hafal bacaan Shalat, ya sudah.

Masalah ini kadang membuat anak-anak tumbuh dewasa tanpa bisa membaca Al-Quran, hal tersebut tercermin di kalangan artis yang sudah dewasa namun belum bisa membaca Al-Quran, atau baru mulai belajar membaca Al-Quran saat sudah di usia dewasa. Memang, tidak ada batasan usia untuk mempelajari Al-Quran, namun jika sedari kecil sudah di ajarkan membaca Al-Quran maka akan lebih mudah dan terbiasa. Ada pepatah yang mengatakan bahwa belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu sedangkan belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air. Karena semakin dini anak belajar, maka akan semakin mudah membentuk karakternya apalagi dalam urusan beragama.

Salah satu fenomena keagamaan yang terdapat di perkotaan adalah mengenai pengajian, majlis ta’lim atau sebagainya. Masyarakat kota biasanya mengikuti sebuah pengajian atau perkumpulan keagamaan hanya sebatas sampai situ saja, maksudnya di sini adalah mereka kebanyakan mengikuti hanya sebatas sampai acara tersebut selesai, jika sudah selesai mereka menganggap bahwa itu benar-benar selesai tidak ada keberlanjutan komunikasi atau membentuk komunitas baru. Mereka juga lebih menyukai melihat ustad-ustad yang berada di media sosial, yang melakukan dakwah melalui televisi, karena lebih praktis dan efisien. Kalau mau lihat ya tinggal buka sosial media atau menyalakan tv, sangat cocok dengan kehidupan perkotaan yang sibuk dan modern.

Contoh lainnya, seperti agama yang digunakan sebagai ajang pencarian suara dalam pemilu, maraknya kasus kriminal atas nama agama, atau penipuan berkedok agama, seperti umrah dan haji. Ini adalah hal-hal yang biasa terjadi di masyarakat perkotaan. Mengapa hal demikian bisa terjadi? biasanya karena kurangnya literasi agama. Seperti yang dialami umat Islam, masyarakat awam yang tinggal di perkotaan, sejak kecil tidak sempat mempelajari agama secara mendalam karena lingkungan masyarakat yang tidak terlalu mendukung. Berbeda dengan masyarakat pedesaan, mereka sarat dengan ilmu agama dari kecil hingga besar, karena Menjamurnya pesantren dan madrasah diniyah di desa-desa.

Namun tidak semua masyarakat kota seperti itu, ada beberapa juga yang menjadikan agama sebagai kebutuhan primer bahkan pedoman hidup. Contohnya saja artis Dewi Sandra, Pada tahun 2013, Dewi Sandra memutuskan untuk masuk Islam. Sikap Dewi berubah drastis. Hatinya yang mulia kini rela membantu orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan. Keputusan masuk Islam dibuat oleh Dewi Sandra pada usia 30 tahun. Dewi Sandra bertekad untuk hijrah dan mempelajari Islam secara mendalam. Selain itu, Dewi Sandra kini tampak mengenakan jilbab yang modis.

Dalam kehidupan ini, agama sangat penting bagi seluruh umat manusia, karena agama adalah pedoman untuk hidup di dunia yang indah dan benar. Tanpa agama, manusia akan berjalan sendiri tanpa landasan atau pedoman hidup. Melalui agama, kita mampu mengendalikan diri untuk melakukan sesuatu, apakah itu benar atau salah, dan itu baik untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Bacaan

Jamaluddin, Nasrullah Adnon. 2017. Sosiologi Perkotaan. Bandung : Cv Pustaka Setia

Tri Maharani Kusuma Dewi
Penulis: Tri Maharani Kusuma Dewi
Tentang Saya
Follow akun ig penulis: @rani_ra29
Tulisan Lainnya

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email rumahsos.id[at]gmail[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER