Membaca Budaya Populer: Film “They Live” dan Representasi Kritik Ideologi

They Live - Sumber. efichaliko.comThey Live - Sumber. efichaliko.com

“I’ll give you a choice: either put on these glasses
or start eating that trashcan."
George Nada

 Ideologi, Kritik Ideologi, dan Media Pop: Sebuah Pengantar

Konsep atau istilah “ideologi” pertama kali muncul dalam khazanah ilmu-ilmu sosial ketika seorang intelektual berkebangsaan Prancis bernama Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) menerbitkan artikelnya yang termasyhur berjudul Elément d’Idéologie. De Tracy melalui artikelnya tersebut bermaksud untuk membentuk sebuah disiplin ilmu baru yang berdiri di luar ranah filsafat dan agama yang kemudian ia namakan begitu saja sebagai “ideologi” atau ilmu tentang ide-ide. Ia berharap jika disiplin yang telah ia gagas tersebut mampu menjadi sebuah pisau tajam untuk membedah sekaligus menggolongkan gagasan yang benar dari gagasan yang keliru. Dalam konteks ini, De Tracy sangat mengisyaratkan bahwa ia ingin memperjelas aktivitas berpikir manusia agar sesuai dengan aturan tertentu semata-mata demi terhindar dari kekeliruan, keraguan dan kegamangan (Valentinus, 2012: 142). Sampai sini tampak jelas bahwa konsep ideologi yang diajukan oleh De Tracy dapat diartikan secara sederhana sebagai ilmu mengenai pemikiran manusia yang mampu menunjukkannya pada kebaikan.

Apabila kita melakukan pengamatan mendalam secara historis, maka kita dapat menemukan jika konsep ideologi dari waktu ke waktu selalu mengalami siklus perubahan yang berpusat pada nilai “yang baik” dan “yang buruk”. Pada era De Tracy, ideologi menemukan konsepnya yang orisinal sebagai suatu yang baik dan diharapkan keterwujudannya. Namun, pada era di mana Napoleon Bonaparte berkuasa, ideologi dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Pada masa itu, ideologi digunakan sebagai sarana untuk membenarkan diri dan memperkokoh kekuasaan politik. Citra ideologi sebagai “sesuatu yang buruk dan tidak diharapkan kehadirannya” tersebut bertahan hingga era ketika Karl Marx hidup (1818-1883). Marx bersama karibnya, Frederick Engels, melakukan serangkaian analisis mendetail mengenai bentuk sistem berpikir serta kepercayaan dominan dalam masyarakat pada masa itu yang disalahgunakan oleh pihak penguasa. Rentetan analisis itu kemudian membawa Marx dan Engels untuk berkesimpulan jika pandangan agama, pandangan moral, pandangan dunia, nilai-nilai budaya, dan sebagainya mempunyai fungsi yang sama untuk mendukung struktur-struktur kekuasaan dalam masyarakat.

Rupa dari berbagai pandangan tersebut disebut Marx sebagai “ideologi” yang kemudian diterjemahkannya kembali secara radikal sebagai “kesadaran palsu” atau kesadaran yang mengacu pada seperangkat nilai moral yang menutup kenyataan bahwa di belakang nilai-nilai tersebut terdapat kepentingan-kepentingan egois kelas-kelas penguasa (Valentinus, 2011: 123; Magnis-Suseno, 1991: 228).  Jika beralih pada era antara tahun 1920-an hingga 1950-an, pemaknaan ideologi kemudian kembali menemukan nilainya “yang baik” seperti layaknya pada masa Antoine Destutt de Tracy karena pada masa itu ideologi dianggap sebagai sesuatu hal yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak untuk mencapai kejayaannya. Menariknya, makna ideologi yang lekat pada nilai-nilai “baik” dalam masa ini direpresentasikan dengan munculnya berbagai negara totaliter seperti rezim fasis Jerman, Italia, dan Jepang, hingga pemerintahan komunis Uni Soviet.

Berbagai perubahan konsep dan pemaknaan ideologi yang terjadi sebenarnya menegaskan jika ideologi mampu digunakan dalam arti yang berbeda tergantung dari situasi dan konteks sosial yang menyertainya. Dari sana, maka tidak heran apabila Raymond Geuss dalam bukunya berjudul Ide Teori Kritis Habermas & Mazhab Frankfurt (2004) kemudian merumuskan tiga definisi dari ideologi, yaitu: ideologi dalam pengertian deskriptif; ideologi dalam pengertian positif; dan ideologi dalam pengertian peyoratif. Apa yang dirumuskan oleh Geuss ini juga mendapat legitimasinya ketika Franz Magnis-Suseno dalam bukunya Filsafat sebagai Ilmu Kritis (1991) dengan cara yang hampir sama mengonseptualisasikan ideologi ke dalam tiga arti, yaitu: ideologi sebagai keyakinan tidak ilmiah; ideologi dalam arti netral; dan ideologi sebagai kesadaran palsu.

Sebenarnya yang menarik dari pembahasan tentang ideologi adalah pada bagaimana ideologi dianggap sebagai sesuatu yang buruk; bagaimana ideologi dipandang sebagai suatu sistem ide yang telah terpeyorasi yang dalam hal ini mampu menjadikan manusia sebagai seseorang yang memiliki kesadaran palsu. Seperti yang telah diungkapkan pada beberapa paragraf di awal, terdapat beberapa pemikir seperti Marx dan Engels hingga para intelektual aliran Frankfurt yang menaruh perasaan curiga terhadap apa yang disebut sebagai ideologi. Meski kerangka berpikir yang mereka bangun dalam memandang ideologi secara skeptis berbeda, akan tetapi secara ringkas mereka tetap memiliki kesepakatan yang sama dalam mengartikan ideologi. Kesepakatan tersebut mungkin dengan sangat baik dikonsepsikan oleh Raymond Geuss (2004: 73) yang menulis bahwa “ideologi adalah gambaran dunia (world-picture) yang menstabilkan dan melegitimasi dominasi”. Di era kontemporer, bahkan, seorang kritikus budaya dan sarjana Marxis bernama Slavoj Zizek memberikan sebuah sindiran yang radikal terhadap ideologi. Dalam suatu kesempatan, ia berkata:

“I already am eating from the trashcan all the time. The name of this trashcan is ideology. The material force of ideology makes me not see what I am effectively eating. It’s not only our reality which enslaves us. The tragedy of our predicament when we are within ideology is that when we think that we escape it into our dreams, at that point we are within ideology.” (Zizek dalam film The Pervert’s Guide to Ideology, 2012).

Berbagai pandangan yang sinis dalam melihat ideologi kemudian mengantarkan pada kesadaran yang menyatakan jika kritik ideologi sangat penting dilakukan untuk mencerahkan pandangan yang dikaburkan oleh ideologi agar semata-mata manusia dapat teremansipasi dan mampu secara jernih memandang dunia.

Sebetulnya, kritik ideologi bukan merupakan aktivitas yang sulit dilakukan karena ia bukanlah sesuatu yang hanya bisa diusahakan melalui pembacaan atas beragam teks dan penelusuran situasi serta kondisi sosial yang butuh kepekaan sekaligus pengamatan yang cukup mendalam. Di era kontemporer, kritik ideologi bahkan dapat diupayakan melalui beragam media seperti film, novel, hingga musik. Dalam media novel misalnya, dua novel legendaris dari George Orwell berjudul 1984 dan Animal Farm mampu menjadi bukti bagaimana kritik ideologi bisa dijalankan melalui media populer novel yang mudah dikonsumsi masyarakat. Atau dalam media musik, barangkali album anyar American Idiot dari band punk Green Day dapat menjadi penegasan bagaimana kritik ideologi dapat disampaikan secara sederhana melalui unsur musik. Berkaitan dengan hal yang telah banyak dipaparkan sebelumnya, maka tulisan ini bermaksud untuk membedah bagaimana kritik ideologi juga secara baik direpresentasikan melalui sebuah film dari Negeri Paman Sam berjudul They Live yang pertama kali dirilis pada tahun 1988.

Film They Live (1988) sebagai Sebuah Kritik Ideologi

Dalam artikel berjudul Through the Glasses Darkly yang diterbitkannya pada tahun 2009, Slavoj Žižek menulis jika film They Live yang disutradarai oleh John Carpenter merupakan salah satu masterpiece dari Hollywood yang secara eksklusif mampu memberikan pelajaran tentang bagaimana sesungguhnya kritik ideologi dapat berjalan. Film bergenre thriller, aksi, dan fiksi ilmiah ini secara ringkas mengisahkan George Nada (diperankan oleh Roddy Piper) yang berjuang untuk melepaskan dirinya (dan mungkin juga seluruh umat manusia) dari dominasi alien berwujud manusia yang telah menginvasi bumi. Hal yang paling menarik dari film ini sejatinya terletak pada bagaimana George Nada berhasil mengungkap serangkaian dominasi yang dilakukan secara halus oleh para alien tersebut.

Suatu waktu, Nada yang notabennya merupakan seorang gelandangan secara tidak sengaja memasuki sebuah gereja tua yang ditinggalkan dan menemukan satu kotak penuh kacamata hitam. Ketika ia untuk pertama kalinya memakai kacamata hitam tersebut dan berjalan di sepanjang jalan kota Los Angeles, ia kemudian menemukan dan menyadari sesuatu yang aneh. Melalui kacamata yang dikenakannya ini, ia melihat sebuah papan reklame besar yang dipasang hanya bertuliskan “OBEY”. Namun ketika ia melepaskan kacamatanya, papan reklame tersebut ternyata berisi iklan untuk mempromosikan produk teknologi. Hal yang sama juga ia temukan saat melihat papan iklan yang berisi tawaran untuk berlibur ternyata sejatinya hanyalah papan yang berisi tulisan “MARRY AND REPRODUCE”. Bahkan ketika melihat uang, Nada menemukan bahwa uang tersebut ternyata hanyalah selembar kertas yang bertuliskan “THIS IS YOUR GOD”. Jika ditafsirkan, kacamata hitam yang ditemukan dan dikenakan oleh George Nada dalam film ini sebenarnya merupakan kacamata yang berfungsi seperti kacamata kritik atas ideologi.

Penggunaan kacamata hitam dalam film ini sejatinya ingin memberikan gambaran kepada kita bahwa selalu ada pesan nyata di balik propaganda, publisitas kemewahan, poster, dan sebagainya yang keberadaannya selalu saja tersembunyi. Ketika kita mampu menemukan “kacamata” yang tepat untuk mencerahkan pandangan kita yang sebelumnya terdistorsi sebagai akibat keberadaan ideologi, maka di saat seperti itulah kita dapat terbebas dan mampu memahami dunia sebagaimana mestinya. Namun, usaha untuk keluar dari ideologi merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan. Kita harus memaksakan diri untuk melakukannya atau tidak akan pernah sama sekali. Hal ini juga disajikan dengan sangat baik dalam adegan lanjut dalam film di mana George Nada mencoba memaksa sahabatnya, Frank Armitage (diperankan oleh Keith David), untuk juga memakai kacamata yang sama yang ia gunakan. Ini merupakan adegan film paling aneh karena mereka ditampilkan bertarung begitu hebat hampir selama enam menit penuh dari total durasi film hanya demi sebuah urusan untuk memakai atau tidak memakai sebuah kacamata. Apa yang dilakukan oleh Frank Armitage demi menolak memakai kacamata seolah-olah memberikan gambaran kepada kita bahwa ia merasa terancam karena mengetahui jika kacamata tersebut mampu membuat ia melihat kebenaran yang sesungguhnya bisa saja sangat menyakitkan karena secara otomatis akan menghancurkan segala ilusi yang telah lama ia buat. Jelas terlihat jika tokoh Frank Armitage merupakan representasi dari seseorang yang telah terhegemoni oleh ideologi dominan. Dampak dari hegemoni itu sendiri kurang lebih dapat membuat orang-orang tidak kuasa untuk melihat bahwa mereka dapat memiliki keyakinan tertentu atau bahkan untuk yakin bahwa keyakinannya sendiri pun pada prinsipnya mampu untuk berbeda (Jones dkk, 2016: 73).

Tentu adegan ini juga memberikan pandangan bahwa kritik ideologi juga tidak bisa dilepaskan dari kritik terhadap masyarakat yang secara tidak langsung terus melanggengkan ideologi dominan. Disebut melanggengkan karena sikap masyarakat itu sendiri yang pasif dan hanya peduli ketika ideologi tersebut secara terang-terangan dapat “mengganggu kehidupannya”. Yang menjadi persoalan adalah bahwa ideologi seringkali dijalankan secara halus dan tidak dirasakan “dampaknya” ketika berhasil menginterpolasi pikiran masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Raymond Geuss pernah menulis mengenai tiga tesis kritik ideologi yang diajukan oleh para intelektual yang tergabung dalam aliran pemikiran Frankfurt. Salah satunya ia jabarkan sebagai berikut:

“Kritisisme masyarakat yang radikal (radical criticism of society) dan kritisisme tentang ideologi dominannya tidak dapat dipisahkan; tujuan akhir dari semua penelitian sosial seharusnya perluasan dari sebuah teori kritis (critical theory) masyrakat yang di dalamnya kritik ideologi merupakan bagian integral” (Geuss, 2004: 59-60).

Persoalan selanjutnya dalam film ini adalah mengenai keberadaan pihak-pihak dari kelompok dominan yang akan selalu menghalangi orang-orang yang “dianggap” mengganggu jalannya masyarakat. Masalahnya, orang-orang tersebut seringkali merupakan masyarakat yang juga terganggu akan keberadaan “ideologi dominan” dan sadar bahwa ada sesuatu yang salah atau tidak semestinya yang berjalan dalam masyarakat. Melalui sudut pandang marxisme, Jones dkk (2016: 58) kemudian mengkonsepsikan masyarakat dewasa ini tetap bertahan karena komitmen individu-individu untuk selalu yakin (tunduk) kepada ideologi yang sama. Proses bagaimana ideologi dapat diterima secara umum oleh masyarakat kemudian oleh Jones jelaskan juga melalui sudut pandang marxis. Jones dkk (2016: 59) menulis bahwa “gagasan atau ide tertentu menjadi dominan melalui berbagai agensi kunci dan sosialisasi”. Ungkapan ini secara serta merta menunjuk jika institusi dalam masyarakat seperti keluarga, sistem pendidikan, dan media massa memiliki peranan penting untuk mempromosikan nilai atau keyakinan umum tertentu. Maka apabila dikaitkan dalam film They Live, tidak perlu heran jika George Nada dan juga Frank Armitage yang notabennya merupakan pahlawan dalam film ini seketika dilaporkan oleh masyarakat kepada pihak berwajib (polisi) karena dianggap dapat mengancam ketertiban sosial hanya lantaran memakai kacamata hitam yang mampu membuat mereka berdua melihat bagaimana praktik dominasi yang dilakukan oleh alien.

Apabila ingin mengkajinya lebih lanjut, sebenarnya alur di mana tokoh utama dalam film ini mendapat pengaduan dari masyarakat dapat dipahami sebagai mekanisme atau bagaimanna cara ideologi bekerja yang oleh Louis Althusser sebut sebagai “interpelasi”. Althusser (dalam Adian, 2011: 4) menerangkan jika interpelasi adalah “mekanisme yang membuat orang merasa terpanggil sebagai subjek dengan posisi yang ajeg dan pasti”. Proses interpelasi sendiri dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti misalnya, seorang muslim seketika langsung berangkat ke masjid saat Adzan berkumandang dan sampai sana ia langsung berdoa. Tindakan tersebut dilakukan karena ia merasa terpanggil sebagai “subjek yang religius”. Hal yang sama juga dapat ditemukan ketika seseorang yang bertemu penjabat daerah terus “mengiyakan” dan merespon baik apa yang disampaikan atau diucapkan oleh penjabat daerah tersebut. Hal tersebut semata-mata karena seseorang itu merasa terpanggil sebagai “subjek yang taat pada otoritas”. Melalui pemahaman ini, barangkali terjawablah sudah mengapa George Nada dan Frank Armitage mendapat perlawanan yang hebat dari masyarakat, padahal mereka berdua berjuang untuk menegaskan kehidupan masyarakat yang bebas dari dominasi.

Referensi:

Adian, Donny Gahral. 2011. Setelah Marxisme: Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer. Depok: Penerbit Koekoesan.

Geuss, Raymond. 2004. Ide Teori Kritis: Habermas dan Mazhab Frankfurt. Yogyakarta: Panta Rhei Books.

Jones, Pip, Liz Bradbury, dan Shaun Le Boutillier. 2016. Pengantar-Pengantar Teori Sosial. Terj. Achmad Fedyani Saifuddin. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Magnis-Suseno, Franz. 1991. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Valentinus. 2011. Menyibak Selubung Ideologi Kapitalis dalam Imperium Iklan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Žižek, Slavoj. 2009. Through the Glasses Darkly. https://zizek.uk/through-the-glasses-darkly-2/ (diakses pada Senin, 28 Juni 2021).

Ilham S
Penulis: Ilham S
Tentang Saya
Mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman
Find me on 
 ig24 ilhamssh_

DISCLAIMER

  1. Penulis bertanggung jawab penuh atas tulisan (termasuk gambar atau konten lain) yang dikirim dan dipublikasikan di Rumah Sosiologi, kecuali bagian-bagian yang dirubah atau ditambahkan oleh redaksi.
  2. Jika ada pihak yang keberatan dengan konten tulisan (baik berupa teks, gambar atau video) karena berbagai alasan (misalnya, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, atau hal lain yang melanggar hukum), silahkan menghubungi kami melalui email rumahsos.id[at]gmail[dot]com.
  3. Lebih lengkapnya, silahkan baca halaman DISCLAIMER