Bagaimana Memahami Konsep Fungsi-Disfungsi Merton? (Bag-1)

Salah satu konsep penting yang dikemukakan Robert K. Merton adalah konsep fungsi dan disfungsi beserta turunannya (manifes dan laten). Konsep ini kemudian menempati posisi cukup sentral dalam teori fungsionalisme struktural. Hanya saja, di Indonesia konsep ini seringkali disalahpahami. Sebabnya simple: kesalahan pemilihan kata dalam pengalihbahasaan dari Inggris ke Indonesia.1)

Keberagamaan Positivistik

Tulisan ringan ini berangkat dari satu asumsi utama, bahwa positivisme bukan sekedar sebuah mazhab ilmu pengetahuan tapi sudah menjadi bagian dari kesadaran hidup manusia sehari-hari. Positivisme bahkan telah merambah kesadaran hidup manusia yang paling primordial: agama. Melalui logika kuantifikasi dan reifikasi, positivisme mewujud dalam beragam bentuk ekspresi keberagamaan.

Teori Pilihan Rasional

Coleman, tidak ragu-ragu untuk berargumen bahwa pendekatan itu beroperasi dari  suatu dasar di dalam individualisme metodis dan menggunakan teori pilihan rasional sebagai dasar level mikro untuk penjelasan fenomena-fenomena level makro. Bahkan yang lebih menarik ialah apa yang dirasakan pendekatan Coleman tidak “menyenangkan”.

Karya yang holistik secara metodologis, mengambang pada level sistem tanpa jalan lain menuju para aktor yang menghasilkan sistem itu dengan tindakan-tindakannya .... pandangan akan tindakan sebagai semata-mata ekspresif, pandangan akan tindakan sebagai hal yang irasional dan juga sebagai tindakan yang seluruhnya di sebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari luar tanpa inter mediasi maksud atau tujuan. Ia menyisihkan karya empiris yang dilaksanakan secara luas didalam ilmu sosial ketika prilaku individu “dijelaskan dengan faktor-faktor tertentu atau faktor-faktor penentu tanpa model  tindakan apapun. (Coleman, 1989: 6).

Kompleksitas Persoalan Seksual Masyarakat Modern

Apa yang akan terjadi jika naluri seksual manusia dikawinkan dengan teknologi komputer? Absurditas makna seksual. Itu yang bakal terjadi, bahkan telah terjadi. Seksualitas menjadi sepotong realitas yang ditransformasikan melalui jaringan kabel, membentuk dunia maya. Kita mengenalnya dengan cyberspace dan realitas seksual maya yang ditawarkannya kita sebut dengan cybersex. Seks menjadi online, dapat diakses oleh siapapun tanpa mengenal batasan umur. Dahulu, hubungan seks hanya dapat dibayangkan terjadi melalui kontak fisik secara langsung. Keberadaan internet dengan cybersexnya menjadikan kontak fisik bukan lagi satu-satunya cara mengakses kenikmatan seksual. Internet memungkinkan perengkuhan kenikmatan seksual melalui dunia maya, sebuah kenyataan yang bernar-benar semu, virtual reality of sex.

Pengikut Manhaj Salaf di Tengah Gempuran Modernitas (Bag-3)

Proses Eksternalisasi, Obyektivasi dan Internalisasi Nilai-Nilai Keagamaan

Berger memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam tiga momen dialektis yang simultan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi serta masalah legitimasi yang berdimensi kognitif dan normatif, inilah yang dinamakan kenyataan sosial.[1] Eksternalisasi adalah kecurahan kedirian manusia secara terus-menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupaun mentalnya. Obyektivasi adalah disandangnya produk-produk aktivitas itu (baik fisis maupun mental), suatu realitas yang berhadapan dengan para produsernya semula, dalam bentuk  suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap dan lain dari para produser itu sendiri. Internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia obyektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subyektif. Melalui eksternalisasi, maka masyarakat merupakan produk manusia. Melalui obyektivasi, maka masyarakat menjadi realitas sui generis, unik. Melalui internalisasi, maka manusia merupakan produk masyarakat.[2]

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru: