Teori Tindakan dan Relevansinya bagi Studi Hadis

Seseorang atau sekelompok orang berperilaku dan bertindak berdasarkan pemahaman dan pengalaman orang tersebut yang didasarkan berbagai macam alasan yang mereka yakini, seperti mereka bertindak dikarenakan oleh kekecewaan dengan kondisi negara, kekecewaan terhadap aturan yang ada, atau hal-hal yang tidak sependapat dengan pandangannya. Akan tetapi tindakan itu tidak hanya respon terhadap hal yang negatif tetapi juga respon dari hal yang positif yang menghasilkan tindakan positif atau respon dari hal yang negatif yang menghasilkan tindakan positif.

Adanya aksi atau tindakan yang dilakukan oleh masyarakat atau pribadi merupakan hal yang sangat lumrah adanya, karna tindakan tersebut dipicu dari berbagai macam aspek yang melatarbelakanginnya. Suatu aksi merupakan buah dari pemahaman, pengalaman, dan hasil pengamatan seseorang yang membuatnya tidak nyaman terhadap suatu kondisi atau suatu hal yang ada. Jika tindakan tersebut masih mengikuti norma-norma yang berlaku di masyarakat atau negara maka tindakan tersebut sah-sah saja untuk dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Akan tetapi jika tindakan yang dilakukan sudah negatif dan melanggar peraturan yang ada maka tindakan tersebut tidak dibenarkan.

Menurut Weber, tindakan itu ada karena manusia memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan tersebut, tindakan itu dilakukan karna adanya keadaan yang mendukung dan juga karna adanya sasaran dari sebuah tindakan yang dilakukan. Tindakan sosial, menurut Weber, berorientasi lebih kepada tujuan dan motivasi si pelaku. Dalam melihat tindakan seseorang atau kelompok, Weber juga melihat latar belakang sejarahnya dan perubahan sosialnya, karna menurutnya, cara terbaik untuk memahami suatu masyarakat ialah dengan menghargai bentuk khas dari suatu tindakan masyarakat tersebut (Jones, 2016).

Weber menyatakan bahwa tidak semua tindakan dapat dikatakan sebagai tindakan sosial atau lebih jelasnya sebagai tindakan sosial yang bermakna. Hanya tindakan yang melalui proses pemikiran panjang atau rangkaian pemikiran dan dilakukan dalam keadaan sadar saja yang dapat disebut dengan tindakan sosial bermakna. Tindakan sosial yang bermakna inilah yang dikaji oleh Weber dan menjadi salah satu ide penting yang ia berikan perhatian lebih. Akan tetapi jika tindakan itu hanya sebuah respon, tidak dilakukan dalam keadaan sadar, dan tidak melalui serangkaian pemikiran yang panjang, maka tindakan seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai tindakan sosial bermakna. Bagi Weber, Tindakan seperti ini tidak menarik untuk dikaji (Herman, 2015).

Sesuai pemaparan di atas maka tindakan dapat dibagi menjadi dua, yang pertama merupakan tindakan sosial bermakna dan yang kedua tindakan spontan. Tindakan sosial bermakna sudah dijelaskan di atas. Sedangkan tindakan spontan, menurut Weber, tidak bisa dikatakan sebagai tindakan sosial bermakna. Contohnya adalah tindakan yang dilakukan oleh pengendara motor yang ramai-rama berhenti ketika ada kecelakaan lalu lintas. Tindakan ini dilakukan secara spontan, dan tanpa memerlukan proses pemikiran yang panjang, jadi tindakan seperti ini tidak dapat dikatakan sebagai tindakan sosial menurut Weber. Akan tetapi jika tindakan tersebut bermula karena ada perangsang, dalam keadaan yang sadar, dan membutuhkan proses waktu untuk berfikir maka tindakan tersebut menjadi tindakan sosial penuh makna (Herman, 2015).

Untuk mempermudah dalam memahami teori tindakan ini, Weber membaginya menjadi 4 tipe:

  1. Tindakan Rasionalitas Instrumental
    Tindakan ini dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang dan dalam keadaan sadar yang didasarkan juga dengan tujuan yang akan dicapai, dengan didukung adanya ketersediaan alat untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagai contohnya, ada seorang siswa yang selalu terlambat sekolah dikarenakan tidak adanya alat transportasi. Akhirnya ia membeli sebuah sepeda yang dapat ia pakai pergi ke sekolah agar tidak telat lagi masuk sekolah. Tindakan seperti ini telah dipertimbangkan dengan matang dan dilakukan dalam keadaan sadar untuk menggapai suatu tujuan dari si pelaku tersebut (Herman, 2015).
  2. Tindakan Rasional Nilai
    Dalam tindakan ini alat-alat hanya sebagai pertimbangan dan perhitungan secara sadar, sedangkan tujuannya sudah ada dalam sistem nilai antar individu itu sendiri. Sebagai contohnya, ketika ada penumpang yang memberikan tempat duduk kepada penumpang lain orang yang lebih tua dari dirinya atau sudah lansia. Tindakan ini sudah dipertimbangkan secara sadar dan dilakukan karna mendahulukan nilai-nilai sosial yang tumbuh dalam masyarakat (Herman, 2015).
  3. Tindakan Afektif
    Tindakan ini lebih didominasi oleh perasaan atau emosi si aktor. Sifat dari tindakan ini ialah spontan, tidak rasional, serta tergolong ekspresi emosional individu. Sebagai contohnya ialah tindakan seseorang pemuda yang sedang dimabuk asmara, dia melakukan hal didasari oleh ikatan emosional yang ada di antara mereka, dan tergolong spontan, bahkan tindakannya tidak rasional.
  4. Tindakan Tradisional
    Sebuah tindakan yang dilakukan karna sudah terbiasa dan mengakar secara turun menurun (Norkholis, 2016). Sebagai contohnya adalah tradisi sekaten yang ada di Jogja yang sudah turun menurun dilakukan dalam rangka menyambut kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Weber memberikan kemudahan juga untuk melihat motif pelaku dalam melakukan sebuah tindakan sosial. Tindakan Tradisional ditandai dengan “Saya melakukan ini karna saya selalu melakukannya”, tindakan afektif ditandai dengan “apa boleh buat saya lakukan”, tindakan rasional nilai ditandai dengan “yang saya tahu hanya melakukan ini”, tindakan rasional instrumental ditandai dengan “tindakan ini paling efisien untuk mencapai tujuan ini, dan inilah cara terbaik untuk mencapainya” (Jones, 2016). Walaupun jika kita lihat identifikasi tersebut masih banyak kekurangan jika dipraktikkan secara langsung.

Relevansinya Bagi Studi Hadis

Teori tindakan Weber diatas dapat digunakan dalam studi hadis untuk melihat dan memahami motif hadis itu lahir dan yang melatarbelakanginya dan memahami motif-motif orang zaman sekarang dalam memahami suatu hadis nabi.

Pertama, memahami motif nabi dan sahabat sebagai aktor saat hadis itu muncul. Teori tindakan Weber ini dapat digunakan untuk memahami motif tindakan sosial yang dilakukan oleh Rosulullah. Hadis yang dikeluarkan atau disabdakan oleh Nabi kepada pengikutnya merupakan sebuah respon dari sesuatu yang sudah terjadi pada umatnya. Seperti halnya kisah mengenai seorang sahabat yang bernama Tsa’labah. Ia beberapa kali memohon didoakan oleh Rosulullah untuk dijadikan orang yang kaya, sehingga dapat mengakhiri hidup miskin dan susah yang sudah ia jalani selama ini. Akan tetapi berulang kali permintaan dari Tsa’labah ditolak oleh Nabi. Hingga pada permohonan yang ketiga kali ia berhasil merayu Rosulullah, dengan berjanji jika diberikan kekayaan akan memberikan sebagian hartanya kepada orang yang berhak menerimanya. Rosulullah memegang janji yang lontarkan Tsa’labah seraya berdoa memohonkan agar Allah memberikan rezeki dan memberkahinnya. Dari penggalan cerita mengenai Tsa’labah tersebut dapat kita lihat bahwa Rosulullah melakukan tindakan sosial dengan keadaan sadar, melalui rangkaian pemikiran yang panjang, maka yang dilakukan oleh Rosulullah dapat dikatakan sebagai tindakan sosial yang bermakna.

Kedua, memahami motif dari pemahaman atau penafsiran hadis yang dilakukan oleh umat Islam setelah nabi wafat. Dapat penulis ambil contoh mengenai Islamic State, mereka bertindak berdasarkan pemahaman terhadap hadis yang mereka tafsirkan sesuai kepentingan kelompoknya, dan menjadikan hadis sebagai latar belakang mereka bertindak. Mereka mempunyai motif dan tujuan yang ingin mereka raih dengan cara yang mereka punya. Jika dilihat dari tipe tindakan rasional nilai, mereka memiliki tujuan yaitu ingin menegakkan khilafah islamiyah dan menyatukan seluruh orang Islam di bawah naungannya dengan berbagai macam cara untuk mewujudkannya, tujuan itu merupakan tujuan jangka panjangnhya, akan tetapi mereka mempunyai tujuan yang sifatnya jangka pendek, seperti menghimpun pasukan sebanyak-banyaknya untuk perang, menegakkan syariat Islam, dll. Mereka sangat pandai dalam menafsirkan hadis sesuai dengan kepentingannya, seperti hadis tentang hijrah, ghuroba, khilafah, bidadari, dll, sehingga hadis-hadis tersebut dijadikan senjata ampuh dalam melakukan perekrutan anggota baru. Karna ingin menghimpun pasukan untuk berperang kepada yang mereka anggap kafir maka itu menjadi salah satu tujuan mereka dan untuk mengapai tujuan itu mereka melakukan tindakan yaitu mengambil hadis tentang hijrah di bumi Syam dan kemudian pemahaman mereka mengenai hijrah tersebut disebarluaskan yang bertujuan untuk menghimpun pasukan yang banyak (Munthe, 2017).

Daftar Pustaka

Herman. (2015). Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Sosiologi dari Klasik sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD.
Jones, d. (2016). Pengantar Teori-teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Munthe, d. (2017). Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis. Tangerang: Yayasan Pengkaji Hadis el-Bukhori.
Norkholis, A. d. (2016). Analisis Tindakan Sosial Max Weber dalam Tradisi Pembacaan Kitab Muhtashor al-Bukhori. Jurnal Living Hadis, 252.

Bagus Wicaksono
Penulis: Bagus Wicaksono
Tentang Saya
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Follow akun IG penulis: @bagus_wicak_sono
"Ojo Rumongso Biso Nanging Biso Rumongso"