Sociology of Food: Perspektif Marx, Durkheim, dan Feminism

Para sosiolog memiliki cara pandang unik dan beragam dalam melihat realitas sosial, termasuk soal makanan.  Sebagaimana pembahasan kita sebelumnya (Baca: Sociology of Food: You Are What You Eat!), makanan bukan melulu soal rasa, tetapi terutama soal nilai-nilai sosio-kultural sebuah masyarakat. Marx menyebut commodiy fetishism sebagai bagian dari karakter masyarakat kapitalis. Melalui kacamata Durkheim, kita bisa melihat makanan sebagai sebuah totem. Semantara feminist perspective melihat makanan sebagai bagian dari proses gender segregation.

Sociology of Food: You Are What You Eat!

Tahukah kamu, berapa banyak buku yang harus kamu baca, berapa teori yang harus kamu kuasai, atau berapa lama waktu yang harus kamu habiskan di bangku kuliah untuk dapat memahami dengan baik karakteristik sebuah masyarakat? Tidak, tidak, tidak..., kamu tidak memerlukan itu semua. Kamu hanya perlu membeli sepotong ayam goreng KFC. Pilih bagian paha, itu selalu lebih lezat. Percayalah...smile

Ilmu Sosial Profetik - Paradigma Islam

Ngaji buku bareng. Edisi kali ini baca buku Kuntowijoyo, Paradigma Islam, bab 18: "Perlunya Ilmu Sosial Profetik"

 

Relasi Agama & Modernitas: Menggugat Teori Sekularisasi

Tulisan ini hendak mengkaji relasi agama dan modernitas dalam konteks teori sekularisasi. Kritik metodologis atas teori sekularisasi menjadi konsentrasi utama dalam tesis ini. Dalam kaitannya dengan persoalan ini, menarik untuk dikaji sebab-sebab metodologis yang menyebabkan teori ini pada akhirnya menemui kegagalan.
 
Konsep dasar teori sekularisasi terangkum dalam tiga tesis: pertama, proses modernitas sesungguhnya menyebabkan terjadinya kemerosotan relijiusitas dalam kehidupan manusia. Kedua, Sekularisasi juga meniscayakan terjadinya privatisasi agama. Modernitas yang mengusung panji-panji rasionalitas akan mendepak agama dari wilayah publik dan mempersempit ruang geraknya menjadi tak lebih dari urusan privat. Ketiga, modernitas memberikan pilihan-pilihan yang sangat beragam pada masyarakat untuk mendefinisikan dunia. Agama tidak bisa lagi memiliki privilege sebagai satu-satunya penguasa atas definisi dunia. Agama harus masuk dalam situasi pasar dan bersaing dengan lawan-lawan relijius lain dan nonrelijius untuk memasarkan definisinya atas dunia.

Etnometodologi

Mengenal Etnometodologi

Bagi para teoritisi Etnometodologi, sosiologi tradisional memahami dunia sosial yang dikontruksinya dengan menyembunyikan atau bahkan menghilangkan praktik-praktik sehari-hari sebagai aspek paling esensial dari rujukan sumber penegetahuan sosial (etnometode). Maka dari itulah, para etnometodogi menganggap bahwa para sosiolog itu membuat  pelukisan dan abstraksi-abstraksi atas realitas yang semakin menyesatkan dari realitas sehari-hari.

Bagaimana Memahami Konsep Fungsi-Disfungsi Merton? (Bag-1)

Salah satu konsep penting yang dikemukakan Robert K. Merton adalah konsep fungsi dan disfungsi beserta turunannya (manifes dan laten). Konsep ini kemudian menempati posisi cukup sentral dalam teori fungsionalisme struktural. Hanya saja, di Indonesia konsep ini seringkali disalahpahami. Sebabnya simple: kesalahan pemilihan kata dalam pengalihbahasaan dari Inggris ke Indonesia.1)

Teori Pilihan Rasional

Coleman, tidak ragu-ragu untuk berargumen bahwa pendekatan itu beroperasi dari  suatu dasar di dalam individualisme metodis dan menggunakan teori pilihan rasional sebagai dasar level mikro untuk penjelasan fenomena-fenomena level makro. Bahkan yang lebih menarik ialah apa yang dirasakan pendekatan Coleman tidak “menyenangkan”.

Karya yang holistik secara metodologis, mengambang pada level sistem tanpa jalan lain menuju para aktor yang menghasilkan sistem itu dengan tindakan-tindakannya .... pandangan akan tindakan sebagai semata-mata ekspresif, pandangan akan tindakan sebagai hal yang irasional dan juga sebagai tindakan yang seluruhnya di sebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari luar tanpa inter mediasi maksud atau tujuan. Ia menyisihkan karya empiris yang dilaksanakan secara luas didalam ilmu sosial ketika prilaku individu “dijelaskan dengan faktor-faktor tertentu atau faktor-faktor penentu tanpa model  tindakan apapun. (Coleman, 1989: 6).

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru:

Disclaimer

Silahkan membaca kebijakan disclaimer Rumah Sosiologi di SINI

Cari Artikel di Sini