Tidak Usah Risau, Jurusan Sosiologi Semenyenangkan Itu Kok

Menyandang gelar mahasiswa barangkali menjadi sebuah kebanggaan bagi arek-arek sing jek tas melbu kampus. Sialnya, tidak semua jurusan memiliki stereotipe yang apik di mata masyarakat umum. Salah satunya jurusan Sosiologi.

Jurusan yang kerap tergabung dengan Fakultas FISIP ini sering mendapat ejekan dan cercaan dari sebagian umum masyarakat. Selain begok dalam hitung-hitungan, ada anggapan bahwa lulusan sosiologi bakal jauh dari akidah agama. Atau bahasa bekennya: kafir, atheis, gila, serta masih banyak lagi.

Ya gimana lagi, seyogianya kami anak Sosiologi diwajibkan belajar teori milik Karl Marx. Teori ini seringkali dihubungkan dengan kuminis, PKI, gerakan kiri, antiagama, kafir, dan masih banyak lagi.

Tidak beruntungnya lagi, Auguste Comte, yang dianggap sebagai Bapak Sosiologi juga pernah membuat agama yang didasarkan manusia sebagai pusatnya. Lengkap sudah label tidak bertuhan dari diri kami...

Selain hal di atas, penulis pernah dibuat cegek oleh pertanyaan teman. Suatu hari, penulis pernah bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan SBMPTN. Saat itu masing-masing kawan menceritakan prospek kerja dari jurusan yang dipilihnya.

Ada yang masuk jurusan teknik mesin, ya minimal bakal jadi tukang ganti oli kelaknya. Lalu pendidikan, bisa jadi guru. Bahkan ada juga kedokteran, yang mengaku-aku bakal kaya raya sampai menjadi mantu idaman.

Tibalah giliran saya ditanyai oleh kawan, “Kon mlebu endi, Jon?”. Dengan muka-muka tengsin setengah malu, saya menjawab, “Jurusan sosiologi, hehe.”

Seketika beberapa kawan tertawa terbahak-bahak. Bukannya apa, saat SMA saya jurusan IPA. Sedangkan saat SBMPTN saya memutuskan mengambil Paket Campuran (jurusan IPA dan IPS). Serta menaruh pilihan Sosiologi di pilihan ketiga. Namun, rasa malu itu bisa diatasi sementara dengan elakan, “Halah, gapapa yang penting kuliah.”

Sialnya, jawaban tersebut bukannya menghentikan cercaan dari kawan, justru tambah momojokkan oleh pertanyaan berikutnya, “Terus mari lulus, sosiologi kerjo opo?”

Bagaikan petir yang menyambar sundel siang bolong, tersentak saya berpikir. Memang selama ini lowongan pekerjaan sedikit sekali yang terbuka untuk jurusan sosiologi. Boro-boro punya bayangan soal prospek karier.

Stereotipe-stereotipe demikianlah yang seringkali membuat saya jengkel, geram, sampai kesemutan bila mendengarnya. Tapi ya gimana lagi, toh itu sudah konsekuensi dari setiap pilihan.

Bagaikan ngompol di celana, orang lain bisa melihat, namun hanya diri sendiri yang bisa merasakan hangatnya. Begitu juga dengan jurusan ini. Setelah dipelajari dan diterapkan, justru ketahuan seberapa banyak anak sosiologi dibutuhkan dalam masyarakat.

Misalnya saja, saat melihat fenomena 212 yang ketika itu viral. Yang mampu menjawab isu itu justru anak sosiologi. Bukan guru, apalagi teknisi mesin. Dari sinilah mulanya saya semakin paham jurusan sosiologi nggak “tidak berguna-berguna amat”.

Selain itu, dosen saya malah pernah mendapat job pembangunan jembatan Suramadu. Lho kok bisa? Padahal kan lulusan sosiologi nggak pandai berhitung, apalagi membuat jembatan?

Justru itulah peluang kami. Di mana ada pembangunan, di situ kemungkinan besar ada penolakan. Ketika para teknisi sepaneng menghitung-hitung kekuatan jembatan, tugas kami adalah ngademno dan meyakinkan masyarakat yang kontra dengan pembangunan.

Sudah pasti anak teknik bakal kesepian kerepotan bekerja tanpa adanya kami.

Semisal nggak ada job pembangunan? Ya anak sosiologi bikin job sendiri!

Pernahkah pembaca sekalian berpikir, mengapa orang bisa berkumpul untuk demo? Atau kenapa kerusuhan bisa dibentuk saat demo? Benarkah itu semua keinginan dari seluruh peserta aksi? Bagi pembaca yang berasal dari jurusan lain, serta tidak pernah kecemplung dalam dunia aktipis, mungkin nggak bakal tahu, hehe.

Anak sosiologi yang ngga pernah demo sekalipun pasti tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Di sinilah kita bisa mendapatkan job tambahan. Kalau ndak jadi penggerak, ya balik lagi bagian ngademin demo. Sekadar tahu saja, biasanya demo ada bagian konsumsinya. Jadi ya minimal sehari itu penggerak demo bisa makan, hehe.

Kongkalikong dengan target dari demonstran? Bisa juga. Jangan salah, biasanya yang jadi target demo itu mulai dari pejabat hingga konglomerat alias pengusaha. Nah, coba bayangkan saja jumlah kucuran dana yang bakal digelontorkan untuk mengatasi hal ini.

Jadi bagi pembaca yang ingin kuliah namun bingung mau ambil jurusan apa, bisa nih sosiologi jadi pertimbangan.

Bukannya apa-apa, selama masih ada perseteruan cebong dan kampret, di situ ada peluangnya. Soalnya, lulusan sosiologi bertugas mendamaikan keadaan. Kalau nganggur? Ya membuat kerusuhan, lalu didamaikan lagi. Ehe he he...

Kalau kata Bapak Soeharto, “Bila ingin jadi pribadi yang maju, kamu harus pandai mengenal, melihat, mendengar dan menganalisis”.

Untungnya, kriteria itu sudah pasti dimiliki oleh anak jurusan sosiologi, jadi nggak perlu kuatirlah. Gimana? Tertarik bergabung dengan barisan partisipan demo?

Catatan:

Pernah dimuat di dnk.id/

Andre Bakhtiar Hasibuan
Penulis: Andre Bakhtiar Hasibuan
Tentang Saya
Menulis untuk hobi
Tulisan Lainnya

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email admin[at]rumahsosiologi[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER