Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Modern

Consumerism - Sumber. Flickr ImageConsumerism - Sumber. Flickr ImageZaman modern, di mana kita hidup sekarang, adalah zaman ketika manusia modern tak dapat melepaskan diri dari ketergantungan terhadap teknologi yang makin lama makin canggih. Semua bidang dalam keseharian kita tidak ada yang lepas dari jamahan teknologi, seperti gadget, benda kecil tapi kaya akan fitur yang membuat aktivitas manusia menjadi efektif dan efisien.

Teknologi sendiri merupakan faktor pendorong modernisasi. Lahirnya sebuah teknologi bersamaan dengan lahirnya kapitalisme. Salah satu yang menjadi ciri modernitas adalah manusia cenderung membutuhkan jasa sektor industri untuk melayani kebutuhan hidupnya yang semakin kompleks, sehingga  sektor industri dibangun secara besar-besaran untuk memproduksi barang. Perilaku konsumtif dalam rangka pemenuhan apa yang oleh manusia dianggap sebagai kebutuhan kemudian dipandang sebagai hal yang wajar menurut mereka. Akhirnya hidup konsumtif dijadikan sebuah gaya hidup oleh masyarakat.

Fenomena ini jika ditelaah secara mendalam adalah akibat dari konstruk oleh kapitalis guna melancarkan usaha industrinya. Mereka memanfaatkan iklan yang di pasang di berbagai tempat yang mudah di jangkau oleh mata manusia. Iklan adalah sebuah teknologi yang merupakan saudara kembar kapitalisme. Iklan dijadikan ujung tombak pemulus usaha industri mereka, seperti memasang iklan di media elektronik Televisi. Masyarakat Indonesia mana yang tidak mempunyai media tersebut, karena Televisi digunakan sebagai media hiburan oleh masyarakat Indonesia. Iklan tersebut secara tidak langsung mempersuasi ideologi masyarakat melalui sebuah proses stimulus dari Indra penglihatan dan merangsang sebuah pola pikir masyarakat.

Pola hidup konsumtif adalah sebuah gaya hidup manusia modern yang dianggap wajar oleh masyarakat, karena mereka tidak mau merasa tertinggal oleh zaman. Gejala ini merupakan fenomena yang oleh Herberrt Marcuse disebut sebagai One-Dimensional Man, yaitu manusia yang hanya mempunyai satu pilihan dalam hidupnya, yakni berkata iya atau afirmasi. Yang hilang pada diri manusia adalah negasi atau kemampuan menolak sebuah keadaan yang ada. Jika mereka menolaknya maka mereka sama halnya menolak hidup modern dan stagnan hidup pada tradisionalisme. Otomatis kehidupan mereka akan tertinggal oleh zaman dan tidak maju. Mereka yang hidup pada zaman modern terus menerima inovasi-inovasi dari berbagai hal dalam kehidupannya.

Manusia seakan-akan dikonstruk oleh kapitalis untuk masuk ke dalam perangkapnya. Seperti contoh makanan cepat saji (KFC, AW, MCD, Rechees, dll) yang menjamur di Indonesia. Itu adalah produk kapitalis yang mengkonstruksikan bahwa makanan sejenis itu adalah makanan manusia modern. Akhirnya pola hidup masyarakat Indonesia yang suka makanan warteg dan makan di PKL bergeser menjadi lebih gemar makan di tempat-tempat produksi kapitalis tersebut. Fenomena ini terutama tampak pada generasi muda anak bangsa yang enggan makan di pinggiran jalan, karena mereka gengsi, dan jika makan di tempat cepat saji mereka merasa bangga karena mampu makan di sana.

Dampak yang dihasilkan, meski tidak instan, adalah penjual makanan kelontongan menjadi sepi pembeli dan mempengaruhi perekonomian mereka. Serta apa yang telah dilakukan oleh sebagian masyarakat makan di tempat kapitalis malah menjadi menggendutkan usaha mereka.

Tidak hanya itu, banyak sekali bidang lainnya yang telah berhasil digeser dengan kedatangan produk kapitalis. Meski usaha mereka dapat menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, tetapi dampak negatif dan kerugian yang ditanggung lebih banyak. Karena pengaruh perkembangan zamanlah, pola kehidupan manusia menjadi berubah. Terdapat sebuah pergeseran nilai di situ, yang semula alamiah menjadi instan. Manusia lebih menyukai hal yang bersifat instan.

Tidak sampai di situ saja, teknologi gadget juga memberikan kontribusi signifikan untuk menjadikan manusia cenderung hidup konsumtif, karena di dalamnya terdapat banyak fitur yang mendukung gaya hidup konsumtif masyarakat, seperti jasa transportasi online, makanan online, belanja online dan lain sebagainya. Seseorang tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Sambil tiduran dan kita cukup membuka gadget, membuka aplikasi di smartphone yang sudah di sediakan, kemudian memilih dan membeli semua yang diinginkan secara online. Barang yang kita inginkan akan diantar ke rumah kita oleh petugas jasa kirim barang. Hal inilah yang menyebabkan manusia tidak menginginkan kehidupan yang repot dan rumit. Karena semua aspek dalam hidupnya dimanjakan oleh teknologi.

Kemudian dari banyak fenomena yang di uraikan di atas, muncul sebuah pertanyaan apakah kita bisa hidup terlepas dari produk kapitalis? Yang mana semua produk yang dihasilkannya adalah alat pembantu kehidupan manusia menjadi lebih efektif dan efisien dan bahagia menurut mereka. Jawaban dari penulis adalah bisa. Karena kehidupan manusia yang bersifat dinamis, pasti manusia menginginkan sebuah kehidupan yang lebih baik lagi dan baik lagi. Ada beberapa strategi untuk mengubah realitas sosial masyarakat modern yang mana identik dengan kehidupan fiksi dan penuh dengan sandiwara kapitalisme, dan untuk berada pada kehidupan yang sebenarnya yaitu dengan menanamkan ideologi, pemahaman, dan konsep untuk menyadarkan manusia dari cengkeraman kehidupan kapitalis, seperti ajakan agar kembali hidup pada kehidupan alami, agar manusia bisa lebih menikmati kehidupan yang sesungguhnya, tidak hidup dalam sandiwara dan penuh image. Dengan strategi seperti ini, manusia bukan tidak mungkin sedikit demi sedikit akan mampu keluar dari belenggu gaya hidup konsumtif.

Bahan Bacaan:

Martono, Nanang, Sosiologi Perubahan Sosial, 2018, Depok : Rajawali Pers.

Siti Nur Asia
Penulis: Siti Nur Asia
Tentang Saya
Mahasiswi Prodi Sosiologi FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya. Follow akun IG penulis: @Shasia_sha