Kemiskinan dan Krisis Keagamaan Masyarakat Pinggiran Kota

Berbicara menyoal permasalahan kota pasti tidak akan ada habisnya. Dari sisi ekonomi, lingkungan sampai pada lini terdalam yakni menyangkut sosial kemasyarakatan. Persoalan kemiskinan di kota tak ubahnya sebuah bumerang bagi kota itu sendiri. Anggapan orang bahwa kota adalah tujuan utama mencapai sebuah kesuksesan itu tidak seratus persen dibenarkan. Pada realitasnya justru berbanding terbalik. Orang yang tidak memiliki cukup keterampilan, akan terpinggirkan begitu saja. Bahkan ada istilah “hidup di kota  keras”. Istilah-istilah semacam ini memang terasa bagi mereka yang tidak tahan akan permasalahan kota yang rumit.

Sebenarnya secara fisik, orang-orang kota itu hidup dalam keramaian, akan tetapi secara sosial mereka hidup berjauhan. Bahkan jarak sosial merupakan akibat dari anonimitas, impersonalitas, dan heterogenitas. Karena hal demikian, ada yang memilih meninggalkan kota dan memutuskan kembali pulang ke kampung halaman, namun ada juga yang bertahan demi gengsi dengan alasan karena tak sukses di kota sehingga merasa malu untuk pulang ke kampung. Hal inilah yang membuat banyak sekali urban-urban masuk ke kota dengan berbagai heterogenitas masyarakatnya dan pada akhirnya membuat sebuah kampung sendiri di pinggiran kota. Sehingga muncullah kemiskinan di kota.

Heterogenitas tersebut selanjutnya lebih jelas terlihat dari adanya sektor formal dan informal perkotaan. Hal ini terjadi karena adanya pemisahan antara kelompok penduduk berdasarkan perbedaan ekonomi dan sosial penduduknya. Kegiatan ekonomi formal di perkotaan tidak mampu menyerap pekerja dengan pendidikan dan kemampuan rendah, sehingga pekerja dengan produktivitas rendah bekerja pada sektor informal (Lacabana dan Cariola, 2003). Selain itu, adanya permukiman kumuh dengan keterbatasan sarana dan prasarana pendukung menunjukkan adanya kantong-kantong kemiskinan (slum area) di perkotaan.

Selain muncul kampung kampung kumuh atau biasa disebut slum area pola interaksi masyarakat pun semakin terbatas dikarenakan oleh kesibukan masing-masing mencari penghidupan di tengah kota. Orang-orang berebutan mendapatkan pekerjaan hanya demi sesuap nasi. Apalagi hidup di kota yang serba mahal orang miskin mana mampu membeli makanan restoran, mentok-mentok warteg makanan andalannya. Dibalik megahnya sebuah kota ada masyarakat terpinggirkan yang haus akan hidup nyaman, damai, dan tanpa kekurangan. Dari buku yang berjudul Rakyat Kecil, Islam dan Politik kita dapat mengetahui permasalahan kemiskinan di kota yang cukup jelas. Dimana pada bagian pertama, penulis menunjukkan kampung pinggiran kota yang bernama Sukapakir dengan kehidupan didalamnya. Mulai dari sumber mata pencaharian masyarakat yang kebanyakan bergerak di sektor informal, sarana dan prasarana yang kurang memadai contohnya saja pada sarana MCK yang tersedia, dari sisi nilai-nilai keagamaan dan budaya yang heterogen.

Disamping itu selain kemiskinan yang menderu masyarakat pinggiran kota, masalah mengenai krisis keagamaan juga semakin terlihat jelas di area-area pinggiran kota kampung padat penduduk. Karena tinggal di slum area, masyarakat sering menemui adanya istilah kampung seks, kampung narkoba dan semacamnya. Hal-hal seperti inilah sangat disayangkan di mana kota adalah tempat termegah bagi para urban untuk melancong mencari pekerjaan, namun disisi lain ada tempat yang seharusnya tak ada yakni pemukiman kumuh dan sarangnya kampung narkoba atau seks. Tak jarang masyarakat pun acuh dengan keadaan semacam ini. Kembali lagi ke pola masyarakat kota yakni individualism dan heterogenisme.

Pembekalan tentang keagamaan sebenarnya sangat penting, bagaimana nanti generasi berikutnya lahir dan jauh dari pendidikan tentang keagamaan. Terutama hidup di slum area. Anak-anak yang tidak dibekali nilai-nilai keagamaan sejak dini bisa jadi  akan mudah sekali terbawa oleh arus. Bisa saja karena tak diajarkan oleh orang tuanya seorang anak membunuh keluarganya sendiri dengan alasan apu pun, padahal di agama diajarkan bahwa membunuh orang itu dosa dan akan mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Thomas F. O’ Dea fungsi agama bagi masyarakat adalah melestarikan masyarakat, memeliharanya di hadapan manusia dalam arti memberi nilai bagus manusia, menanamkan dasar manusia baginya. Bagi kepribadian manusia, agama menyediakan dasar pokok yang menjamin usaha dan kehidupan dan rasa haru serta penawar bagi emosi manusia. Sebaliknya agama mendukung disiplin melalui pemuasan norma dan nilai masyarakat, yang karena itu memainkan peran mensosialisir individu dan dalam mempertahankan stabilitas sosial.

Akan tetapi disisi lain juga masih banyak masyarakat yang percaya akan hal-hal yang berbau mistis walaupun dalam konteks masyarakat pinggiran kota. Karena kebanyakan masyarakat yang tinggal di pinggiran kota pun adalah masyarakat urban yang gagal mencapai kesuksesannya di kota dan pada akhirnya memutuskan tinggal dan menetap. Wilayah perkotaan yang semakin tumbuh dan berkembang juga menyebabkan berkembangnya heterogenitas yang menunjukkan perbedaan sosial penduduknya (Mc Gee, 1995). Orang yang tinggal di situ pun tak lain tak bukan dari berbagai macam latar belakang dan budayanya. Sehingga tidak salah lagi pinggiran kota sudah hal wajar menjadi tempat singgah dan menetap. Pola masyarakat seperti ini akan berlangsung terus menerus jika tidak diimbangi kemampuan dari masyarakat urban yang melancong ke kota dan pemerintah sendiri dalam mengubah tata kota yang menjadi lebih baik. 

Daftar Bacaan

Jamaluddin, Adon Nasrullah. 2017. Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan Problematikanya, Bandung: CV Pustaka Setia.

Jaojah, Siti. Pengaruh Kemiskinan Terhadap Perilaku Keberagamaan Kaum Buruh Tani. Skripsi Mashasiswa Program Studi Sosiologi Agama Uin Syarif Hidayatullah 2008.

Bruinessen, Martin Van. 2013. Rakyat Kecil, Islam dan Politik. Yogyakarta: Gading.

Rita Dwi Purnama Sari
Penulis: Rita Dwi Purnama Sari
Tentang Saya
Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Fakultah Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email rumahsos.id[at]gmail[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER