Gaya Hidup Komunitas Cosplay Jepang Di Surabaya

Penelitian yang ditulis oleh Iftitakhul Laili Maghfiroh, Mahasiswi Prodi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Ampel (2017) ini sangat menarik untuk disimak. Iftita memaparkan gaya hidup cosplayer di Surabaya dengan mewawancarai beberapa informan yang memiliki hobby cosplay. Sebagian mereka adalah mahasiswa dari berabgai perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi Islam. Berikut ini pemaparan peneliti dalam abstrak penelitiannya (dengan editing seperlunya):

ABSTRAK

Gaya hidup menjadi satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat modern. Salah satu yang amat menarik dikaji adalah gaya hidup cosplayer di Surabaya. Cosplay sebagai budaya baru masyarakat modern khususnya kaum muda di Surabaya, muncul dari kegemaran masyarakat terhadap tontonan dan tayangan anime, manga, game, manhwa, tokusatsu, atau aplikasi dan hal-hal tentang Jepang (jejepangan) lainnya, yang cenderung berlebihan dan irasional.

Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penggalian data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teori yang dijadikan alat analisis gaya hidup komunitas cosplay adalah gagasan Jean Baudrillard tentang hiperrealitas dan Kontrusi Sosial Peter L. Berger.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa gaya hidup masyarakat cosplay – meliputi cosplayer, wibu, otaku, kameko dan wota – sangat irasional. Irasionalitas gaya hidupnya terletak pada kegandrungan yang sangat berlebihan akan segala sesuatu yang berbau jejepangan, tanpa memedulikan nilai kegunaan dan nilai kebutuhan demi memenuhi kepuasan yang sama sekali tiada artinya. Juga pada kebiasaannya mencintai jejepangan dengan amat keterlaluan, sehingga menganggap tidak ada sesuatu apapun yang menandingi dan melebihi apa yang telah dihasilkan oleh Jepang.

Sikap demikian muncul atas kontruksi tayangan-tayangan animasi Jepang sebagai sebuah simulasi yang akhirnya dipahami menjadi realitas obyektif. Realitas subyektif yang dipahami secara obyektif oleh masyarakat cosplay direalisasikan dalam bentuk tindakan meniru kostum, aksesori dan gaya hidup karakter dalam anime dan sebagainya. Tindakan tersebut selanjutnya menjadi kegiatan yang terinstitusionalisasi dalam diri seorang cosplayer.

Ingin baca secara utuh, buka saja di sini http://digilib.uinsby.ac.id/15709/

Penulis: Iftitakhul laili maghfiroh
Tentang Saya