Dialektika Cinta dan Spiritualitas (Menemukan Sintesis dalam Kontradiksi Cinta)

Forming Love(Algeria) - Sumber. PikrepoForming Love(Algeria) - Sumber. PikrepoBicara soal dielektika tentu tidak lepas dari Hegel, dialektika selalu diasosiasikan dengan Hegel. Dimana dalam teorinya, dinyatakan, bahwa, dunia terus bergerak secara dialektis menuju kesempurnaan. Yakni bergerak dari: Tesis, Anti Tesis, dan Sintesis. Maksudnya apa yang tampak pada diri kita saat ini dan kondisi apa pun yang kita alami saat ini bukanlah sesuatu yang selesai, melainkan terus mengalami dinamika dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik, yakni kesempurnaan.

Teori ini (baca: Dialektika Hegel), terlepas dari segala kerancuanya, memberikan kita optimisme dalam memandang dunia, utamanya masa depan. Karena intensitas interaksi dialektis kita dengan Alam, baik interaksi dengan sesama manusia, hewan dan tumbuhan kesemuanya adalah modalitas untuk sampai pada kesempurnaan. Tapi kesempurnaan itu tidaklah dengan serta merta bisa dicapai tanpa melalui kontradiksi-kontradiksi/konflik-konflik internal dalam kehidupan kita, atau kalau kita gunakan bahasa teologi, "tidaklah beriman seseorang kecuali akan diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan". Jadi cobaan itu adalah awal menuju keimanan (dalam makna teologi), atau konflik internal dalam relasi kemanusiaan adalah syarat gerak sejarah menuju kesempurnaan (dalam makna filosofis).

Jadi gerak dialektis, yakni konflik-konflik dan ujian-ujian yang kita alami dalam perjalanan kehidupan kita, janganlah dilihat sebagai keberakhiran-apalagi membuat kita jadi pesimis, karena ujian-ujian itulah yang akan mengantarkan seluruh potensialitas kemanusiaan kita sampai pada kesempurnaan atau kebenaran hakiki.

Oleh karena itu, penting kiranya bagi manusia menggunakan seluruh daya rasionalitasnya untuk membaca kehendak sejarah universal (Roh Absolut). Dalam artian, manusia dengan segenap refleksi rasionalnya mampu menyesuaikan kehendak-kehendak subjektif dirinya dengan kehendak absolut manusia. Yakni individu (tesis), dengan kehendak-kehendak subjektif manusia-manusia (anti tesis), harus diterjemahkan dan ditransformasikan ke dalam kehendak bersama/Umum/Absolut (Sintesis).

Demikian dalam membangun relasi cinta, juga tidak lepas dari kontradiksi dua jiwa yang hendak menyatu. Tentu dua insan yang berbeda (pria dan wanita), masing-masing membawa ide-ide atau kehendak-kehendak cinta yang saling berlawanan dan bertentangan, namun di atas semua itu tentu ada kehendak bersama (umum) yang ingin dicapai, yakni membawa relasi dialektis cinta itu pada tujuan hakiki, yakni KEBAHAGIAAN.

Lalu pertanyaannya, bagaimana caranya sampai pada tujuan hakiki cinta dalam makna dialektis? Yah, tentu dengan melepas segala ego (tesis), dan mencoba menegosiasikan segala kehendak cinta masing-masing (anti tesis), untuk menemukan kehendak cinta yang diinginkan secara bersama-sama (Sintesis). Pada tahapan inilah perjuangan cinta dibutuhkan untuk mencapai sintesis CINTA.

Oleh karena kontradiksi-kotradiksi atau konflik-konflik cinta adalah sebuah realitas yang senantiasa mengada dalam kehidupan para pecinta, misalnya: penolakan-penolakan dalam kehendak cinta, termasuk konflik-konflik cinta dengan pasangan, janganlah dilihat sebagai kondisi yang statis apalagi memberikan respon negatif, karena itu adalah kontradiksi cinta yang dinamis yang hendak menyempurna oleh dorongan energi Roh Absolut. Tentu dalam makna dialektis.

Maka jangan berhenti berjuang mendapatkan cinta anda, dan jangan berhenti memperbaiki hubungan cinta anda. Cukup siapkan dan pantaskan diri anda sebagai prasyarat dialektis bagi Roh Absolut untuk mengamini dan mewujudkan kehendak cinta anda. Dengan begitu Roh Absolut akan mengantarkan anda pada masa depan cinta, yakni cinta yang membahagiakan penduduk bumi dan diberkahi penduduk langit. Itulah masa depan cinta dan spiritualitas cinta.

Teori Thaba'i Al-Umran Ibnu Khaldun

Bust of Ibn Khaldoun (Algeria) - Sumber. WikipediaBust of Ibn Khaldoun (Algeria) - Sumber. WikipediaTeori thaba’i al-umran pertama kali dicetuskan oleh Ibnu Khaldun. Siapa yang tak mengenal sosok Ibnu Khaldun? Ibnu Khaldun bukan hanya seorang filsuf, melainkan juga sosiolog, politikus dan ahli sejarah. Orang-orang beranggapan bahwa Ibnu Khaldun merupakan perintis ilmu sosial dan orang pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum kemasyarakatan. Menurutnya, sosiologi merupakan sarana untuk memahami sejarah dan kondisi sosial masyarakat pada suatu generasi, proses perubahan dalam suatu masyarakat, faktor dan pengaruhnya dalam peta peradaban bangsa.

Konsep Pengalaman dan Ekspresi Keagamaan dan Relevansinya dalam Studi Hadits

1. Konsep Pengalaman agama

Pernahkah kalian mendengar kata pengalaman? Berbicara tentang pengalaman berarti berbicara tentang manusia sebagai pelaku sebuah pengalaman keagamaan tersebut. Menurut Joachim Wach “pengalaman keagamaan adalah aspek batiniah dari saling hubungan antara manusia dan fikirannya dengan Tuhan” (Pujiastuti,2017:65). Sama juga halnya dengan pendapat Wilfred Cantwell yang mengatakan bahwa “kemajuan mempelajari agama akan diperoleh jika kita dapat mengesampingkan hakikat agama dan lebih fokus pada proses perkembangannya yang kontemporer” (Wach,1989:39). Pengalaman keagamaan adalah bentuk dari aktivitas manusia untuk menghadap Tuhannya.

Konsep tentang Agama dan Relevansinya terhadap Studi Hadits

Definisi Agama Dalam Sosiologi

Agama merupakan suatu keyakinan yang muncul dari diri setiap individu yang kemudian disepakati bersama sebagai suatu kepercayaan masyarakat. Keyakinan itu muncul karena manusia memerlukan tempat sandaran dalam menjalani segala aktifitas hidupnya. Karena selain merupakan makhluk sosial, manusia juga merupakan makhluk religi. Keyakinan di sini bukanlah semata-mata hanya meyakini tentang keberadaan Tuhan, tapi keyakinan terhadap segala sesuatu. Bahkan orang atheis juga mempunyai keyakinan meskipun tidak meyakini adanya Tuhan.

Konsep Pengalaman dan Ekspresi Keagamaan dalam Ilmu Sosial dan Relevansinya dalam Studi Hadis

Agama adalah perbuatan manusia yang paling mulia dalam kaitannya dengan Tuhan Maha Pencipta, kepada-Nya lah manusia memberikan kepercayaan dan keterikatan yang sesungguhnya (Joachim Wach, 1955). Keagamaan sudah menjadi bagian integral dari kebudayaan manusia sejak beribu ribu tahun yang lalu.

Teori Tindakan dan Relevansinya bagi Studi Hadis

Seseorang atau sekelompok orang berperilaku dan bertindak berdasarkan pemahaman dan pengalaman orang tersebut yang didasarkan berbagai macam alasan yang mereka yakini, seperti mereka bertindak dikarenakan oleh kekecewaan dengan kondisi negara, kekecewaan terhadap aturan yang ada, atau hal-hal yang tidak sependapat dengan pandangannya. Akan tetapi tindakan itu tidak hanya respon terhadap hal yang negatif tetapi juga respon dari hal yang positif yang menghasilkan tindakan positif atau respon dari hal yang negatif yang menghasilkan tindakan positif.

Hidup Berdialektika Menurut Peter L Berger

Peter L. Berger - Sumber. WikipediaPeter L. Berger - Sumber. WikipediaOrganisme berubah dan berkembang, bentuk dan perilakunya tidak konstan, mereka berubah sebagai respons terhadap lingkungan. Jenis-jenis pada satu waktu berlimpah dan dominan digantikan oleh jenis-jenis baru yang pada gilirannya menjadi dominan, dan seterusnya. Masyarakat adalah produk manusia, dan manusia adalah produk masyarakat. Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi,  sebagaimana kenyataan obyektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (Berger, 1990). Maka sejatinya manusia itu adalah hasil dari lingkungannya, dan begitupun sebaliknya.

Tentang Kami

Rumah Sosiologi adalah komunitas independen tempat nongkrong para pecinta sosiologi seluruh Indonesia. Jangan lupa follow akun kami untuk mendapat update terbaru: