Dompet Daring dalam Tinjauan Kritis

Online Payment - Sumber. Pexels ImageOnline Payment - Sumber. Pexels ImageSemenjak masifnya perkembangan internet pada akhir abad 20, dunia juga mulai berubah rupa. Semisal saja, perubahan sistem belanja yang sifatnya konvensional bergeser menggunakan daring. Juga bermunculannya start up yang mulai mereduksi kegiatan konvensional. Seperti aplikasi Go-Jek, Grab untuk transportasi. Bukalapak, Shopee, Belimobilgue.com dan lain sebagainya.

Menurut startupranking.com per tahun 2018 Indonesia berjumlah 2.079. Termasuk untuk pembayaran dan transaksi keuangan lainnya. Dalam pembayaran online yang bisa juga disebut sebagai dompet daring. Dompet daring memberikan kemudahan berupa, pembayaran, penyimpanan, bahkan sampai pemberian potongan harga pada suatu produk tertentu. Menariknya dompet daring tidak harus membawa lembaran-lembaran uang dalam transaksi. Cukup dengan scan barcode, pin atau semacanya. Sehingga konsumen bisa merasa lebih praktis.

Namun menariknya dari konsepan ini, bagaimana perusahaan mampu menggaet pelanggan yang awalnya menggunakan konvensional tertarik untuk menggunakannya? Barangkali “praktis” menjadi penyebabnya. Tapi apakah hal itu menjadi dasar alasan orang ramai menggunakannya? Penulis di sini akan memberi sedikit gambaran bagaimana orang tertarik menggunakannya.

Pertama dalam konsep marketing perusahaan akan menarik pelanggan sebanyak mungkin. Kedua masih dalam konsep marketing, pelanggan yang baik akan terus membeli/menggunakan produk dari perusahaan. Pertanyaan selanjutnya bagaimana cara agar pelanggan tidak berpindah hati ke perusahaan atau produk lain? Jawabannya adalah dengan memanjakannnya. Ada berbagai macam cara memanjakan pelanggan. Seperti memberi potongan harga, iklan dan memberikan pelayanan terbaik.

Seperti produk dompet online seperti OVO. Jika dilihat secara garis besar, OVO menggunakan memanjakan pelanggan seperti yang penulis di atas. Dalam diskusi di sebuah forum seminar, pengembang dari OVO pernah mengatakan “We hook all, and i dekap mereka biar ga pergi”. Salahsatu metode yang dipakai adalah memberikan diskon kepada mereka yang menggunakan produk OVO. Dia juga mengatakan bahwa “daripada uang iklan gue berikan kepada pengiklan, mending gue kasih buat konsumen”.

Dari kutipan yang coba penulis ingat, ada hal menarik. Yaitu pada kalimat kutipan ke dua. OVO berusaha menjadikan konsumen sebagai iklan yang sebenarnya. Secara tidak sadar konsumen dari produk tersebut menginginkan konsumennya tidak sadar akan kebutuhan palsu mereka. Caranya dengan mengalokasikan dana iklan kepada potongan harga yang langsung diberikan konsumen.

Dari sini kita bisa melihat adanya upaya untuk menidurkan konsumen agar selalu memenuhi kebutuhan palsunya. Apalagi didukung oleh diskon yang melimpah adri aplikasi. Dalam teori kritis madzhab Frankfrut, semenjak adanya revolusi industri, manusia semakin teralianasi terhadap kebutuhannya. Alih-laih mempermudah, malah justru menjadikan sistem atau alat produksi sebagai ketergantungannya. Memang agaknya sulit untuk menghindari sistem yang dibuat. Semakin menegasi atau menolak sistem justru akan makin terjebak dalam sistem itu sendiri. orang tidak akan lagi menolak sistem yang ada. Apalagi OVO mampu membuat konsumen menjadi ketergantungannya terhadap keutuhan mereka sendiri. inilah yang menarik dari OVO, mampu mengalienasi konsumen tanpa harus memaksanya.

Andre Bakhtiar Hasibuan
Penulis: Andre Bakhtiar Hasibuan
Tentang Saya
Menulis untuk hobi
Tulisan Lainnya